Agama sebagai penuntun kehidupan memang seharusnya membumi. 
Membuka kesadaran tentang hubungan manusia / umat dengan semesta, 
dan bukan dengan cukong atau beking. 

Mengungkap pikir & rasa melalui kesenian akan membuat manusia 
belajar tentang harmoni serta memahami keindahannya. Tanpa 
keberagaman & perbedaan tak akan ada harmoni dan hidup menjadi 
gersang, membosankan, gahar. 

Hanya orang-orang macam SBY-lah yang bisa bernyanyi tapi tak 
pandai belajar. Ybs hanya pandai mematut di depan kamera televisi 
dunia saat konferensi perubahan iklim di Bali, tanpa memahami 
isinya. 

Terbukti, setelah itu tak pernah lagi ybs bicara soal lingkungan 
hidup. 


--- 

> SUATU malam, sehabis isya, sayupsayup suara lantunan gamelan Nyi 
> Laras Kendeng terdengar di sebuah joglo bernama Omah Kendeng yang 
> berada di tikungan ujung Dusun Ledok, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten 
> Pati, Jawa Tengah.
> 
> Sepintas tidak terlihat sebuah perhelatan tengah berlangsung, 
> karena tak ada penerangan yang me ncolok. Hanya lampu-lampu yang 
> memang sudah terpasang di beberapa bagian sudut Omah Kendeng.
> 
> Satu per satu orang-orang mulai berdatangan. Ada yang berjalan kaki,
> naik motor, atau secara rombongan dengan mengendarai mobil bak 
> terbuka. Mereka bersalaman lalu masuk ke joglo.
> 
> Dari dalam joglo, suara lirih nan pa rau seorang lelaki terdengar
> mendengungkan lagu Gugur Gunung, sebuah tembang yang menceritakan
> semangat gotong royong dengan tidak memandang status sosial dan 
> agama untuk bahu-membahu menyelesaikan persoalan atau pekerjaan.
> 
> Sejurus kemudian, suara lagu itu menjadi ramai, mirip paduan suara 
> yang merdu. 'Ayo kancakan ca ngayahi karyaning praja. Kene, kene, 
> gugur gunung tandang gawe. Sayuk rukun bebarengan ro kancane. Lila 
> lan legawa kanggo mulyaning Negara. Siji (loro) telu (papat) maju 
> papat papat. Diulungulungake mesthi enggal rampunge. Holobis kuntul 
> baris, holobis kuntul baris', begitulah lirik dari lagu Gugur 
> Gunung.
> 
> Di dalam Omah Kendeng yang ber ukuran kurang lebih 10x10 meter, 
> sudah banyak orang yang duduk melingkar. Dengan wajah lugu, mereka
> bercengkerama satu sama lain. Laiknya orang dusun, tak akan dijumpai
> pakaian jas dan dasi. Hanya kain sarung dan pakaian sehari-hari 
> yang mereka kenakan. Pun sebagian lainnya ada yang memakai pakaian 
> serbahitam, khas komunitas Sedulur Sikep.
> 
> Ternyata di malam itu (8/5), Selasa Pahing malam Rabu Pon 
> (penanggalan Jawa), sedang berlangsung sebuah tradisi Wungon Rebo 
> Pon, yang diadakan para tokoh masyarakat Pati. Salah satu 
> pesertanya ialah Gunretno, tokoh pemuda komunitas Sedulur Sikep 
> atau masyarakat Samin. 
>
> Ungkapkan dengan seni 
>
> Satu per satu masyarakat mengungkapkan perasaan mereka dengan 
> geguritan atau puisi dalam bahasa Jawa. Aziz Wisanggeni, 35, dan 
> Lena, 22, seniman dari Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia 
> (Lesbumi) Pati, mengungkapkan perasaan mereka tentang lingkungan 
> melalui geguritan berjudul Sedekah Bumi.
> 
> Aziz dan Lena ingin memprotes kesewenang-wenangan para penguasa 
> yang dengan kekuasaan itu melakukan apa saja tanpa memedulikan 
> ekosistem lingkungan, sehingga fungsi alam menjadi rusak, hutan 
> gundul, air habis dieksploitasi, dan sawah menjadi areal 
> pembangunan pabrik-pabrik yang tidak berpihak terhadap rakyat kecil.
> 
> Ya, dengan seni, warga mencoba mengolah rasa dan mengungkapkan 
> perasaan mereka tentang kekacauan yang sedang mereka alami, bahkan 
> hiruk pikuknya kondisi negara. Masyarakat resah, tambah Gunretno, 
> dan mereka mencoba mencari solusi melalui kearifan lokal untuk 
> menyelesaikan situasi krisis multidimensi yang terjadi.
> 
> Kebijakan-kebijakan pemerintah sudah tidak berpihak kepada rakyat 
> kecil dan sering mengeksploitasi lingkungan. Masyarakat sudah 
> terlalu hidup sulit, bertahan dari tekanan pemerintahan yang tak 
> kunjung usai. Menurut Gunretno, Wungon Rebo Pon diharapkan bisa 
> memberikan kesadaran konstruktif dalam konsep Tri Hita Kirana, yang 
> artinya hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, 
> dan manusia dengan alam.
> 
> Tak hanya orang dewasa, malam itu anak-anak dusun juga turut serta
> ngudoroso atau mengungkapkan permasalahan yang mereka hadapi dengan
> konstruksi pikir dan olah rasa.
> 
> Mereka juga membawakan sebuah tembang gambuh. Mereka ingin 
> menceritakan kehidupan me reka yang merasa cukup dengan apa yang 
> mereka dapatkan.
> 
> Urip neng gunung saben dino mangan sego jagung. Badan saras, ayem
> tenterem, sepenggal lirik tembang gambuh yang dibawakan anak-anak 
> dusun.
> 
> Markaban, seorang seniman ludruk, juga tak mau ketinggalan. Ia ikut
> andil dalam tradisi komunitas Sedulur Sikep, Wungon Rebo Pon.
> 
> Melalui uro-uro atau menyanyi untuk menghibur diri sendiri, Markaban
> mengutarakan isi hatinya bahwa dalam bekerja janganlah serakah,
> berbagilah dengan yang lain, dan jangan saling menyalahkan karena 
> sebuah perbedaan. Sebab, perbedaan itu indah. 
> 
> Bagi Markaban, melestarikan lingkungan dan alam semesta, seperti
> melestarikan Gunung Kendeng, ada kalanya memakai media seni, karena
> hidup tanpa seni tidaklah indah. (FU/M-1)
> 
> http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2...





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke