Saya kutip reaksi Dadang Setiawan: 

Jumat, 15 Juni 2012, 23:14

Imam Mahdi gak perlu ditunggu karena gak akan datang. Istilah Imam Mahdi, Ratu 
Adil, berkembang di masyarakat yang tertindas sebagai penyemangat hidup.

--

Dunia Menanti Kedatangan Imam Mahdi


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Heri Ruslan

Setelah Rasulullah SAW wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah/ Juni  632 M, 
muncul sebuah pengharapan di kalangan umat Islam akan kedatangan seorang ratu 
adil atau dikenal dengan Imam Mahdi. Keyakinan akan datangnya seorang juru 
penyelamat atau Imam Mahdi berakar kuat, baik di kalangan Sunni maupun Syiah.

Menurut Ensiklopedi Islam, Imam Mahdi adalah seorang juru selamat dia akhir 
zaman. Imam  Mahdi diyakini sebagai seorang Muslim berusia muda yang akan 
dipilih oleh Allah SWT untuk menghancurkan semua kezaliman dan menegakkan 
keadilan di muka bumi sebelum datangnya hari kiamat.

`'Istilah Imam Mahdi muncul dan berhubungan dengan aqidah mahdawiyyah,'' tulis 
Ensiklopedi Islam. Yakni, keyakinan bahwa pada akhir zaman akan datang seorang 
juru selamat yang akan menyelamatkan kehidupan umat manusia di muka bumi dari 
ketidakadilan, kesengsaraan, dan kekejaman yang akan membawa pada kebahagian 
dan kedamaian.

John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, mengungkapkan,  Mahdi (orang yang 
diberi petunjuk ilahiah) merujuk pada figur eskatologis yang akan hadir untuk 
memimpin pada masa keadilan dan keyakinan sejati menjelang tibanya hari kiamat.

`'Asal usul kata Mahdi tak ditemukan dalam Alquran, kaum Muslim awal 
menggunakan gelar kehormatan itu untuk Nabi SAW dan empat khalifah pertama,'' 
ujar Esposito. Keyakinan umat Islam akan datangnya Imam Mahdi pada akhir zaman 
tak lepas dari keberadaan hadis Nabi SAW.

Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda, ''Dunia akan 
dipimpin oleh seseorang dari keluargaku. Namanya sama dengan namaku. Seandainya 
dunia ini hanya tinggal sehari saja, maka Allah akan panjangkan hari itu, 
sehingga ia akan memimpinnya.''

Rasulullah juga bersabda, `'Al-Mahdi berasal dari keturunanku. Ia akan memenuhi 
bumi ini dengan keadilan dan pemerataan sebagaimana telah dipenuhi oleh 
kezaliman dan dan ketidakadilan, ia akan berkuasa selama tujuh tahun.'' (HR 
At-Tirmizi).


                                                                                
***

Menurut Ensiklopedi Islam, sebagian ulama menganggap hadis mengenai kedatangan 
Imam Mahdi itu bersifat mutawatir, karena  diriwayatkan oleh banyak pihak, 
sehingga dipastikan hadis itu benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Lalu sejak kapan harapan akan munculnya  harapan dan sosok yang diklaim sebagai 
Imam Mahdi itu muncul?  Menurut Esposito begitu banyak pengklaim Imam Mahdi 
dalam sejarah peradaban Islam. Guru Besar  Studi Islam pada  Universitas 
Universitas Georgetown, Amerika Serikat  (AS) itu mengungkapkan,  istilah Imam 
Mahdi dikembangkan oleh kalangan Syiah untuk menjuluki Muhammad Ibnu Hanafiyah.

Putra Khalifah Ali yang mengorganisasikan sebuah revolusi pada 685 M itu sangat 
dihormati oleh pengikut Syiah.  Muhammad Ibnu Hanafiyah, kata 
Esposito,dipandang sebagai `'orang yang mendapat petunjuk'', tidak dianggap 
mati, tetapi diyakni tersembunyi.

`'Dia diyakni memiliki pengetahuan esoteris yang diperlukan untuk membebaskan 
para pengkitnya dari penindasan dan untuk menegakkan masyarakat yang adil,'' 
papar Esposito. Kaum Syiah juga menganggap Muhammad bin Hasan Al-Askari – Imam 
ke-12 – yang gaib pada tahun 878 M, dianggap sebagai Imam Mahdi.

Dalam perkembangan sejarah Islam, sosok yang mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi 
tak terhitung jumlahnya. Pada setiap abad, selalu ada saja tokoh yang memiliki 
pengikut yang banyak sebagai seorang Imam Mahdi.  Pada abad ke-10 M, misalnya, 
Khalifah Dinasti Fatimiyah yang pertama, Muhammad Ubaid Allah (wafat 934 M) 
mengaku sebagai Imam Mahdi.

`'Dengan menampakkan  diri di Jabal Massa yang terletak di wilayah Maghribi 
(Afrika Utara),  dia mengaku sebagai keturunan dari anak perempuan Nabi SAW, 
Fatimah, dan sebagai saudara laki-laki dari Imam ke-12 yang tersembunyi,'' 
ungkap Esposito.

                                                                                
***


Pada abad ke-12 M, pendiri gerakan reformasi Al-Muwahhidun, Muhammad Ibnu 
Tumart (wafat 1130 M), juga mengaku sebagai Imam Mahdi yang berasal dari 
keturunan Khalifah Ali.  Memasuki abad ke-15, berbagai kelompok Islam mulai 
menghidupkan kembali harapan mereka akan masa depan yang lebih baik.

Di kota suci Makkah dan Madinah, papar Esposito, sejumlah ulama menulis 
pendapat mereka  untuk mempertegas keyakinan umum akan kemunculan seorang 
mujaddid  (pembaru) pada abad peralihan.

Bahkan, seorang ahli fikih Sunni terkemuka, Ibnu Al-Hajar Al-Maliki, menyatakan 
Imam Mahdi akan muncul pada milenium itu. Menurut Ibnu Al-Hajar, Imam Mahdi itu 
berasal dari keturunan Fatimah, putri Nabi. Namanya akan sama dengan nama Nabi, 
serta orangtuanya sesuai dengan nama orangtua Nabi. 

Pada abad ke-15 M, di anak Benua India juga bermunculan tokoh yang mengaku 
sebagai Mahdi.  Pada 1495 M, seorang tokoh bernama Sayyid Muhammad dari Jaunpur 
mengaku sebagai Imam Mahdi. Uniknya, ia mengaku sebagai Imam Mahdi saat berada 
di Makkah, sembari  melaksanakan thawaf mengelilingi Ka'bah.

Saat kembali ke India, di Masjid Utama Taj khan Salar di Ahmebad, Sayyid 
Muhammad kembali mengumumkan klaimnya sebagai Imam Mahdi.  Untuk memperkuat 
pengakuannya sebagai Mahdi, disebutkan pula bahwa nama kedua orangtuanya adalah 
Abdullah dan Aminah.

Esposito mencatat, datangnya abad ke-13 Hijriah (1785-1883) sempat memunculkan 
harapan besar dari kaum Muslim akan datangnya Imam Mahdi. Pada zaman itu, 
paling tidak ada tiga orang pemimpin gerakan reformasi di Afrika Barat yang 
mengaku sebagai Mahdi untuk memperkuat jihad yang mereka lakukan. Ketiganya 
adalah Syeik Usuman Dan Fodio dari Sakoto, Syekh Ahmadu Bari dari masina, dan 
Al-Hajj Umar Tal dari Kerajaan Tukolor.

Harapan akan datangnya Imam Mahdi dari Timur, kata Esposito, sempat menarik 
gelombang imigran Afrika Barat sampai ke Nil. Pada abad ke-19, lalu muncullah 
seorang yang mengaku Imam Mahdi di Sudan, bernama Mahdi Muhammad Ahmad dari 
Sudan.

Di Mesir juga sempat muncul beberapa tokoh yang mengaku sebagai Imam Mahdi. 
Para tokoh yang mengaku sebagai Mahdi itu menjadi pemimpin pemberontakan rakyat 
melawan penjajah Prancis. Bahkan, menjelang akhir abad ke-19 M, revolusi Mahdi 
melawan penjajah Eropa merebak di berbagai negara berpenduduk Islam, seperti 
India, Aljazair, Senegal, Ghana, dan Nigeria. 


Redaktur: Heri Ruslan

Komentar:

Dadang Setiawan, Jumat, 15 Juni 2012, 23:14

Imam Mahdi gak perlu ditunggu karena gak akan datang. Istilah Imam Mahdi, Ratu 
Adil, berkembang di masyarakat yang tertindas sebagai penyemangat hidup.




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke