http://www.shnews.co/detile-2217-nyanyian-dari-gudang-arang.html
Nyanyian dari Gudang Arang Fransisca Ria S | Kamis, 24 Mei 2012 - 14:37:36 WIB (SH/Fransisca Ria S)Tanah Papua tanah yang kaya surga kecil jatuh ke bumi. Tanah Papua tanah yang kaya surga kecil jatuh ke bumi … Hitam kulit keriting rambut Aku Papua Biar nanti langit terbelah Aku Papua Kata-kata tersebut adalah potongan lagu “Aku Papua” gubahan Franky Sahilatua. Akhir Maret lalu, di sebuah panti asuhan di kawasan Gudang Arang, Kota Merauke, saat lagu itu dinyanyikan 13 bocah berkulit hitam dan berambut keriting, saya tercekat. Dua belas dari bocah-bocah itu asli Papua. Hampir semua orang tua mereka meninggal karena HIV/AIDS. Namun beruntung bocah-bocah tersebut sehat dan tak terpapar virus HIV. Mereka menyanyikan lagu itu dengan sepenuh jiwa di bawah sinar bohlam lampu 16 watt di panti asuhan Amam Bekai Chevalier yang dikelola Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (Msc). Amam Bekai merupakan bahasa Merauke yang berarti “hati yang berbelas kasih”. Sementara Chevalier diambil dari nama pendiri Tarekat Msc, Jules Chevalier. Saat pertama kami berkunjung pada malam bulan Maret itu, mereka tampak kaku dan kikuk. Hingga kemudian sebuah organ yang berdiri di ruang depan bangunan yang mulai usang tersebut menjadi media pemecah kebekuan. Kami meminta mereka menyanyi dan lagu “Aku Papua” itulah yang pertama kali mereka nyanyikan dan membuat kami tercekat. Kami adalah “pendatang” dari Jakarta yang sedang singgah di Merauke. Usai menyanyi, kebekuan pun cair. Magdalena, seorang gadis berambut keriting, berkulit legam, dan memiliki senyum yang manis mulai berbagi kisah tentang dirinya. Ia mengaku ditemui oleh seorang bruder Msc usai menjajakan ikan yang ia pancing di danau. “Iya kakak, saya ditawari sekolah dan tinggal di panti ini,” ujarnya. Ia tinggal di situ bersama saudara perempuannya. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Menurut Bruder Yos, pendamping anak-anak panti asuhan, hampir seluruh bocah di panti itu yang rata-rata berusia 9-16 tahun tidak tahu orang tua mereka meninggal karena HIV/AIDS. Beberapa dari mereka datang atau ditemukan dalam keadaan mengenaskan. Seluruh tubuh mereka penuh koreng, karena mandi memang bukan kebiasaan sehari-hari. Wajar jika program pemberdayaan yang dilakukan Tarekat Msc mulai dari hal sederhana: kebersihan diri. Di dalamnya adalah urusan mandi, cuci, dan setrika. Kurang Reflektif Korneles de Rooij atau yang lebih dikenal dengan Pater Kees, pastor yang sudah mengabdikan diri selama 43 tahun hidup membiaranya di Papua dan menjadi salah satu pembina panti asuhan tersebut, mengatakan anak-anak Papua kurang reflektif. Mental model mereka yang diwarisi dari kultur para pemburu dan peramu membuat mereka hanya hidup dari hari ke hari. Hidup untuk hari ini sementara masa depan adalah urusan esok hari. “Pendidikan tinggi, tapi jiwa masih peramu,” ujarnya. Namun bukan berarti mereka bodoh. Pertemuan kami dengan anak-anak asli Papua di Kampung Ifimahad, Distrik Kurik, yang terletak sekitar tiga jam berkendara dari Kota Merauke menunjukkan mereka cukup cerdas. Secara kebetulan, perjalanan kami ke kampung tersebut ditemani Wakil Bupati Merauke Sunarjo. Kami bertemu dengan warga kampung, para guru di sekolah tersebut, dan tentu saja bocah-bocah SD yang riuh dengan gelak. Semuanya adalah warga asli Papua. Saat berpamitan, seorang bocah memberi sebuah kertas terlipat kepada salah satu dari kami, berbisik bahwa ia ingin kami menyampaikannya kepada Sunarjo. Pesannya, “Kami butuh sepeda untuk bersekolah, kak.” Saat lipatan kertas kami buka, isinya 12 nama anak yang membutuhkan sepeda untuk ujian masuk SMP. Jarak kampung tersebut ke tempat ujian memang cukup jauh dan mereka tahu bupati sebelumnya memiliki program sepeda gratis untuk anak-anak di Merauke. Sebenarnya bisa saja mereka memberikan langsung daftar nama tersebut kepada Sunarjo. Tapi seolah tahu bahwa “daya tekan” para “pendatang” dari Jakarta akan lebih ampuh, mereka sengaja memberikannya pada kami. Di kampung itu pula saya bertemu dengan Yosef, lelaki usia 60-an yang menggendong bocah usia 3 tahun di pundaknya. Saya tak menyangka bahwa salah satu anak dari lelaki sederhana itu kini sedang mengikuti program belajar di Surya Institute di Jakarta, sekolah eksperimen yang didirikan Prof Yohanes Surya, yang dikhususkan untuk menggembleng daya intelektualitas anak-anak asli Papua. Sejumlah penghargaan internasional untuk bidang matematika dan fisika kerap disabet anak-anak Papua didikan Yohanes Surya ini. Dari sang kepala sekolah, saya kemudian juga tahu bahwa ada tiga anak dari SD kampung tersebut yang mengikuti program Surya Institute. Menurut pengakuan Sunarjo, sejak 2011 ada sekitar 50 anak Papua yang dikirim ke Surya Institute, rata-rata anak kelas 3-6 SD. “Bencana yang terjadi di Merauke itu bukan kelaparan atau bencana alam, tapi bencana pendidikan,” ujarnya. Karena itu, meski tak menolak masuknya investasi di sektor perkebunan atau pertambangan, Sunarjo menekankan yang harus menjadi prioritas di Papua adalah investasi pendidikan dan kesehatan. Hasil investasi pendidikan memang tidak bisa instan. Namun saat awal Mei lalu saya menerima belasan foto dan jurnal harian dari anak-anak Panti Amam Bekai Chevalier, saya tahu masa depan Papua tak akan melulu berisi kisah duka. Foto-foto itu merupakan hasil bidikan mereka sendiri dan jurnal tersebut berkisah tentang mereka. Magdalena, gadis yang masuk SMK tahun ini, mengirimi saya sebuah foto rimbunan benalu. Di jurnalnya, ia menulis, “Saya tak ingin menjadi benalu yang hidup dengan merugikan tanaman lain. Saya ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain.” Perubahan, pada akhirnya, selalu dimulai dari pergolakan dari dalam, bukan dari luar. Melihat Magdalena, klaim Pater Kees soal generasi Papua yang tak reflektif sepertinya bakal terpatahkan. Merekalah, dan bukan para politikus atau birokrat, juga bukan kaum “pendatang”, yang kelak memutuskan apa yang terbaik untuk Papua. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
