Kecelakaan Sukhoi-100 Sudah Jadi Skandal Para Pejabat2nya !!!

Belum lagi kotak hitam Sukhoi ini ditemukan, pemerintah Russia sudah 
memberitakan secara global bahwa kesalahan bukan terletak dari teknis 
pesawatnya tapi akibat human error yang secara detail dikambing hitamkan kepada 
menara pengawas yang salah mengizinkan permintaan pilot untuk menurunkan 
ketinggian pewawat dari 10 ribu ke 6000 meter.  Pemerintah Russia meyakinkan 
dunia bahwa pesawat Sukhoi-100 sempurna tidak ada yang salah dan sudah 
diperiksa para teknisi sebelum berangkat tidak ada yang kurang.  Tidak lama 
setelah berita ini disebarkan keseluruh dunia, kembali berita susulan 
dikirimkan bahwa semua teknisi akan di interogasi dan akan dituntut sebagai 
tindakan kriminal.

Yaaa... jelas ya, beritanya itu menunjukkan pemerintah Russia panik, reputasi 
pabrik Sukhoi akan hancur, tapi pemerintah Russia tidak lupa memberitakan bahwa 
kecelakaan ini tidak ada kaitannya dengan reputasi Sukhoi yang katanya sudah 
menjual pesawatnya keseluruh dunia, katanya 50% pesawat jet didunia adalah 
bikinan Sukhoi !!!  Jelas ya, berita ini bohong, karena Sukhoi-100 yang nabrak 
gunung salak ini adalah produksinya yang pertama yang belum di uji coba dan di 
Indonesia inilah uji cobanya yang pertama dilakukan.  Pabrik Sukhoi memang 
pabrik pesawat tempur yang belum pernah memproduksi pesawat penumpang 
sebelumnya.

Sukhoi-100 ini adalah produknya yang pertama kali untuk pesawat penumpang.  
Jadi disini tercium adanya skandal, gimana mungkin pesawat yang belum dicoba 
bisa dibeli atau dijual kepada pemerintah RI dan juga negara2 berkembang.  Cina 
dan India termasuk yang katanya sudah pesan, padahal kedua negara ini sudah 
mampu membuat pesawat jet-nya sendiri, kemungkinannya kedua negara ini membeli 
dengan tujuan untuk mempelajari teknologinya dalam memperbaiki atau 
menyempurnakan produksi mereka sendiri, dan ini terbukti pesanan kedua negara 
ini cuma satu dua bukan pesan 14 pesawat seperti yang dilakukan RI ini.

Sudah merupakan aturan internasional, pesawat yang baru uji coba tidak boleh 
dipasarkan hingga keluarnya sertifikat terbang Internasional, tapi Sukhoi-100 
rupanya membonceng ketenaran produksi pesawat tempurnya ini dalam memasarkannya 
sebagai pesawat penumpang dimana pesawat tempur Sukhoi hanya di upgrade saja 
diberi tempat duduk dibelakangnya sebanyak 120 kursi padahal pesawat tempur ini 
sebelumnya hanya berkapasitas untuk 1-4 orang saja.

Berita yang menyatakan bahwa sebelum menabrak gunung salak, sang pilot meminta 
izin kepada menara pengawas untuk menurunkan ketinggian pesawat yang waktu itu 
10 ribu meter ke 6000 meter.  Ini aneh, dan belum pernah ada kejadian seperti 
itu pada semua penerbangan pesawat kecuali dalam situasi "emergency" dimana 
alat navigasi pesawat tidak berfungsi semestinya.

Secara analysis, kemungkinan yang terjadi adalah miscommunication antara pilot 
yang berbahasa Russia dan menara pengawas yang berbahasa Indonesia, keduanya 
sama2 kurang memahami bahasa Inggris, terutama pilot Russia rata2 tidak paham 
bahasa Inggris karena mereka merasa negara, bangsa, dan bahasanya superior 
didunia sejajar dengan Amerika.  Mereka tidak mau berbahasa Inggris, tapi dalam 
tugas sebagai pilot penerbangan antar negara tetap tidak bisa dihindari untuk 
mampu berbahasa Inggris sebagai satu2nya alat komunikasi dunia Internasional 
dibidang penerbangan ini.

Setiap pesawat pasti ada alat navigasi yang mampu menunjukkan posisi pesawatnya 
baik ketinggiannya, kecepatannya, maupun lokasi derajat meridian-nya.  Jadi 
tidak perlu sang pilot minta izin ke menara pengawas untuk mengubah ketinggian, 
mengubah kecepatan ataupun menanyakan meridian-nya.

Jadi yang mungkin terjadi yang sebenarnya adalah, kerusakan alat navigasi atau 
memang tidak ada alat navigasi dalam pesawat murah ini.  Jadi wajar kalo 
pesawat ini dipiloti oleh bekas pilot pesawat tempur yang sangat berpengalaman 
yang mampu menerbangkan pesawat tempurnya tanpa perlu alat navigasi.

Hanya dengan alasan itulah sang pilot merasa perlu menghubungi menara pengawas 
untuk menanyakan ketinggian berapa posisi pesawat yang dikendalikannya, 
kemudian menara pengawas memberi tahukan bahwa pesawat berada dalam ketinggian 
10 ribu meter.  Setelah mendapatkan informasi ini, sang pilot baru bisa 
menetapkan ketinggian berapa yang terbaik untuk saat ini.  Oleh karena alasan 
inilah kemudian sang pilot meminta kepada menara pengawas untuk memberi 
peringatan kepada sang pilot apabila ketinggian yang dicapai sudah mencapai 
6000 meter.

Tapi menara pengawas salah memahami bahasa Inggris yang serba patah2 ini, dia 
mengira sang pilot meminta izin untuk menurunkan pesawatnya sampai ketinggian 
6000 meter, dan pihak menara pengawas hanya mengiyakan saja.  Akibatnya, sampai 
nabrak gunung salak pun pihak menara pengawas tidak memberi peringatan, 
sehingga sang pilot sama sekali tidak tahu bahwa ketinggian pesawat sudah 
kurang dari 6000 meter karena belum ada peringatan dari menara pengawas yang 
dianggapnya sudah disetujui pihak menara pengawas.

Demikianlah, nantinyapun setelah kotak hitamnya berhasil dianalisis, tetap 
pihak Russia bisa memelintir "miscommunication" ini sebagai kesalahan pihak 
menara pengawasnya.

Yang jelas tidaklah lazim sebuah pesawat modern dimana pilotnya tidak bisa 
menentukan posisinya kecuali alat2 navigasinya mengalami kerusakan.

Jadi dari berita tentang komunikasi terakhir pilot dengan menara pengawas kita 
semua bisa menganalisanya dengan pasti, bahwa terjadi kesalahan komunikasi, 
karena tidak pernah terjadi pilot yang minta izin menara pengawas untuk 
menurunkan ketinggian, karena urusan ketinggian itu selalu merupakan 
pertimbangan pilot dalam menghadapi situasi pada saat itu dimana menara 
pengawas mana bisa tahu situasinya selain pilot itu sendiri.  Bimbingan menara 
pengawas hanya bisa dilakukan dalam situasi darurat dimana alat2 navigasi tidak 
berfungsi.

Jadi secara keseluruhan kejadian, niat Russia yang mengkambing hitamkan menara 
pesawat sudah jelas beriktikad tidak baik.  Agen2 Russia yang dikirim kemari 
tugasnya hanya membrainwash pihak SAR dan pejabat2 penting negara ini dengan 
bermacam berita yang menghindari tuntutan dengan cari2 kambing hitam yang tidak 
hitam.  Antara lain berita2 yang disebarkan SAR dan media adalah bahwa "Gunung 
Salak belum bisa ditaklukan", "Gunung Salak merupakan daerah rawan", "RI tidak 
akan membatalkan pembelian", "Kesalahan disebabkan Human Error", dan lain 
sebagainya yang prinsipnya jelas bahwa pabrik Sukhoi dan Russia tidak 
bertanggung jawab atas kecelakaan ini.

Padahal dari beritapun jelas diberitakan bahwa pilot pesawat telah memencet 
tombol pelontar kursi, dan pilot pesawat ditemukan tergantung disebuah pohon 
lengkap dengan parasut dan kursi pelontarnya jauh dari lokasi pesawat yang 
hancur ini.

Tapi oleh Media kemudian mengubah beritanya dan diberitakan bahwa parasut itu 
hanya merupakan survival kit padahal tidak pernah ada survival kit berupa 
parasut yang membuat team SAR pun ter-heran2.  Tapi memanipulasi berita inipun 
sia2 karena semua wartawan dan team SAR itu sendiri menyaksikan si pilot 
tergantung di parasutnya mati karena payungnya tidak bisa terbuka karena 
pesawat terlalu rendah.  Lagipula, pilot itu masih melekat dengan kursi 
pelontarnya.

Kesemua ini merupakan bukti2 yang meyakinkan tidak bisa dipalsukan, bahwa 
Sukhoi-100 adalah diproduksi oleh pabrik pesawat tempur yang belum pernah dan 
belum berpengalaman dalam membuat atau mendesign pesawat penumpang.

KESATU: Belum dicoba, belum ada sertifikat terbangnya, tapi sudah dipasarkan 
dan diuji cobakan terhadap pembelinya dengan menggunakan pilot pesawat tempur 
yang seharusnya dilarang mengendarai pesawat penumpang.

KEDUA: Pesawat yang jatuh ini tidak dilengkapi dengan alat navigasi yang bisa 
dibuktikan dari komunikasi sang pilot dengan menara pengawas.

KETIGA: Pesawat penumpang ini dilengkapi dengan kursi pelontar untuk 
menyelamatkan pilotnya saja, inipun jelas buktinya, pilot mati duduk dikursi 
pelontarnya lengkap dengan parasut yang belum terbuka.  Ini melanggar aturan 
Internasional dimana pesawat penumpang tidak harusnya dilengkapi kursi pelontar 
untuk menyelamatkan pilotnya saja, justru pilot harus yang terakhir 
diselamatkan setelah semua penumpangnya selamat.

KEEMPAT: Belum lagi kotak hitamnya ditemukan, namun pihak Russia sudah menjamin 
bahwa pesawatnya sempurna dan kesalahan terletak di menara pengawasnya.  
Pejabat2 Russia terbang ke Indonesia hanya untuk kasak kusuk saja dalam bagi2 
uang assuransi pesawat yang tidak ada assuransi penumpangnya.

Saya menganjurkan pembaca dan seluruh rakyat RI untuk bersatu padu menekan 
pemerintah RI untuk mengakhiri skandal pembelian ini dengan menuntut Russia 
membayar ganti rugi bahkan melalui pengadilan Internasional.

Kejadian ini menjadi pelajaran bagi anda semua, bahwa pemerintah tidak 
seharusnya dan tidak boleh jadi pengusaha seperti Russia komunis dimana 
pemerintahnya sebagai pemilik pabrik pesawat.  Akibatnya kalo kejadian seperti 
ini terjadi, maka vested pemerintah dan para pejabatnya bisa menyalah gunakan 
kekuasaan untuk merugikan customer pembeli produksinya.

Begitulah dengan Amerika, bahwa pemerintah Amerika bukanlah pengusaha minyak, 
juga bukan pemilik pabrik mobil, juga bukan pemilik pabrik pewawat, semua usaha 
itu murni milik swasta dimana pemerintah Amerika hanya menerima pajak 
pendapatan dari pabrik2 tsb.

Ny. Muslim binti Muskitawati.





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke