Yap. Karena itu pelajaran kesenian untuk anak-anak (di 
sekolah dll) mestinya dikembalikan ke fungsi semula, sebagai 
alat untuk mengenal nada, warna, bentuk, supaya terbiasa 
dengan keberagaman dan bagaimana keragaman itu membentuk 
harmoninya sendiri-sendiri. Di tahap berikut, biasanya, 
orang akan berkenalan dengan perkara spiritual dan 
keanekaragaman harmoni yang menghidupinya. 

Tanpa unsur spiritual, jangankan berpikir, baca tulisan pun 
bisanya cuma leterlek, tersurat. Contohnya si uplik. Dia 
mengira "Yahudi" itu cuma kata benda. Yaitu kumpulan orang atau 
bangsa yang menganut ajaran Yahudi atau, sederhananya lagi, 
berpaspor Israel. Padahal, di saat yang sama si uplik ngigo 
jadi "Belanda" walau paspornya Prancis. 

Buat dia jelas terlalu sukar untuk memahami bahwa "Yahudi" 
adalah juga kata sifat yang menggambarkan keculasan tiada tara. 
Buktinya, sifat ini toh tumbuh lebat juga dalam selongsong 
badannya yang peot dan bermerk "Prancis" walau tulang-belulangnya 
made in kampung Pisang Tangah.. 

--- "arra_s" <arra_s@...> wrote:

> akur Jeg, tanpa keberagaman & perbedaan dunia akan terasa gersang
> seni mempertajam panca indera untuk menikmati keindahan isi bumi..
> 
> indah nya bumi dan isinya
> di dalam nya ada 6912 bahasa
> mencakup 195 teritori yg disebut negara
> memiiki 21 macam agama dan kepercayaan, bahkan lebih
> diramaikan oleh 7 milyar mahluk bermana manusia
> selama hayat di kandung badan, manusia adalah seorang artist
> at least...  you are the artist of your life
> 
> bayangkan kalau isi dunia seragam, ngikutin model nya si Uplik
> satu saja sudah berisik banget, mana sering buang sampah di prol 
> lagi
> kalau ini terjadi, tiada satu pun seni 
> dapat membantu mengungkap keindahan nya
> untung tidak terjadi...
> 
> 
> --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
> 
> > Agama sebagai penuntun kehidupan memang seharusnya membumi. 
> > Membuka kesadaran tentang hubungan manusia / umat dengan semesta, 
> > dan bukan dengan cukong atau beking. 
> > 
> > Mengungkap pikir & rasa melalui kesenian akan membuat manusia 
> > belajar tentang harmoni serta memahami keindahannya. Tanpa 
> > keberagaman & perbedaan tak akan ada harmoni dan hidup menjadi 
> > gersang, membosankan, gahar. 
> > 
> > Hanya orang-orang macam SBY-lah yang bisa bernyanyi tapi tak 
> > pandai belajar. Ybs hanya pandai mematut di depan kamera televisi 
> > dunia saat konferensi perubahan iklim di Bali, tanpa memahami 
> > isinya. 
> > 
> > Terbukti, setelah itu tak pernah lagi ybs bicara soal lingkungan 
> > hidup. 
> > 
> > 
> > --- 
> > 
> > > SUATU malam, sehabis isya, sayupsayup suara lantunan gamelan 
> > > Nyi Laras Kendeng terdengar di sebuah joglo bernama Omah 
> > > Kendeng yang berada di tikungan ujung Dusun Ledok, Kecamatan 
> > > Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
> > > 
> > > Sepintas tidak terlihat sebuah perhelatan tengah berlangsung, 
> > > karena tak ada penerangan yang me ncolok. Hanya lampu-lampu  
> > > yang memang sudah terpasang di beberapa bagian sudut Omah 
> > > Kendeng.
> > > 
> > > Satu per satu orang-orang mulai berdatangan. Ada yang berjalan 
> > > kaki, naik motor, atau secara rombongan dengan mengendarai 
> > > mobil bak terbuka. Mereka bersalaman lalu masuk ke joglo.
> > > 
> > > Dari dalam joglo, suara lirih nan pa rau seorang lelaki 
> > > terdengar mendengungkan lagu Gugur Gunung, sebuah tembang yang 
> > > menceritakan semangat gotong royong dengan tidak memandang 
> > > status sosial dan agama untuk bahu-membahu menyelesaikan 
> > > persoalan atau pekerjaan.
> > > 
> > > Sejurus kemudian, suara lagu itu menjadi ramai, mirip paduan 
> > > suara yang merdu. 'Ayo kancakan ca ngayahi karyaning praja. 
> > > Kene, kene, gugur gunung tandang gawe. Sayuk rukun bebarengan 
> > > ro kancane. Lila lan legawa kanggo mulyaning Negara. Siji 
> > > (loro) telu (papat) maju papat papat. Diulungulungake mesthi 
> > > enggal rampunge. Holobis kuntul baris, holobis kuntul baris', 
> > > begitulah lirik dari lagu Gugur Gunung.
> > > 
> > > Di dalam Omah Kendeng yang ber ukuran kurang lebih 10x10 meter, 
> > > sudah banyak orang yang duduk melingkar. Dengan wajah lugu, 
> > > mereka bercengkerama satu sama lain. Laiknya orang dusun, tak 
> > > akan dijumpai pakaian jas dan dasi. Hanya kain sarung dan 
> > > pakaian sehari-hari yang mereka kenakan. Pun sebagian lainnya 
> > > ada yang memakai pakaian serbahitam, khas komunitas Sedulur 
> > > Sikep.
> > > 
> > > Ternyata di malam itu (8/5), Selasa Pahing malam Rabu Pon 
> > > (penanggalan Jawa), sedang berlangsung sebuah tradisi Wungon 
> > > Rebo Pon, yang diadakan para tokoh masyarakat Pati. Salah satu 
> > > pesertanya ialah Gunretno, tokoh pemuda komunitas Sedulur Sikep 
> > > atau masyarakat Samin. 
> > >
> > > Ungkapkan dengan seni 
> > >
> > > Satu per satu masyarakat mengungkapkan perasaan mereka dengan 
> > > geguritan atau puisi dalam bahasa Jawa. Aziz Wisanggeni, 35, 
> > > dan Lena, 22, seniman dari Lembaga Seniman Budayawan Muslimin 
> > > Indonesia (Lesbumi) Pati, mengungkapkan perasaan mereka tentang 
> > > lingkungan melalui geguritan berjudul Sedekah Bumi.
> > > 
> > > Aziz dan Lena ingin memprotes kesewenang-wenangan para penguasa 
> > > yang dengan kekuasaan itu melakukan apa saja tanpa memedulikan 
> > > ekosistem lingkungan, sehingga fungsi alam menjadi rusak, hutan 
> > > gundul, air habis dieksploitasi, dan sawah menjadi areal 
> > > pembangunan pabrik-pabrik yang tidak berpihak terhadap rakyat 
> > > kecil.
> > > 
> > > Ya, dengan seni, warga mencoba mengolah rasa dan mengungkapkan 
> > > perasaan mereka tentang kekacauan yang sedang mereka alami, 
> > > bahkan hiruk pikuknya kondisi negara. Masyarakat resah, tambah 
> > > Gunretno, dan mereka mencoba mencari solusi melalui kearifan 
> > > lokal untuk menyelesaikan situasi krisis multidimensi yang 
> > > terjadi.
> > > 
> > > Kebijakan-kebijakan pemerintah sudah tidak berpihak kepada 
> > > rakyat kecil dan sering mengeksploitasi lingkungan. Masyarakat 
> > > sudah terlalu hidup sulit, bertahan dari tekanan pemerintahan 
> > > yang tak kunjung usai. Menurut Gunretno, Wungon Rebo Pon 
> > > diharapkan bisa memberikan kesadaran konstruktif dalam konsep 
> > > Tri Hita Kirana, yang artinya hubungan manusia dengan Tuhannya, 
> > > manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.
> > > 
> > > Tak hanya orang dewasa, malam itu anak-anak dusun juga turut 
> > > serta ngudoroso atau mengungkapkan permasalahan yang mereka 
> > > hadapi dengan konstruksi pikir dan olah rasa.
> > > 
> > > Mereka juga membawakan sebuah tembang gambuh. Mereka ingin 
> > > menceritakan kehidupan me reka yang merasa cukup dengan apa 
> > > yang mereka dapatkan.
> > > 
> > > Urip neng gunung saben dino mangan sego jagung. Badan saras, 
> > > ayem tenterem, sepenggal lirik tembang gambuh yang dibawakan 
> > > anak-anak dusun.
> > > 
> > > Markaban, seorang seniman ludruk, juga tak mau ketinggalan. Ia 
> > > ikut andil dalam tradisi komunitas Sedulur Sikep, Wungon Rebo 
> > > Pon.
> > > 
> > > Melalui uro-uro atau menyanyi untuk menghibur diri sendiri, 
> > > Markaban mengutarakan isi hatinya bahwa dalam bekerja janganlah 
> > > serakah, berbagilah dengan yang lain, dan jangan saling 
> > > menyalahkan karena sebuah perbedaan. Sebab, perbedaan itu 
> > > indah. 
> > > 
> > > Bagi Markaban, melestarikan lingkungan dan alam semesta, seperti
> > > melestarikan Gunung Kendeng, ada kalanya memakai media seni, 
> > > karena hidup tanpa seni tidaklah indah. (FU/M-1)
> > > 
> > > http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2...
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke