Sudono Salim Berjaya di Masa Soeharto 
http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/06/11/ArticleHtmls/Sudono-Salim-Berjaya-di-Masa-Soeharto-11062012003014.shtml?Mode=0

     
     
      JAKARTA  

Bisnisnya meredup ketika penguasa Orde Baru lengser.

Dalam dunia bisnis, nama taipan Sudono Salim alias Liem Sioe Liong, yang 
meninggal kemarin, sudah menjadi legenda. Dia adalah pendiri Grup Salim yang 
bisnisnya tersebar di berbagai perusahaan. 
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi mengatakan Liem adalah 
pengusaha yang sangat sukses di era Presiden Soeharto. Namun bisnisnya sempat 
meredup setelah krisis ekonomi menghantam pada 1997. “Dia mengambil keputusan 
penting dengan menyerahkan usahanya kepada anaknya, Anthony Salim,“ katanya 
kemarin.

Bisnis Om Liem, demikian panggilan populernya, berjaya antara lain karena dekat 
dengan Presiden Soeharto. Seperti ditulis majalah Tempo edisi 4 Februari 2008 
berjudul “Tak Roboh Diterpa Badai”, persahabatan keduanya merupakan bagian dari 
cerita panjang sejarah Orde Baru. 

Hubungan Soeharto dengan Liem berawal sejak ia memasok kebutuhan tentara pada 
1950-an. Saat itu Soeharto menjabat Panglima Kodam Diponegoro, Jawa Tengah. 
Salim lalu menggandeng sahabatnya, Djuhar Sutanto, Ibrahim Risjad, dan 
Sudwikatmono mendirikan PT Waringin Kentjana. Inilah perusahaan yang menjadi 
cikal-bakal imperium bisnis Grup Salim. 

Pada 1971-1972, Soeharto dan Liem sepakat membangun pabrik tepung terigu 
raksasa, PT Bogasari Flour 

Mills, yang merupakan cikal-bakal Indofood, di Jakarta dan Surabaya. 
Keberhasilan sang taipan juga ditopang oleh bisnisnya di perbankan melalui Bank 
Central Asia, yang didirikan pada 21 Februari 1957. Namun krisis ekonomi ikut 
menghantam kejayaan BCA. Bank ini harus beralih kepemilikan setelah mendapat 
suntikan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia sekitar Rp 60 triliun. 

Pada 2000, BCA menjadi perusahaan publik, setelah secara bertahap diambil alih 
Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Pada 2009, porsi saham Liem melalui 
anaknya, Anthony, tinggal 1,76 persen. 

Menurut pendiri Independent Research & Ad 

visory Indonesia, Lin Che Wei, Liem adalah sosok yang setia kawan. “Ketika 
Soeharto jatuh, dia terkena dampaknya, dan dia menerima,” katanya. Sejak 
kerusuhan meletup pada Mei 1998, Liem memilih menghabiskan hari tuanya di 
Singapura. 
Di bawah kepemimpinan Anthony, Grup Salim berusaha kembali membangun bisnis 
bermodal perusahaan tersisa, seperti Indofood dan perusahaan CPO. Dia berhasil 
menghidupkan kembali warisan sang ayah. 

Tetapi, kata Che Wei, grup ini tidak pernah menjadi nomor satu lagi. “Sebab, 
setelah reformasi, mereka tidak mau terlalu agresif.” 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke