Kemaren, pulang dari dokter gigi, ada angkot bergerak pelan, di depan angkot itu ada tulisan besar "Panitia pembangunan mesjid anu ..." pakai kain. disablon. Ditempel di bagian depan angkot yang bergerak pelan. di bawah kaca depan. (Lebih seru kalau itu spanduk ditempel di kaca depan kali ya... asyik ngejalanin mobil dengan kaca tertutup spanduk. Sakti dah ;-) )
Saat si pengumpul sumbangan lewat, istri saya yang duduk di sebelah saya berbisik : "Memalukan banget ya yah ...kesannya islam itu miskin...muslim itu kucel...wajah orang islam itu kesannya semua "oon"..." Si pengumpul sumbangan berlalu. Saya hanya mengangkat tangan dari dalam mobil tanpa membuka kaca. ( Baca : Maaf, Nddak Nyumbang ...") **** inget awal tahun 2000 - an, saat harus bawa mobil sendiri pulang pergi bandung - sukabumi. Di sepanjang jalur cianjur, nddak kurang dari 10 masjid yang kompak memungut sumbangan di pinggir-pinggir jalan. Cukup merepotkan, apalagi ketika mereka memasang drum pas dibelokan. Sempat beberapa kali kaget karena tiba-tiba di belokan ada drum, nge rem memperlambat mobil, kemudian disambut sama ibu-ibu yang menyodorkan jaring. Saya inget betul, ibu-ibu itu sebagian besar memakai topi lebar dari anyaman bambu, pakai jilbab dan baju lusuh, dan dengan "sabar" menyodorkan jala ke setiap mobil yang lewat di depan masjid yang berada di pinggir jalan. **** Ini bukan masalah percaya atau tidak percaya tuhan. bukan masalah rukun iman atawa rukun islam. nddak ada hubungannya sama alqaeda, dan perseteruan sunni - syiah yang never ending. ini masalah perut yang lapar... But ... bagaimanapun, ibu2 yang lusuh itu, bapak-bapak yang berkeringat jalan kaki sambil membawa kotak amal untuk pembangunan masjid, jauh lebih mulia dari pada para bajingan yang berkedok jubah putih dan jenggot panjang namun dengan tamak memakan harta anak yatim, dengan lincah menjual kemiskinan para fakir miskin untuk kepentingan dirinya sendiri. Ibu-ibu itu jauh lebih mulia daripada sekian banyak orang yang sibuk bersilat lidah di layar kaca dengan mengatas namakan dakwah sementara mentalitas mereka tidak lebih seperti artis yang hobi disanjung, gemar kehidupan glamour dan meskipun kelihatan peduli dengan fakir miskin, tak lebih karena ingin disorot kamera TV dan ingin disebut "ustad yang baik hati". Saya rindu HAMKA di layar kaca ... Yang berbicara agama dari hati dan bukti nyata. Hay penontooooooonnnnn..... alhamdu........ lillah.... Seruan-seruan itu terasa kering di hati. Gelak tawa itu serasa tidak pada tempatnya. Religiusitas itu nyaris tak terasa. Acara dakwah di TV jadi tak ada bedanya dengan Opera Van Java. Melucu. Tertawa. Setelah itu hilang begitu saja. Menyedihkan. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
