Ref : NKRI sangat berfaedah untuk penguasa negara dan konco bin sahabat serta 
algojo-algojo yang berkerumun di pangung kekuasaan baik di pusat kekuasaan mau 
pun di daerah atau yang disebut propinsi. Makin banyak propinsi dan kabupaten 
dimekarkan makin bertambah mekar kekayaaan kaum penguasa dan negara adikaya 
korupsi akan selalu cemerlang.


http://www.shnews.co/detile-3357-indonesia-negara-adikaya-korupsi.html


Indonesia, Negara Adikaya Korupsi 
Mu’amar Wicaksono* | Sabtu, 16 Juni 2012 - 11:57:44 WIB

Dibaca : 90 


(dok/ist)Negara Indonesia tidak akan pernah terhapus dari yang namanya korupsi. 
Terkuaknya kembali kasus korupsi yang diduga dilakukan Tommy Hendratno, seorang 
pegawai pajak di KPP Pratama Sidoarjo Selatan, semakin menambah panjang daftar 
hitam Indonesia sebagai salah satu negara terkorup di dunia. 
Korupsi di Indonesia merupakan masalah yang tidak ada habisnya. Korupsi 
bagaikan penyakit menular yang sangat ganas, yang sudah menjalar dan menular ke 
mana-mana, tidak hanya pada lapisan eksekutif, tetapi juga pada lapisan 
legislatif dan yudikatif, tidak hanya terjadi pada lapisan atas, tetapi juga 
pada lapisan bawah. 

Kita menyadari bahwa penyakit korupsi di negara ini sudah menancap jauh ke 
dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hampir-hampir tidak 
diketahui lagi di mana ujung dan di mana pangkalnya, dan di mana harus dimulai 
pencegahan dan terapinya, dan di mana pula harus berakhir. Telah banyak upaya 
ataupun diskusi yang diwacanakan untuk memberantas korupsi di negara ini, tapi 
pada kenyataannya belum membuahkan hasil yang signifikan.

Kekuasaan dan Moralitas 

Menutur Edward Gibbon (1737-1794), sejarawan Inggris dalam bukunya, The History 
of the Decline and Fall of the Roman Empire, terdapat dua hal utama yang 
menyebabkan kemerosotan Imperium Romawi. Pertama, korupsi dan kebiasaan 
hedonis. Kedua, eksklusivitas dan fanatisme Kristen. 
Oleh sebab itu, perlu diingat bahwa meski Romawi bukan negara modern layaknya 
negeri ini, dalam menganalisis pola pikir berpolitik dan perilaku politikus dan 
pejabat, tentu tidak jauh beda dengan zaman sekarang di negeri ini. 

Kekuasaan selalu berwajah dua: sekaligus memesona dan menakutkan. Dengan 
kekuasaan kita mendapatkan kedudukan yang terhormat, namun dengan kekuasaan 
pula kita dapat menjadi seorang penjahat paling kejam. Ada sebuah adagium yang 
perlu diingat, yaitu power tend to corrupt, di mana kekuasaan yang dimiliki 
akan mengakibatkan kesewenang-wenangan. 
Terlebih apabila kekuasaan itu telah berlangsung lama dan sangat nyaman, 
sehingga telah mengaburkan mana yang benar dan yang salah demi melanggengkan 
kekuasaan, dan kekuasaan yang sangat besar tersebut sering ditandai dengan gaya 
hidup yang mewah untuk menunjukkan bahwa dirinya sedang berkuasa. 

Tanggung jawab moral merupakan suatu bagian hakiki dari setiap praktik 
kekuasaan ketika kebaikan dan kesejahteraan masyarakat menjadi taruhannya. 
Tetapi, tampaknya keyakinan ini berubah menjadi semacam pesimisme ketika para 
pemegang kekuasaan mempraktikkan kekuasaan tanpa tanggung jawab, seperti 
ketidakpekaan pada kepentingan publik, pemerkayaan diri, atau upaya 
pelanggengan kekuasaan, dan semacamnya. 
Dalam kondisi demikian, pandangan klasik bahwa konsumerisme telah mengambil 
alih wilayah kekuasaan dari moral dan mengaburkan kemampuan membedakan 
moralitas humanisme dan moralitas binatang yang mengutamakan kenikmatan dapat 
diterima. Akibatnya, para penguasa menghapus tanggung jawab moral dari kamus 
kekuasaan mereka dengan berpura-pura untuk mengutamakan kepentingan rakyatnya. 

Korupsi merupakan penyakit bangsa dan secara tegas pula merupakan penyakit 
moral, baik itu moralitas objektif sekaligus subjektif. Pemberantasan korupsi 
dengan demikian juga memasuki kedua ranah tersebut. 
Korupsi bisa diberantas jika secara objektif dilarang (dengan memberlakukan 
hukum yang amat berat), dan secara subjektif pula diperangi (dengan mempertajam 
peran budi nurani yang dimiliki setiap manusia). 

Di satu sisi, penegakan moralitas objektif adalah soal penegakan aturan main 
dalam hidup bernegara, ketegasan pemerintah dalam menegakkan hukum terhadap 
para koruptor, dan pembenahan sistem peradilan yang semakin adil. Di sisi lain, 
penegakan moralitas subjektif adalah soal pembenahan mentalitas aparatur 
negara, pembenahan hidup kemanusiaan sebagai makhluk yang berakal budi, dan 
penajaman hati nurani.

Penegakan Hukum Lemah 

Lemahnya penegakan hukum dalam tindak pidana korupsi salah satunya karena masih 
banyak penegak hukum yang mudah ditunggangi. Penegakan hukum terhadap perilaku 
koruptif di Indonesia belum mampu membasmi habis para koruptor yang 
menggerogoti harta negara. 
Bahkan, beberapa kasus belakangan ada beberapa penegak hukum yang ikut 
terlibat. Suatu hal yang sangat ironis, apabila penegak hukum ikut melakukan 
tindakan tersebut, lantas siapa yang mesti kita percayai dan yang bertugas 
untuk memberantasnya. 

Hal lain yang menarik ialah sering kita dengar pemberitaan di media massa bahwa 
para pencuri kelas teri dengan mudahnya tertangkap dan dimasukkan ke dalam 
penjara. Namun, bagaimana dengan para pencuri kelas kakap ini, yang jelas-jelas 
merugikan bangsa dan negara? 
Salah satu kendala besar dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia adalah 
terlalu banyak orang yang akan terancam pidana jika undang-undang pemberantasan 
korupsi dijalankan secara sungguh-sungguh dan akan terjadi tuding-menuding 
siapa yang menyidik siapa. 

Alih-alih menjadi negara adidaya di dunia seperti halnya Amerika Serikat 
sebagai negara yang mempunyai kekuasaan di percaturan politik internasional, 
baik dalam memengaruhi peristiwa-peristiwa global maupun lebih jauh mengambil 
keputusan dalam proyek-proyek internasional. Indonesia mempunyai kemampuan dan 
kekuasaannya sendiri sebagai negara adikaya korupsi.

*Penulis adalah alumnus Program Sarjana Fakultas Hukum, Universitas Padjadjaran.

(Sinar Harapan) 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke