Konser Gaga Bisa Dipindahkan Ke Singapore Kalo Dilarang !!!
Seharusnya kalo Indonesia sudah betul2 mempraktekkan status Otonomi disetiap
propinsi, maka konser Lady Gaga yang dilarang di Jakarta bisa dipindahkan ke
kota Manado, Medan, Merauke atau ke kota Ambon. Tapi disinilah buktinya, bahwa
pusat pemerintahan RI di Jakarta masih sentralisme tidak pernah ada otonomi
daerah yang selama ini di-sebut2nya semua itu cuma pura2 saja untuk menipu luar
negeri untuk se-olah2 korupsi sudah tidak lagi sentralistik.
Jadi para pembeli tiket konser Lady Gaga ini bisa diperkirakan sebagian besar
adalah kelompok ekonomi kuat, pengusaha, dan orang2 Asing maupun para investor.
Lagi pula harga tiketnya pun bukanlah murah, tapi mahal sekali untuk ukuran
rata2 orang Indonesia.
Jadi seharusnya penyelenggara tidak perlu bargaining dengan kepolisian yang
sudah membatu melarangnya karena tujuan politis yang tidak mungkin
diterangkannya karena terkait korupsi sejumlah besar bantuan Amerika. Tawar
menawar mengurangi atraksi yang ingin dipertunjukkan hanyalah merugikan
penonton dan merusak reputasi si penyelenggara itu sendiri.
Jalan keluar yang terbaik memang bukan dengan membatalkan Konsernya melainkan
memindahkan tempat berlangsungnya konsernya ketempat yang lebih representative
tanpa perlu menaikkan harga tiketnya. Panitia bisa mencari sponsor untuk
mencarter pesawat terbang mengangkut para penonton ke Singapore, memindahkan
konser Lady Gaga ini ke Singapore. Harga borongan pesawat ke Singapore
tidaklah terlalu mahal apalagi kalo ada sponsor yang bisa ikut menanggung biaya
tsb. Memang, keuntungannya mungkin jadi mengecil bagi penyelenggaranya, tapi
nilai politisnya sangat besar bahkan pasti mencemongi SBY yang menjadi dalang
kesemuanya ini, apalagi kejadian ini terjadi menjelang pemilu, bahkan Bakrie
capres dari Golkar ini bersedia memanfaatkan moment ini untuk mencemongi SBY
agar bisa dijatuhkan sebelum pemilu.
Saya yakin terkait persaingan politik, akan banyak pengusaha yang berebut untuk
ikut jadi sponsor.
Tapi meskipun tanpa sponsor, kemungkinan besar lebih dari 50% penonton pun
bersedia membayar tiket dengan potongan separoh harga kalo hal ini benar2
ditawarkan. Apalagi kalo dicoba negosiasi dengan pemerintah Singapore ataupun
penyelenggara entertainment di Singapore untuk bekerja sama menyelenggarakan
konser ini sehingga uang masuk dari tiket penjual di Singapore pun bisa
meringankan penyelenggara disini.
Kalo kejadian ini bisa berlangsung, maka dijamin, SBY itu betul2 KO, karena
tidak bisa diragukan lagi semua ini adalah permainan SBY menjelang pemilu, jadi
bohong kalo ide pelarangan ini dari FPI yang jelas tdd manusia2 kelas rendahan
yang tidak mengenal apapun tentang konser sama sekali.
Buktinya, untuk penumpasan terorisme, Amerika memberi dana besar kepada Densus
88 melalui SBY kepada PolRI. Sedangkan pihak PolRI pun sudah dengan jelas
terbuka mengakui bahwa FPI itu merupakan alat mereka untuk menumpas hal2 yang
kalo dilakukan polisi akan beresiko dituduh sebagai pelanggaran HAM.
Jadi Polisi memerintahkan FPI dan MUI untuk melarang konser ini dengan alasan
agama Islamnya yang semua aturannya dikuasai oleh FPI dan MUI.
Sementara itu, kalo FPI dan MUI dapat perintah dari Polisi, sebaliknya, Polisi
mendapatkan perintah itu dari SBY, sedangkan SBY juga diperintah lagi dari
Amerika yang secara politis bertujuan merusak perekonomian RI sehingga investor
kabur dan RI tetap berada dibawah ketergantungan Amerika bahkan minyaknya pun
terpaksa diturunkan harganya. SBY itu sendiri enggak perlu tahu tujuan
Amerika, dia cukup menjalankan perintah Amerika yang sudah ngedrop dana yang
dia sendiri mengkorupsinya.
Bagi Amerika sendiri tidak mungkin membujuk atau memerintah investor atau
pengusaha Amerika untuk tidak berinvestasi di Indonesia karena pemerintah
Amerika mempunyai system kenegaraan yang tidak bisa melarang atau mengatur
keinginan swasta baik dinegaranya sendiri apalagi diluar negaranya.
Jadi kalo Amerika ingin mengusir pengusaha swastanya keluar dari Indonesia,
bukan dengan jalan pemberitahuan atau pelarangan, cukup dirusak ekonominya
melalui tangan2 yang diketahui umum sebagai "anti-Amerika" seperti FPI ini.
Jalur ini terlihat jelas dan tegas, tidak bisa ditutupi. Bahkan, krisis
ekonomi global sekarang inipun dicurigai sengaja diciptakan Amerika yang lebih
tahu cara2nya dan tipu2nya. Karena hanya Amerika saja yang paling ahli dalam
urusan meng-goyang2 ekonomi secara global, tidak ada lagi satupun negara lain
diluar Amerika yang punya kemampuan seperti ini.
Banyak kapitalis2 Amerika sendiri yang menggelapkan pajaknya dalam usaha2
mereka diluar Amerika, dan untuk mengemplang para pengusaha multinasional ini
secara langsung tentunya tidak bisa, maka satu2nya jalan adalah menciptakan
system seperti di Indonesia menggebah mereka dengan cara2 seperti begini. Yang
jadi korban memang RI, tapi apa lah artinya, dalam keadaan darurat pun Amerika
akan bisa bantu mengatasinya sehingga kembali dianggap sebagai pahlawan oleh
negara sahabat ini.
Tentunya terlalu komplex kalo secara detail saya jelaskan kesemuanya ini, cukup
kalo anda bisa secara kreatif membayangkan bagaimana jalur cara kerjanya
kesemuanya ini.
Amerika tidak mungkin bisa membantu negara manapun didunia kalo negara yang
dibantunya tidak sama sekali bermanfaat membantu kepentingan Amerika. Oleh
karena itu, bantuan Amerika tidak bisa memajukan negara manapun yang dibantunya
kalo negara itu sendiri tidak mampu memanfaatkan bantuan Amerika ini secara
benar. Korupsi inilah menjadi variable penting dalam menghancurkan ekonomi
sebuah negara tanpa perlu diajarkan bagaimana cara2 korupsinya.
Jadi kewajiban Amerika adalah mensejahterakan rakyatnya dengan mempertahankan
hegemoni kepentingannya dimuka bumi ini. Jalannya bisa dengan memberi bantuan
kepada negara2 lainnya ataupun aliansinya, tapi sebaliknya, memajukan negara
lain bukanlah kewajiban Amerika tapi kewajiban masing2 negaranya meskipun
dengan memanfaatkan bantuan Amerika. Itulah sebabnya, Amerika tidak
berkepentingan untuk tahu apakah bantuannya dikorupsi atau tidak, yang penting
kepentingannya dilaksanakan oleh para koruptor yang ketiban rezeki ini seperti
halnya SBY dan juga Polri yang mendapatkan sedikit cipratannya.
Terorisme memang harus ditumpas, tapi tidak perlu buru2 kalo masih bisa
dimanfaatkan untuk tujuan2 lain yang lebih menguntungkan. Bahkan kalopun
terorisme sudah tertumpas pun apa salahnya kalo kita rekrut para santri untuk
dibrainwash menjadi "suicide bomber" agar dropping dana penumpasan terorisme
bisa berlanjut. Biarkanlah mereka yang jadi korban, toh mereka bahagia bisa
masuk kesorga, tapi penumpasnya juga bahagia menikmati dropping dana bantuan
ini. Sedangkan yang jadi korban terorisme itu pun cukup pasrah sebagai takdir
yang sudah ditetapkan Allah.
Ny. Muslim binti Muskitawati.
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/