Agama najis Islam yang menjijikkandanyang buas lagi mengerikan itu itulah yagn 
bikin onar, yang bikin wajah Indonsia coreng moreng di dunia Internasional..

Dan orang Islam serta para penjilat pantatnya disini yang sudah pada sedeng 
tentu tidak begitu peduli..

Mereka banyak yang lagi ribut ngomongin pertandingan sepak bola di negeri lain..

--


RI Harus Perhatikan Kritik Dewan HAM PBB
ILUSTRASI

JAKARTA – Peneliti dari Setara Institute, Ismail Hasani, Jumat (1/6), 
mengatakan sorotan tajam Dewan HAM PBB atas kehidupan toleransi di Indonesia 
jangan dianggap remeh.

Selain citra akan memburuk, bisa jadi, nanti itu berujung pada sanksi bagi 
Indonesia, misalnya dikeluarkan dari keanggotaan Dewan HAM PBB.

Menurut Ismail, soal toleransi antarumat beragama dan jaminan kebebasan 
beragama adalah hal fundamental yang harus disikapi oleh pemerintah. Sorotan 
dunia internasional itu merupakan bentuk kepedulian dan pembelaan mereka 
terhadap pelanggaran jaminan kebebasan di Indonesia.

"Kasus Ahmadiyah dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin menjadi pembuka 
sorotan dunia internasional karena eskalasi kekerasan yang terus meningkat. 
Mereka juga menyorot kasus-kasus yang lain," kata dia.

Sorotan tajam dari Dewan HAM PBB itu, kata Ismail, akan berpengaruh bagi 
Indonesia. Indonesia berkewajiban untuk mematuhi seluruh rekomendasi Dewan HAM 
PBB untuk menyelesaikan dua kasus tersebut dan kasus-kasus lainnya serta 
memberikan jaminan kebebasan beragama sesuai dengan konstitusi.

"Jika diabaikan, sanksi politik dapat dijatuhkan oleh PBB, misalnya Indonesia 
dikeluarkan dari keanggotaan Dewan HAM PBB," kata Ismail.

Direktur Eksekutif Initiative Institute, Hermawanto, melihat kritikan keras 
Dewan HAM PBB terhadap pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia, khususnya 
yang terkait dengan kebebasan beribadah, telah mencoreng citra Indonesia di 
mata dunia internasional. Seharusnya, kritikan dari Dewan HAM itu membuat malu 
pemerintah yang selalu mengklaim Indonesia adalah bangsa yang pluralis.

Kritikan Dewan HAM PBB, kata Hermawanto, sekaligus mempertanyakan masihkah 
Indonesia bisa mengatakan dengan bangga sebagai bangsa yang pluralis dan 
toleran. Menurut dia, kritikan dari Dewan HAM itu dilontarkan karena pemerintah 
dianggap gagal dan tidak tegas menghadapi tindakan intoleransi.

"Sikap pemerintah yang tidak tegas terhadap perilaku kekerasan yang 
mengatasnamakan agama yang menjadikan peristiwa seperti Ahmadiyah dan GKI 
Yasmin terus terjadi," kata dia.

Hermanto menambahkan itu juga terkait erat dengan kepemimpinan di negeri ini, 
termasuk elite-elite di masyarakat. Menurut dia, pemimpin di masyarakat lebih 
sebagai pemimpin golongan yang hanya mengedepankan kepentingan politik semata.

"Pemimpin kita bukanlah pemimpin yang religius, melainkan hanya memanfaatkan 
sifat religius untuk kepentingan politiknya," ujar dia.

Dengan adanya kritikan keras dari Dewan HAM PBB itu, kata dia, citra Indonesia 
begitu buruk di mata bangsa lain. Padahal, bangsa Indonesia sudah dikenal 
sebagai bangsa yang toleran dan pluralis.

Egoisme Sempit
Sementara itu, Wakil Presiden, Boediono, dalam pidato kebangsaannya pada acara 
Peringatan Pidato Bung Karno, di Gedung MPR, Jakarta, Jumat, mengatakan risiko 
terbesar eksistensi negara adalah tumbuh suburnya sikap egoisme sempit. "Setiap 
egoisme ini tumbuh akan menyingkirkan orang lain, menimbulkan konflik, dan 
mendatangkan korban," ujarnya.

Secara tegas, Boediono menolak egoisme tersebut, apalagi jika egoisme itu sudah 
mewujud pada egoisme agama, egoisme bangsa, egoisme etnis, egoisme suku, 
egoisme kebangsaan, dan egoisme harta.

Boediono bersyukur presiden pertama Indonesia, Soekarno, telah menyumbangkan 
fondasi melalui Pancasila untuk menghindari tumbuhnya egoisme sempit.

"Pengalaman sejarah mengharuskan kita melawan egoisme. Dunia sedang menghadapi 
krisis ekonomi dan politik. Tapi, saya yakin kalau kita menghayati dan meresapi 
dasar Pancasila, kita akan mampu dan siap menghadapi semua ancaman," kata 
Wapres. (ags/nsf/AR-3)




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke