http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/05/13/ArticleHtmls/Fasilitas-Komunikasi-Udara-Belum-Mumpuni-13052012003012.shtml?Mode=0
Fasilitas Komunikasi Udara Belum Mumpuni
JAKARTA
"Ada yang jual, tapi Indonesia belum beli."
Jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 RA-36801 buatan Rusia memberi pelajaran
bahwa banyak hal yang mesti diperbaiki dalam sistem penerbangan Indonesia.
Anggota Komisi Perhubungan Dewan Perwakilan Rakyat, M. Arwani Thomafi,
menyatakan salah satu yang memprihatinkan adalah belum canggihnya fasilitas
menara pengatur lalu lintas udara atau air traffic control (ATC).
Kekurangan lain ada pada sumber daya manusia yang ditempatkan pada bagian
ATC.“Indonesia masih harus mengejar ketertinggalan dari negara lain dalam hal
ini,“kata Arwani dalam diskusi “Tragedi Penerbangan Lagi“di Warung Daun,
Cikini, Jakarta, kemarin.
Menurut dia, ATC Indonesia belum memberikan layanan navigasi optimal. Ia
mencontohkan bandara Gorontalo, yang belum punya lift. Akibatnya, petugas ATC
bandara itu ha rus naik tangga empat lantai untuk mencapai ruang
kerjanya.Tentu, kata dia, ini mengganggu kinerja. Itulah sebabnya, ia
mengusulkan agar segera dibentuk badan navigasi sesuai amanat Undang-Undang
Tahun 2009 tentang Penerbangan. “Nantinya tak ada lagi istilah ATC kekurangan
SDM dan peralatan,”kata dia.
Buruknya fasilitas ATC juga diungkapkan oleh pilot senior Garuda Indonesia,
Jeffrey Adrian. Menurut dia, teknologi ATC Indonesia masih berstandar minimum.
Ada alat yang belum dimiliki ATC bandara di Indonesia. Salah satunya, kata dia,
alat yang bisa menunjukkan kondisi tempat pesawat ketika sedang terbang.
Menurut dia, alat ini bisa memperlancar komunikasi antara menara dan pilot.“Ada
yang jual, tapi Indonesia belum beli,”katanya.
Namun Jeffrey tidak mau menyatakan jatuhnya Sukhoi di Gunung Salak, Rabu lalu,
akibat tidak adanya alat itu. Kecelakaan, menurut dia, bisa dihindari jika
pilot menguasai medan. “Kalau peralatan canggihnya enggak ada, ya, diserahkan
ke pilot,” kata Jeffrey.
Namun ihwal buruknya sarana ATC ini dibantah oleh mantan General Manager Air
Traffic Service (ATS) Weda Yuwana. Ia menyangkal anggapan bahwa sistem
komunikasi udara di Indonesia tidak layak pakai.
“Itu tiga tahun lalu, mungkin. Sekarang sudah bagus dan tidak ada masalah,”
kata Weda kepada Tempo kemarin. Weda baru saja pensiun pada awal April lalu dan
kini belum ada penggantinya.
Dia menjelaskan, saat ini, sistem pada Jakarta Automatic Air Transport System
sudah diberlakukan secara berlapis.“Jadi, sudah dijamin tidak akan ada
masalah,” katanya. Selain infrastruktur, Weda menjelaskan bahwa sumber daya
manusia yang tersedia juga sudah memadai.“Sudah ideal, kemarin juga baru ada
penambahan personel,” ujar Weda. Ia menyatakan, kondisi ideal adalah ketika
satu orang staf ATC bisa melayani 14 sampai 15 pesawat dalam satu waktu.● ISMA
SAVITRI | M. ANDI PERDANA | ELLIZA H | SUNUDYANTORO
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/