Ref: Disepelekan karena mau disembunyikan untuk tidak diketahui umum agar 
partainya tetap jaya permai di mata rakyat?
----
Harian Komentar
16 June, 2012
16 Jun

     

      SBY Dinilai Sepelekan Korupsi di Demokrat
     


Jakarta, KOMENTAR
Pernyataan Susilo Bambang Yudhoyono bahwa masih ba-nyak partai politik yang 
tingkat korupsinya di atas Partai De-mokrat disesalkan banyak pihak. Dengan 
pernyataannya itu, SBY terkesan menyepelekan kasus korupsi yang dilakukan kader 
Demokrat.


Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia Maswadi Rauf mengatakan SBY yang 
juga menjabat presiden seharusnya lebih berpikir secara kebangsaan. ‘’Bahwa 
persoalan korupsi harus diselesaikan dengan penegakan hukum, bukan malah 
mem-banding-bandingkan antara Partai Demokrat dan parpol lainnya,’’ ujar 
Maswadi di Jakarta seperti dilansir dari media-indonesia.com kemarin. Saat 
memberikan sambutan pada acara Silaturahim Tokoh Pendiri dan Deklarator Partai 
Demokrat di Jakarta, Rabu (13/06) malam, Yudhoyono memper-soalkan kenapa 
Demokrat menjadi sorotan utama. Padahal, lebih banyak kader dari partai lain 
yang tersangkut kasus korupsi. Ia memaparkan data, kader Demokrat di jajaran 
DPRD ting-kat provinsi 2004-2012 hanya 3,9 Persen dan berada di urutan ke-lima. 
Untuk tingkat kabupaten/kota, Demokrat di posisi tiga. Begitu juga persentase 
anggota Demokrat untuk tingkat menteri dan gubernur. Menurut Maswadi, jika 
meng-akui ada korupsi di tubuh De-mokrat, SBY harus mendorong penegakan hukum. 
‘’Kasus korupsi yang melibatkan kader Demokrat tidak bisa dianggap kecil karena 
yang disampaikan SBY hanya sebatas jumlah kasus.’’


Pernyataan SBY dalam kapasi-tasnya sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat 
terse-but juga dianggap bisa meng-ganggu kerukunan di sekretariat gabungan 
pendukung pemerin-tahan. “Statement seperti itu berpotensi menyulut polemik 
yang tidak perlu,” kata Wakil Sekjen Partai Golkar Tantowi Yahya.Politikus 
senior Golkar Siswono Yudho Husodo menilai pe-ringkat korupsi di partai tidak 
perlu dibanggakan. Yang ter-penting ialah penindakan ter-hadap koruptor tanpa 
me-mandang asal parpol. Sekjen PPP M Romahurmuziy menyesalkan pernyataan SBY 
yang bisa menimbulkan penafsiran serius. Di sisi lain, PDIP yang berada di kubu 
oposisi tak merasa tersindir oleh pernyataan SBY. ‘’Kami tidak terpengaruh,’’ 
tandas politikus PDIP Pramono Anung. 


Sementara itu, Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP Partai Demokrat, Andi 
Nurpati, menyatakan pidato yang disampaikan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat 
Susilo Bambang Yudhoyono pada Rabu malam merupakan peringatan untuk semua kader 
partai Demokrat. Pidato itu untuk mengingatkan kembali agar kader selalu 
me-matuhi dan menjalankan politik yang bersih, cerdas, dan santun. “Kalau 
(pidato) pengulangan kan biasanya penegasan, itu un-tuk mengingatkan kembali 
ka-der-kader secara internal. Itu bagus. Beliau kan posisinya Ke-tua Dewan 
Pembina, biasa kan melakukan pembinaan,” kata Andi Nurpati ketika nonton 
ba-reng Anas Urbaningrum dan anggota DPP lainnya di Plaza Senayan, Jakarta, 
Jumat 15 Juni 2012.


Soal pidato yang dipersepsikan sebagai isyarat agar Anas Urbaningrun mundur 
dari posisi ketua umum, Andi mengatakan bahwa di dalam AD ART Partai Demokrat, 
kader bisa saja mengundurkan diri. Namun, par-tai tidak bisa menghentikan kader 
tanpa ada alasan yang jelas. “Kalau perkara hukum kan tidak satu pun yang 
menyebut itu (Anas terlibat kasus korupsi). Kalau tersangka, itu masuk kode 
etik, kalau in kracht (jadi terpi-dana), itu otomatis diberhen-tikan,” kata dia.


Di sisi lain, Pengamat sosial politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) 
Yogyakarta, Arie Sujito mengatakan, partai politik sebaiknya segera introspeksi 
terkait dengan korupsi yang diduga dilakukan para kadernya. “Hal itu seperti 
dikemukakan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
dalam sambutannya, yang menyindir partai politik lain terkait dengan korupsi,” 
katanya di Yogyakarta, yang dilansir Suara Pembaruan. com Jumat (15/06). 




Namun, Arie menilai, sambutan Yudhoyono dalam forum silaturahmi dengan para 
pendiri Partai Demokrat tersebut, juga bisa dibaca sebagai upaya mem-bela 
partai ini dari berbagai se-rangan parpol lain, yang sama-sama korup. 
“Pembelaan itu wajar, apalagi dengan adanya serangan’ ber-tubi-tubi, baik dari 
sesama ang-gota setgab maupun oposisi,” ka-tanya. Menurut Arie, parpol lain 
yang merasa menjadi bagian dari tuduhan tersebut perlu meres-pons dengan cara 
saling ber-benah, dan tidak perlu defensif. “Dengan begitu, maka parpol-parpol 
yang ada sekarang sudah saatnya menunjukkan komit-mennya membenahi institusi 
dan kadernya, serta politisi di berbagai lini, untuk segera memperbaiki 
kualitas ber-politiknya agar kredibel. Moralitas politisi harus bersih dari 
korupsi,” katanya. 




Ia mengatakan pada sisi lain Yudhoyono sendiri juga harus konsisten dengan 
bersikap tegas sesuai komitmennya, agar Partai Demokrat serius membersihkan 
diri dari para koruptor. “Jangan sampai hanya sekadar ‘pantun’, kemudian 
ditanggapi parpol lain dengan berbalas pan-tun. Sebab, kalau tidak konsis-ten, 
pasti dinilai sebagai pen-citraan, dan sekadar membela diri,” katanya. Arie 
mengatakan, posisi Yu-dhoyono sebagai Presiden serta Ketua Dewan Pembina Partai 
Demokrat, jelas punya tanggung jawab lebih besar dalam pem-berantasan korupsi, 
karena selama ini pidato-pidato me-ngenai pemberantan korupsi terus bergaung. 


Staf pengajar jurusan sosiologi Fisipol UGM ini mengatakan, siapa pun penguasa 
di parpol sudah tahu bahwa belitan korupsi terkait dengan partai politik makin 
meresahkan, dan makin menurunkan kredibilitas parpol di mata rakyat. “Entah ada 
survei atau tidak, menurun atau tidak popularitas parpol-parpol yang ada saat 
ini, kenyataannya KPK telah banyak menangkap dan mengusut politisi, baik di 
parlemen maupun eksekutif, nasional maupun daerah,” katanya. Ia mengatakan, hal 
tersebut menjadi bukti nyata adanya ma-salah yang akut yang dialami parpol. 
“Jika saling kritik antarparpol terus terjadi, dan berkembang, maka semua itu 
bisa menjadi bahan penting, agar para calon presiden yang bakal maju pada 
Pemilu 2014, mulai sekarang harus di-’tracking’, dilacak seja-rahnya apakah 
menjadi bagian dari masalah korupsi atau tidak,” katanya. Menurut Arie, sejak 
dini harus diingatkan ke publik agar presiden hasil Pemilu 2014 bersih dari 
korupsi, dan kredibilitasnya diakui. “Kalau teledor dan toleran, kita tidak 
akan bisa keluar dari lingka-ran korupsi yang makin jamak. Demokrasi tentu akan 
rusak jika pemimpinnya punya sejarah korupsi,” katanya.(spo/mio/vvn)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke