I.N.S.I.D.E (Pulau Kecil Di Kolam Besar)

http://endyonisius.blogspot.com/2012/05/inside-pulau-kecil-di-kolam-besar.html

inside .. the doors are sealed to love
inside .. my heart is sleeping
inside .. the fingers of my glove
inside .. the bones of my right hand
inside .. it's colder than the stars

Dalam beberapa hari terakhir, aku sering mendapat telpon dari
seorang sahabat, kebetulan pernah menjadi salah satu stafku.
Seorang pekerja ulet dan temperamental, keras kepala serta
memiliki keangkuhan tipikal bergelar Strata Hukum, namun loyal
dan diistilahkannya sendiri, "militan". Saat pertama ia menghadap
sbg dampak mutasi, reputasinya sudah santer kudengar sbg sosok
bermasalah. Maka ia duduk sambil menatap tajam, kuingat kalimat
pertamanya adalah, "Saya sudah mempelajari bapak dari beberapa
sumber, semoga kita bisa bekerja sama dalam suasana baru".
Halaaah .. salah satu beban dari amanat tugas nih, pembinaan,
dimana separuh dari "pasukanku" yg berjumlah 20an telah berusia
lebih tua dariku termasuk dia. Dalam beberapa minggu bertugas,
kudengar ia pernah berkomentar di kantin, "Jika ibarat pernah
kerja di salon murah bertarif lima ribuan, sekarang aku punya
bangku sendiri di salon sekelas Rudy". Entah apa urusannya dgn
salon dan legenda Rudy sang piƱata rambut mengingat tupoksi kerja
jauh dari wangi dan kemayu, justru erat dgn perundangan berikut
pengawasan penegakkan hukum di lapangan termasuk ragam resiko.

Yang pasti ia selalu muncul di kantor sejak pagi, bahkan bosku
sering kaget mendapati ia masih sibuk di ruangan hingga maghrib.
Mengingat selama ini ia hanya muncul beberapa hari dalam seminggu,
gak lebih dua jam per hari. Gayanya masih keras kepala walau gak
terlalu mengumbar kapasitas hukum, maklumlah ia kini punya bos baru
dgn level strata termasuk pemahaman hukum di atasnya yg justru jadi
aset kebanggaannya. Seperti beberapa bulan kemudian, ia melapor
telah "menggertak" salah satu pejabat di kabupaten yg pernah
membicarakanku secara kurang pantas menurutnya. Berdampak aku
perlu menelpon yg bersangkutan secara pribadi meski tindakan staf
kutegaskan sudah benar. Lalu aku memberikan mainan baru, mengurus
kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) perikanan se Kalbar
sekaligus tantangan ekstra untuk membawa salah satu Pokmaswas
dari kabupaten ke level evaluasi nasional. Hasilnya, juara pertama
nasional yg tak pernah terbayangkan selama ini, serta menimbulkan
dampak di luar dugaan yakni kecemburuan terselubung di ruanganku.
Maka ketika ia duduk kembali di hadapanku sembari masih menatap
tajam, salah satu kalimatnya adalah, "Alasan saya bekerja dan ada
di kantor ini hanya karena dan untuk bapak, semoga tidak menjadi
beban dan apapun yg terjadi saya akan selalu menjaga bapak!".
Beberapa minggu kemudian, atau nyaris setahun menjadi stafku,
datang sepucuk surat dari Badan Kepegawaian Daerah yg menulis
namanya untuk dipindahkan dari kantorku.

Aku ingat sewaktu usia 12 tahunan dulu, ada kolam besar di
belakang rumah. Terasa besar seperti danau mini bagi ukuranku
saat itu, kedalamannya lebih tinggi dari badanku saat berenang
yg berarti 2 meteran. Di kolam itulah jadi ajang rendezvous
sepulang sekolah, kebanyakan para anak tetangga sekampung yakni
pencari rumput bagi kerbau yg bahkan sering memandikan piaraannya
di tepi kolam. Maka akupun paham bahwa kerbau ternyata suka
berendam bahkan berenang bareng hilir mudik tanpa tenggelam.
Tentu salah satu sahabat sekelasku ikut gabung setelah nyaris tiap
sore bersepeda dan berujung nyebur bareng di kolam, namanya Ganis
alias Arie Ganisha Putra. Hal menarik dari kolam adalah sebuah
gundukkan tanah menyerupai pulau di tengahnya, persis Samosir
di tengah Toba skala mini. Tempat favoritku bareng Ganis mendaki
pulau lantas berbaring telanjang dada berbantal lengan beralas
rumput, menatap langit dan ngalor-ngidul tanpa henti nyaris tiap
sore. Namun sesungguhnya, aku lebih senang sendirian setelah
berenang lantas menaiki pulau untuk rebahan sembari diam saja.
Aku memperoleh teritorial berikut kebebasan nan sentosa, hanya
ditemani kesendirian namun begitu mewah. Aku cukup berdialog dgn
diam, kolamnya tenang menyimak serta pulau itupun mengamini dalam
bisu. Segalanya hening tapi gk diam, aku sendiri tapi gk sepi.
Kami sering bertukar dialog termasuk membicarakan si Ganis yg
sering kencing di pulau itu, atau tergelak berupa angin yg
menghempas beberapa pohon kecil hingga menimbulkan riak
gelombang kolam. Sehingga aku mulai merasa, setidaknya
mendapatkan kedamaian, bahkan meyakini jika pulau itupun
menyukaiku. Mungkin ini yg disebut mutualisme, keyakinan
terhadap hakekat komunikasi.

Pulau kecil seukuran lapangan Badminton di tengah kolam besar,
di halaman belakang rumahku saat di Ketapang. Adalah sahabat
terbaik saat sendiri, bukan cuma tempat singgah setelah riang
berenang maupun pelampiasan gundah sepulang sekolah. Sejatinya
persahabatan, bukankah selalu ada untuk menemani termasuk menerima
betapapun konyolnya, bukan? Walau hanya membisu dan saling
berpelukan diam. Dengarkan saja si pulau mengisahkan tentang
gerimis semalam saat membasuh kolam, langit terang yg menyimpan
kehangatan saat kutiduri beralas lengan. Termasuk makna terbesar
yg pernah kudapat berupa rasa kehilangan, ketika aku harus pindah
rumah bahkan menuju pulau baru yg lebih besar serta menyeberang
samudera. Aku harus meninggalkan segala aset berharga berikut
ritual dan segala komunikasinya, walau semua kulakukan secara
diam-diam. Aku, pulau kecil dan kolam besar, telah terbiasa
hening tapi bukan pendiam, selalu sendiri tapi gk pernah sepi.
Aku yakin, kalaupun pulau kecil di kolam itu masih ada sekarang,
mereka akan tetap hening. Begitupun seandainya kelak aku berkunjung
ke Ketapang dan menemukan kolam berikut pulaunya, kami akan tetap
saling membisu berikut menjajagi perubahan. Namun yg selalu terus
kuingat, aku memang pernah teramat kehilangan saat itu pada
kolam berikut pulaunya. Kenangan dan perasaan yg semestinya
jauh lebih baik.

"Saya sedang tugas dinas ke Kementerian Dalam Negeri, berkat
segala dorongan dan keyakinan bapak. Saya semakin paham dgn cerita
tempohari mengenai ikan besar di kolam kecil, saya sedang merasakan
dan menjalaninya sekarang. Mohon maaf jika sempat membantah karena
merasa bapak hanya berniat menghibur, tetapi yg saya alami saat ini
seperti mimpi tak terbayangkan. Bapak telah menjadikan saya ikan
kecil di kolam besar, akan selalu menjadi motivasi untuk lebih baik
lagi. Sekali lagi maaf saya gak bisa telepon lama, maklum baru kali
ini bertugas resmi ke Jakarta. Oya pak, ada salam dari bos saya,
rupanya beliau teman baik bapak juga. Selamat malam pak", akupun
menutup selularku setelah membalaskan salamnya. Sebetulnya malam
ini perlu istirahat panjang setelah seharian menemani salah satu
Direktur dari Kementerian untuk bertemu seorang Bupati, dan besok
harus menyambut kunjungan kerja seorang Menteri. Tapi gak ada
salahnya mengabadikan salah satu kisah hari ini, demi kenangan
dan perasaan yg semestinya akan berdampak menjadi baik.
Semoga seterusnya ..

love me like a parasite,
love me like a dying sun
love me like a criminal,
love me like a man on the run

http://www.youtube.com/watch?v=6qUvCjaMilk

-duke-



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke