Hehehe.... ada yg bilang nih anggota DPR itu bukan koruptor. Ga percuma tuh jadi anjing buduk piaraan yg setia yg selalu ngebela majikannya.
>________________________________ > From: Teddy S. <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Monday, May 21, 2012 1:28 PM >Subject: [proletar] Re: Jangan Hormati Koruptor > > > > >Dasar idiot. >Coba lu periksa konteks kalimatnya lagi, itu tentang anggota DPR Dan bukannya >tentang koruptor. > >Itu mata apa baso? > >--- In [email protected], item abu <itemabu@...> wrote: >> >> Hehehe.... ada yg merasa kesindir krn ngehormatin koruptor. >> >> >> >> >> >________________________________ >> > From: Teddy S. <teddyr@...> >> >To: [email protected] >> >Sent: Monday, May 21, 2012 10:09 AM >> >Subject: [proletar] Re: Jangan Hormati Koruptor >> > >> > >> > >> >Duh dungunya. >> > >> >Waktu gua ikut konferensi di San Jose dulu, gua nginap di Fairmont Hotel, >> >tapi teman gua dari SD yang PhD salah satu universitas terbaik AS menjamu >> >gua bukan di rumahnya maupun di hotel tempat gua tinggal. Dia berserta >> >istrinya menjamu gua di sebuah restoran Asia langganan mereka. Sewaktu >> >teman gua yang salah satu boss BUMN datang ke Sydney tahun lalu dia gua >> >ajak makan ayam bakar Arab yang halal di El Jannah di mana dia bisa >> >menyaksikan kecantikan dan keindahan tubuh gadis-gadis Lebanon yang >> >merupakan para pelanggan ayam bakar tersebut. >> > >> >Siapa yang mau repot-repot di rumah yang kagak ada pembantunya? >> >Dasar dungu!!! >> > >> >--- In [email protected], item abu <itemabu@> wrote: >> >> >> >> Hehehe ... ada tuh yg bilang SBY levelnya tinggi padahal SBY itu kan >> >> biang dari segala koruptor. Ada jg yg bilang angggota DPR itu terhormat >> >> sampe bangga sekali bisa ngejamu anggota DPR di rumahnya. >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >________________________________ >> >> > From: Sunny <ambon@> >> >> >To: Undisclosed-Recipient@ >> >> >Sent: Monday, May 21, 2012 7:11 PM >> >> >Subject: [proletar] Jangan Hormati Koruptor >> >> > >> >> > >> >> > >> >> >Ref: Di NKRI agak sulit untuk tidak menghormati koruptor, karena pada >> >> >umumnya koruptor adalah para petinggi negara di semua lapangan dan >> >> >tingkat kekuasaan negara, baik di pusat kekuasaan sampai ke >> >> >cabang-cabang dan ranting-rantingya di pelosok. Kalau mereka tidak >> >> >dihormati dibilang tidak tahu adat timur, di sebelah timur belahan bumi >> >> >ada banyak negeri dan bangsa. Lebih celaka, kalau yang anti korupsi >> >> >diputarbalikan oleh propaganda rezim kleptokrasi menjadi anggota >> >> >organisasi GPK. >> >> > >> >> >http://www.analisadaily.com/news/read/2012/05/08/49604/jangan_hormati_koruptor/ >> >> > >> >> >Selasa, 08 Mei 2012 00:02 WIB >> >> >Jangan Hormati Koruptor >> >> >Oleh : Nur Huda. >> >> > >> >> >Mallam Nuhu Ribadu, Ketua Eksekutif Economic and Financial Crimes >> >> >Commission (EFCC) Nigeria, pernah berkata: "Kita punya masalah sama: >> >> >kita cenderung memberi hormat kepada orang yang justru tidak layak >> >> >dihormati. Kamu melecehkan dirimu, kamu melecehkan kebijakanmu. Kamu >> >> >punya kesempatan baik, tapi kamu membuat para pencuri itu tetap jadi >> >> >pencuri karena kecenderungan itu. Ini masalah tentang manusia, jadi >> >> >jangan ada toleransi bagi para koruptor itu. Bawa mereka ke depan hukum. >> >> >Di Nigeria, kami menangkap para koruptor kakap dan ini membuat "trickle >> >> >down effect" (Tempo, 16/9/2007). >> >> >Bagaimana dengan Indonesia? >> >> > >> >> >Bila melihat keadaan di Indonesia, maka bisa dikatakan bahwa hukum di >> >> >Indonesia memanjakan para koruptor. Dibandingkan kasus pidana lain, >> >> >pelaku pidana korupsi hanya mendapatkan vonis yang ringan. >> >> > >> >> >Terdakwa pidana korupsi yang mendapatkan hukuman yang berat baru satu >> >> >yang dijatuhi hukuman 20 tahun penjara, yakni Jaksa Urip Tri Gunawan. >> >> >Sedangkan yang lainnya, hukumannya jauh lebih ringan. Coba saja bila >> >> >melihat Artalyta Suryani yang menyogok Jaksa Urip hanya dihukum penjara >> >> >selama lima tahun. Ditambah lagi kejadian-kejadian kasus korupsi >> >> >setelahnya yang semakin menegaskan betapa lemahnya pengadilan negeri dan >> >> >betapa memanjanya badan hukum ini terhadap para koruptor. >> >> > >> >> >Lihatlah Gayus, yang resmi menjadi terpidana 20 Januari lalu. Sudah >> >> >puluhan kali keluar masuk rutan dan membuat kepala rutan dicopot dari >> >> >jabatan, sempat jalan-jalan pula ke Bali, China, Singapura, dan Malaysia >> >> >(dan entah ke mana lagi, yang belum terungkap). Untuk bisa beranjangsana >> >> >ke mancanegara, dia telah membuat paspor asli tapi palsu yang sempat >> >> >membuat sejumlah pihak terkait di negara ini seperti kebakaran jenggot. >> >> >Dalam salah satu sidang di pengadilan, Gayus bahkan sempat menawarkan >> >> >diri menjadi penasihat ahli di institusi pemberantasan korupsi negara >> >> >ini. Tak lama setelah vonis hakim dibacakan, dia menyempatkan diri >> >> >"bernyanyi" di depan pers seraya menyebut sejumlah pihak yang menurut >> >> >ikut bersalah. >> >> > >> >> >Kemudian, Soni Laksono. Seberapa besar harta yang masih dimiliki dan >> >> >yang sudah disita atau dibekukan negara. Yang jelas, untuk semua >> >> >kesalahan yang sudah diperbuat, dia hanya divonis tujuh tahun. Ringan >> >> >betul. Terlalu jauh beda dibandingkan dengan 20 tahun yang dituntut >> >> >jaksa. Sungguh aneh negara hukum ini. >> >> > >> >> >Lalu Jefferson Soleiman Montesqiue Rumajar, yang berstatus terdakwa >> >> >korupsi dan ditahan di LP Cipinang, toh masih dilantik sebagai Wali Kota >> >> >Tomohon di Kantor Menteri Dalam Negeri, 7 Januari lalu. Dari hotel >> >> >prodeo itu, dia dengan wibawa melantik sejumlah staf ahli di instansi >> >> >pemerintah daerah yang dipimpin. Sungguh kacau dan paradoks. Melantik >> >> >abdi negara di tempat dimana negara justru menjebloskan orang-orang yang >> >> >bersalah ke dalamnya. >> >> > >> >> >Muhammad Nazaruddin, terdakwa kasus suap Wisma Atlet, Muhammad hanya >> >> >dikenakan pasal gratifikasi. Padahal, masih ada aliran dana lain yang >> >> >lebih besar. Muhammad Yusuf, Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis >> >> >Transaksi Keuangan (PPATK) menyayangkan ketika mengetahui Nazaruddin >> >> >hanya didakwa menerima suap sebesar Rp4,6 miliar agar memenangkan PT >> >> >Duta Graha Indah dalam proyek Wisma Atlet SEA Games. Padahal, PPATK >> >> >menemukan sejumlah laporan transaksi keuangan mencurigakan senilai Rp10 >> >> >miliar dan laporan transaksi keuangan tunai senilai Rp100 miliar di >> >> >perusahaan yang terlibat dalam kasus tersebut (metrotvnews.com. >> >> >8/02/2012). >> >> > >> >> >Hal yang sama juga ketika tersangka kasus Wisma Atlit, Angelina Sondakh >> >> >atau Angie berkantor kembali ke gedung DPR RI setelah ditetapkan sebagai >> >> >tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal seharusnya >> >> >Angie sudah selayaknya ditahan. KPK hanya bisa berkomentar bahwa >> >> >berkasnya belum selesai dan pihak KPK hanya berdalih bahwa bila Angie >> >> >terburu-buru ditahan lalu lewat masa penahanannya, maka Angie bisa bebas >> >> >begitu saja. >> >> > >> >> >Ditambah lagi dengan banyaknya kasus lain yang terkesan lamban dan >> >> >memanja para koruptor seperti kasus Nunung Nurbaeti, dan kasus Bank >> >> >Century. >> >> > >> >> >Data Kementerian Dalam Negeri tahun 2012 sendiri mencatat terdapat 17 >> >> >dari 33 pimpinan daerah tingkat I atau Gubernur berstatus tersangka >> >> >korupsi. Kasus terakhir yang baru diselesaikan adalah rencana >> >> >penonaktifan Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamuddin, diduga terlibat >> >> >korupsi dana bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Rp23 miliar. >> >> > >> >> >Mungkin inilah ekses dari ketidaktegasan negara terhadap para koruptor >> >> >selama ini. Para koruptor benar-benar dimanja. Dan akibatnya banyak >> >> >pemimpin di pemerintahan cacat hukum dan cacat moral. Apa jadinya negeri >> >> >ini ke depan jika roda pemerintahan digerakkan mereka yang tak dapat >> >> >dipercaya? Atau mungkin semua ini terjadi karena sikap yang tak tepat >> >> >sekaligus tak arif terhadap koruptor. >> >> > >> >> >Negara ini memang terlalu memanja koruptor. Bayangkan, setiap menyambut >> >> >hari raya keagamaan dan hari ulang tahun proklamasi, negara selalu >> >> >memberikan remisi kepada mereka. Kalau "hadiah" potong masa tahanan itu >> >> >begitu mudah diberikan, lantas apa artinya korupsi digolongkan sebagai >> >> >kejahatan luar biasa (extra ordinary crime)? >> >> > >> >> >Kalau keadaan di Indonesia seperti ini, masihkah kita berharap korupsi >> >> >mampu diperangi sampai ke akar-akarnya? Masihkah koruptor terus dimanja? >> >> > >> >> >Pascal Couchepin, Konsuler Federal sekaligus Menteri Dalam Negeri Swiss, >> >> >pernah memberikan resep untuk jangan memberi respek kepada koruptor. >> >> >Swiss selama ini selalu dikategorikan Transparency International sebagai >> >> >negara yang "bersih dari korupsi". Frederic pernah mengatakan bahwa >> >> >negara yang minimalis dalam menciptakan mekanisme pemberantasan korupsi >> >> >menjadi penanda negara gagal membentuk peradabannya (Frederic, 2005). >> >> >Oleh karena itu, mari kita perbaharui bersama negara kita ini, agar >> >> >Indonesia tidak menghormati dan memanja koruptor lagi.*** >> >> > >> >> >Penulis adalah Direktur Langgar Budaya Agama dan Sosial (LABAS) Jawa >> >> >Tengah. >> >> > >> >> >[Non-text portions of this message have been removed] >> >> > >> >> > >> >> > >> >> > >> >> > >> >> >> >> [Non-text portions of this message have been removed] >> >> >> > >> > >> > >> > >> > >> >> [Non-text portions of this message have been removed] >> > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
