http://www.shnews.co/detile-2126-ancaman-krisis-nasionalisme-tki.html


Ancaman Krisis Nasionalisme TKI 
Ririn Handayani* | Selasa, 22 Mei 2012 - 15:46:27 WIB



(dok/ist)Animo masyarakat untuk bekerja di luar negeri justru meningkat. 
Ketidakhadiran peran negara secara nyata dan optimal dalam pemenuhan kebutuhan 
dasar warga negaranya adalah salah satu ancaman terbesar bagi nasionalisme. 

Ancaman ini akan semakin serius jika dalam kondisi yang lebih genting, negara 
tetap absen sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Dalam hal ini, tenaga 
kerja Indonesia atau TKI masuk dalam kelompok masyarakat yang rentan terhadap 
ancaman krisis nasionalisme. 

Sulitnya mencari kerja di Tanah Air sebagai akibat dari ketidakmampuan 
pemerintah menyediakan lapangan kerja yang mencukupi mendorong sejumlah orang 
lebih memilih bertaruh nasib di negeri orang. 

Banyak orang tua lebih mendukung putra-putrinya langsung bekerja sebagai TKI 
selepas lulus sekolah menengah atas (SMA) atau sederajat daripada melanjutkan 
studi ke perguruan tinggi. Biaya pendidikan yang mahal, waktu studi yang lama 
dan sempitnya lapangan kerja yang tersedia menjadi pertimbangan logis untuk 
mencari jalan pintas yang lebih prospektif. 

Bak bola salju yang terus bergulir, menjadi TKI kini tidak lagi didominasi 
tenaga kerja berpendidikan rendah menengah di sektor informal. Fakta ini kian 
memudarkan pengertian TKI yang selama ini dikonotasikan dengan pekerja kasar. 
Konotasi yang muncul karena sebanyak 80 persen TKI kita bekerja di sektor 
informal terutama sebagai pembantu rumah tangga (PRT). 

Minimnya ketersediaan lapangan kerja yang semakin diperparah oleh apresiasi 
yang rendah serta sistem kompetisi yang tidak fair menjadi dorongan kuat bagi 
masyarakat kelas menengah (lulusan perguruan tinggi) untuk lebih memilih 
bekerja di luar negeri. Banyak di antara mereka yang kemudian merasa eksistensi 
dan kontribusi mereka lebih dihargai di negeri orang daripada di negaranya 
sendiri. Ancaman terhadap nasionalisme semakin besar. 

Negara Absen 

Cerita kehidupan TKI di luar negeri sangat beragam. Dari yang tragis dan 
memilukan hingga sukses mendulang banyak modal dan pengetahuan di negeri orang. 
Baik yang menuai hujan emas maupun hujan batu, keduanya acapkali mempertanyakan 
kehadiran negara. Seperti yang dialami sejumlah saudara kita yang menjadi TKI 
di Arab Saudi. 

Banyak di antara mereka yang telantar di kolong jembatan, kasus yang tak 
kunjung selesai, penyiksaan dan pelecehan seksual hingga pulang hanya tinggal 
nama. Dalam kondisi seperti itu, peran negara yang seharusnya melindungi dan 
mengayomi warga negaranya di manapun berada sering kali tidak ada. Banyak yang 
harus mengurus masalahnya sendiri atau dengan bantuan dari pihak lain 
nonpemerintah. 

Mereka yang sukses juga mempertanyakan peran negara. Mengapa negara lain lebih 
memperhatikan, melindungi dan menghargai mereka daripada negaranya sendiri. 
Jangankan yang bekerja di sektor formal, TKI yang bekerja di sektor informal 
sebagai PRT saja sangat diperhatikan. 

Seperti para PRT di Hong Kong. Dengan gaji yang lumayan, sistem kerja yang 
manusiawi dan perlindungan hukum yang memadai dari pemerintah setempat, seorang 
PRT di sana bisa mengalami lompatan luar biasa tidak hanya secara ekonomi namun 
juga intelektual. 

Mereka bisa bermetamorfosis secara dinamis untuk mempersiapkan masa depan yang 
lebih sekembalinya ke Tanah Air. Beberapa PRT bisa nyambi sebagai penulis atau 
berbisnis kecil-kecilan bahkan melanjutkan studi hingga jenjang perguruan 
tinggi. Sebuah kemajuan yang luar biasa. Seperti langit dan bumi saja jika 
dibandingkan dengan PRT dan buruh di dalam negeri. Kehidupan para guru swasta 
kita pun kalah. Padahal, notabene sebagian mereka adalah para sarjana lulusan 
perguruan tinggi yang seharusnya memiliki kehidupan lebih layak. 

Ketika masyarakat mulai mempertanyakan peran negara, ini bisa menjadi indikasi 
adanya bibit-bibit krisis nasionalisme dari anak negeri sendiri. Pertanyaan 
demi pertanyaan yang tidak terjawab akan berakumulasi menjadi kekecewaan yang 
jika terus dibiarkan akan menjadi bom waktu yang bisa meledak meluluhlantakkan 
nasionalisme bangsa di kemudian hari. 

Hilangnya Aset Potensial 

Apa yang paling mengkhawatirkan jika krisis nasionalime TKI terutama pada 
kelompok kelas menengah terus berlanjut hingga semakin parah? Salah satu dampak 
terbesarnya adalah hilangnya aset potensial berupa sumber daya manusia yang 
berkualitas di negeri ini. 

Kondisi dalam negeri yang semakin tidak kondusif seperti lapangan kerja yang 
terbatas, sistem rekrutmen Pegawai Negeri Sipil (PNS) sarat dengan kecurangan, 
iklim kompetisi tidak fair dan apresiasi kerja rendah, menjadi faktor pendorong 
kalangan menengah profesional untuk lebih memilih bekerja dan berkarya di luar 
negeri. 

Sementara itu, permintaan TKI di luar negeri masih sangat tinggi. TKI menjadi 
salah satu favorit di sejumlah negara karena etos kerja TKI dikenal baik. 
Indonesia juga dikenal sebagai negara yang memiliki banyak tenaga ahli 
profesional di berbagai bidang ilmu. Banyak negara mengincar tenaga-tenaga 
profesional kita. 

Untuk itu, mereka bersedia membayar mahal dan memberikan fasilitas serta 
kesempatan seluas-luasnya bagi tenaga ahli kita untuk berkembang maksimal. 
Gayung bersambut. Kekecewaan terhadap pemerintah digunakan sebagai kesempatan 
baik oleh negara lain untuk mendapatkan tenaga-tenaga profesional yang 
disia-siakan oleh pemerintahnya sendiri. 

Semakin besarnya komposisi pekerja profesional dalam piramida TKI berarti 
semakin besar aset potensial kita yang hilang. Sebuah kerugian besar karena SDM 
seperti ini adalah salah satu modal utama untuk membangun negara. Aset yang 
seharusnya dipertahankan. 

Pemerintah seharusnya mengantisipasi agar ancaman terhadap krisis nasionalisme 
ini tidak benar-benar terjadi. Mengirimkan banyak TKI terutama tenaga 
profesional memang sangat menguntungkan. 

Selain mengurangi beban pemerintah untuk menyediakan lebih banyak lapangan 
kerja, mereka juga bisa membantu negara melalui remitansi dalam jumlah yang 
sangat signifikan. Meski demikian, menggalakkan pembangunan di dalam negeri 
adalah prioritas. Jika bukan anak negeri sendiri, siapa lagi yang akan 
membangun negeri ini. 

*Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu HI Universitas Airlangga. 

(Sinar Harapan) 



BERITA TERKAIT 


  a.. Pemuda Pengangguran Meningkat 
  b.. Polisi Malaysia Izinkan Jenazah TKI Bondowoso Diambil 
  c.. Rekruitmen TKI ke Luar Negeri Perlu Diperketat 
  d.. Investigasi TKI, Malaysia tahan tiga wartawan Indonesia.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke