Ref: Waktu kaum Nasrani diserang, timbul pertanyaan siapa akan menyusul? 
Pertanyaan tsb dianggap sepi dan bukan sebagai “brain storming” atau pengasah 
otak untuk melihat perspektif perkembangan agar bisa hidup rukun, aman dan 
damai sebagai landasan utama untuk berkehidupan memada sebagai manusia beradab 
di dunia berkebudayaan modern. Ternyata pertanyaan yang diajukan bukan sia-sia 
belaka, sebab kaum Ahmadiayah dan Shiya diserang, korban penyerangan lari 
tunggang langgang sampai ada yang dimatikan di depan mata petugas keamanan yang 
tak berdaya atau memangnya tidak mau menghalau kaum penyerang berjubah. 
Kemudian kaum Buddha juga tidak luput, sekarang sekalipun Kongfuchu diakaui 
sebagai agama resmi, tetapi apa yang terjadi di Medan adalah manifestasi 
hakekat NKRI. Menilai kejadian selama ini barangkali sasaran kepada kaum Hindu 
pun tak dapat dihindarkan dalam waktu dekat yang akan datang. Berdasarkan 
kejadian-kejadian ini tentu timbul pertanyaan apakah ada faedahnya dengan NKRI 
dan jika dipertahankan untuk kepentingan siapa? 


http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/06/15/ArticleHtmls/Biarkan-Konghucu-Berkongres-15062012003001.shtml?Mode=0


      Biarkan Konghucu Berkongres  

Protes terhadap rencana Kongres Internasional Agama Konghucu di Medan 
memunculkan lagi pertanyaan penting. Sampai kapan masyarakat terus-menerus 
menawar soal kebebasan beragama dan berkeyakinan? Masalah ini semestinya telah 
selesai dan tak perlu lagi dirongrong lewat berbagai cara, termasuk melalui 
kebebasan berpendapat dan berdemonstrasi. 
Setiap orang memang berhak untuk bersuara, termasuk menolak suatu kegiatan 
seperti kongres Konghucu itu, yang akan digelar pada 22-26 Juni. Negara juga 
menjamin kebebasan berunjuk rasa seperti yang dilakukan oleh Forum Aliansi Umat 
Islam, kelompok yang mendatangi kantor Wali Kota Medan untuk menolak perhelatan 
Konghucu itu. Tapi perlu diingat bahwa setiap warga negara juga diwajibkan 
menghormati hak orang atau kelompok lain.

Dengan prinsip seperti itu, sikap para pemrotes masih bisa ditoleransi 
sepanjang tidak memaksakan kehendak. Mereka berdalih, antara lain, perhelatan 
ini tidak layak digelar karena penganut agama Konghucu di Medan amat sedikit. 
Alasan ini tentu sulit diterima karena bersifat relatif dan tak berpijak pada 
hukum.
Sekecil apa pun jumlah pemeluk keyakinan- bahkan jika hanya satu orang punia 
tetap memiliki hak yang sama dengan pemeluk agama lain.

Alasan lain, bahwa kongres itu mengesampingkan kearifan lokal, juga aneh. Jika 
kearifan lokal itu merujuk pada budaya tertentu, katakanlah budaya Melayu, 
kurang tepat pula. Masalahnya, secara historis Kota Medan tumbuh dan berkembang 
justru karena adanya akulturasi budaya.

Begitu juga dalih bahwa lokasi kongres tak jauh dari bekas Masjid Raudhatul 
Islam yang dirobohkan sebuah pengembang. Konflik tanah masjid ini tidak relevan 
dijadikan alasan untuk mengurangi hak kelompok atau umat lain mengadakan 
kegiatan. Jika penggusuran masjid dinilai merugikan umat Islam dan terbukti 
melanggar aturan, hal ini bisa diperkarakan secara hukum. Jadi, tidak ada 
alasan satu pun untuk melarang kongres Konghucu.

Dasar negara dan konstitusi republik ini jelas menjamin kebebasan beragama. 
Perlindungan terhadap agama dan pemeluknya ditegaskan dalam konstitusi dan 
sejumlah undang-undang lain, seperti UndangUndang Hak Asasi Manusia. Ini 
berarti para pemeluk agama bebas pula menggelar kegiatan apa pun sepanjang tak 
mengganggu hak orang lain. Apalagi, pertemuan Konghucu itu akan banyak diisi 
dengan seminar yang menampilkan puluhan intelektual Konghucu dari berbagai 
negara, seperti Cina, Taiwan, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Kota Medan juga akan diuntungkan secara ekonomi karena banyak acara pendukung 
yang digelar.
Misalnya, festival barongsai sepanjang satu kilometer yang diikuti 12 tim dari 
berbagai negara yang rencananya akan membuat rekor barongsai terpanjang se-Asia 
Tenggara. Ini tentu memancing wisatawan, terutama dari mancanegara. Dengan kata 
lain, perhelatan ini sesuai pula dengan program Pemerintah Kota Medan yang 
sudah mencanangkan tahun 2012 sebagai tahun kunjungan wisata.

Kami berharap Wali Kota Medan menolak tegas tuntutan pemrotes dan tetap 
mengizinkan kongres Konghucu di sana. Sikap teguh ini perlu diambil bukan 
sekadar karena kegiatan itu menguntungkan secara ekonomi, tapi terutama demi 
melindungi hak umat Konghucu. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke