Refl: Apakah partai politik tidak terkait korupsi, jika hasil panen korupsi 
disumbangkan untuk kas partai? 


http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/05/09/ArticleHtmls/Soal-Korupsi-Partai-Kuncinya-09052012003018.shtml?Mode=0

      Soal Korupsi, Partai Kuncinya  
     
      JAKARTA  

             
            
     
     
        
              
            
     

     
"Kekuasaan cende rung untuk korup."

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Ganjar Pranowo, mengatakan partai politik 
harus berperan aktif memupus budaya korupsi di DPR. “Sebagai lembaga yang 
melahirkan politikus di DPR, partai harus punya rumusan yang tegas terhadap 
upaya melawan korupsi,“ kata Ganjar kemarin. 
Dia mengakui perilaku korupsi di lingkungan DPR sangat mungkin terjadi. “Semua 
yang punya kewenangan, muncul potensi korupsi,“ ujar Ganjar. Hal ini karena 
banyaknya kewenangan dan akses yang dimiliki anggota Dewan. Namun, kata dia, 
korupsi ini bisa saja terjadi di hampir semua lembaga negara. 

Maraknya kasus korupsi yang terjadi di DPR, menurut Ganjar, disebabkan oleh dua 
faktor. Pertama, rendahnya integritas orang-orang yang duduk di kursi 
kekuasaan. 

Kedua, lemahnya penegakan hukum. “Aji mumpung, karena memang kekuasaan itu 
cenderung untuk korup. Korupsi itu tidak kenal partai,“ katanya. Hal tersebut 
diperparah dengan belum ditemukannya pola pemberantasan korupsi yang paling 
tepat untuk diterapkan. 

Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada, Oce Madril, 
mengatakan maraknya korupsi bukan berasal dari gagalnya sistem pendidikan. 
Menurut dia, masalah korupsi terjadi karena seseorang tidak bisa menahan godaan 
ketika masuk ke lingkaran kekuasaan, baik legislatif maupun eksekutif. 

“Lulusan pesantren saja kalau masuk pemerintahan bisa saja jadi koruptor. Jadi 
tidak ada kaitannya dengan alumni mana,“ kata Oce kepada Tempo kemarin. 

Hal itu disampaikannya menanggapi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie, 
yang melontarkan pernyataan tentang orang-orang pintar yang menjadi koruptor. 

Para koruptor itu, menurut Marzuki, merupakan produk perguruan tinggi negeri 
terkemuka di Indonesia, termasuk anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, 
Himpunan Mahasiswa Islam, serta alumni Universitas Indonesia dan Universitas 
Gadjah Mada. Para pengajar juga banyak yang hanya memikirkan proyek sehingga 
membuat sikap kritis mereka tumpul. 

Pengamat politik dari UGM, Ary Dwipayana, menuturkan DPR dan partai politik 
selama ini justru menjadi bagian utama dari kasus korupsi. Penyelewengan para 
wakil rakyat itu bisa terjadi karena tradisi kompetisi politik Indonesia yang 
menuntut biaya mahal. 

“Uang menjadi alat utama merengkuh kekuasaan sehingga uang pula yang dikejar 
saat berkuasa.“ Peneliti Indonesia Corruption Watch, Donald Fariz, mengatakan 
korupsi di lembaga legislatif sangat mungkin terjadi karena besarnya kewenangan 
yang dimiliki. 

Anggota DPR sangat rentan terhadap korupsi dan terlibat jual-beli anggaran, 
pemilihan pejabat publik, ataupun penyusunan produk legislatif lainnya. 
“Penyusunan undang-undang juga bisa menguntungkan kelompok tertentu,“ katanya. 

Masyarakat, menurut Donald, menangkap citra negatif para politikus Senayan 
karena memang terbukti banyak terlibat dalam berbagai kasus korupsi. Apalagi 
belakangan juga muncul kasus korupsi yang dilakukan secara terstruktur melalui 
mekanisme penganggaran. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh mengatakan kebanyakan produk kampus 
menjadi nakal setelah lulus kuliah. “Bisa jadi perguruan tingginya sudah 
mempersiapkan dengan baik, tapi setelah keluar kan enggak bisa lagi 
mengendalikan,“ katanya kemarin.

Demikian pula, kata dia, organisasi kepemudaan ataupun organisasi politik tidak 
bisa mengendalikan sepenuhnya para anggotanya setelah lulus agar tidak menjadi 
koruptor. “Yang terpenting, mari kita sama-sama membenahi keadaan yang ada,“ 
kata Nuh.

IRA GUSLINA SUFA | RAFIKA AULIA | ANGGA SUK MA WIJAYA | ISTMAN MP | ANANDA 
BADUDU | AGUSSUP 

     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke