MEDIA INDONESIA
Jum'at, 05 Agustus 2005

Semut di Seberang Lautan
Toeti Adhitama, Ketua Dewan Redaksi Media Indonesia



MENYEBALKAN! Komentar itu datang dari Kania Sutisnawinata, pengantar Bedah 
Editorial Media Indonesia, ketika Jafar Assegaff membahas topik berkisar 
pernyataan dua anggota DPR AS yang mempersoalkan posisi Papua dalam NKRI. Papua 
bukan termasuk NKRI, kata mereka. Pendapat itu masuk dalam RUU yang mungkin 
nantinya akan diteruskan kepada Presiden AS.

Bahwa pernyataan itu menyebalkan, hampir semua pemirsa yang menelepon 
menyatakan sepakat. Memang kita di Indonesia umumnya bisa melihat kelemahan 
kita dalam mengelola hubungan pusat dan daerah selama ini, yang mengakibatkan 
banyak daerah kecewa. Bahkan sebagian menunjukkannya dengan kekerasan. Tetapi 
itu masalah dalam negeri Indonesia yang saat-saat ini sedang dibenahi. Maka 
kalau ada orang lain yang berkomentar, kita merasa kesal. Semut di seberang 
lautan mereka sorot, sedangkan mungkin gajah di pelupuk matanya sendiri tak 
tampak. Masalah kita, mengapa mengambil waktu sekian lama untuk pembenahan 
hubungan pusat dengan daerah? Untuk menjawabnya, kita harus melihat jalannya 
perpolitikan di negeri ini. Di masa reformasi dan demokrasi sekarang, 
kelemahan-kelemahan memang tampak menonjol. Ada transparansi. Masyarakat sudah 
berani menyuarakannya. Mengatur negara secara demokratis terbukti jauh lebih 
sulit daripada mengatur negara dengan cara otoriter. Di masa otoriter, ada 
stagnasi dalam penanganan masalah seperti ini. Ketidakpuasan sering 
diselesaikan dengan tindakan represif. Di masa reformasi, tindakan seperti itu 
rasanya tidak mungkin. Roda pembenahan mulai berjalan dengan datangnya 
demokrasi. Sudah mulai kelihatan hasilnya. Aceh, contohnya. Setelah satu 
generasi tidak mengenal damai, semoga pertengahan bulan ini pertikaian akan 
usai. Tentang pembenahan ini, pastilah semua pihak merasakannya atau 
melihatnya, walaupun tidak tanpa gejolak dan walaupun tidak berjalan serempak. 
Maka janganlah ada urun rembuk dari luar yang hanya akan memanas-manasi 
situasi. Kalau perlu, yang dua orang itu harap datang ke Indonesia untuk 
mengadakan studi banding. Itu lebih sederhana daripada orang-orang kita sengaja 
berbondong ke sana untuk menjelaskan. Untuk apa? Lebih baik penjelasan 
diberikan lewat saluran diplomasi yang sudah ada. Apalagi kalau orang-orang 
yang akan dilobi sudah memiliki mind-set untuk menghakimi negara-negara sedang 
berkembang di Asia yang mereka anggap akan selalu merasa asing dengan gagasan 
kebebasan dan demokrasi. Dan bahwa untuk mengatasinya perlu aksi pembebasan. 
Bukankah pendapat semacam itu naif? Berarti, tidak selalu diplomasi kita yang 
salah. Tetapi seperti kata Menhan Juwono Sudarsono, pernyataan dua anggota DPR 
AS itu tidak memengaruhi hubungan-baik pemerintah Indonesia dan AS. Pemerintah 
AS bahkan tidak mendukung usaha pemisahan atau kemerdekaan Papua. Dia mendukung 
NKRI. Karena itu Menhan mengimbau agar kita berkepala dingin menanggapi 
pernyataan dua anggota DPR AS itu. Menhan benar sekali. Namun, ada baiknya 
melihat persoalan ini untuk introspeksi. Mengapa orang luar intervensi kalau 
bukan karena keganjilan?

Di luar persoalan Papua, kita melihat toh memang ada negara-negara atau 
masyarakat yang tampaknya enteng melakukan intervensi. Intervensi biasa 
dilakukan terhadap pihak-pihak yang dianggap tidak sejalan dengan ideologi atau 
kepentingan mereka. Peristiwa yang membuat Myanmar gagal untuk pencalonan ketua 
ASEAN, contohnya. Amerika dan Uni Eropa berkeberatan Myanmar tampil karena 
negara itu dianggap tidak mengenal demokrasi. Irak menjadi kancah perang karena 
alasan serupa. Begitu juga Uni Soviet yang kini terpecah-pecah. Ada 
negara-negara yang menganggap diri kampiun demokrasi, walaupun sistem 
sosial-politik di negerinya sendiri tidak sepenuhnya menggambarkan ideologi 
ini. Intervensi tidak terbatas pada masalah politik. Negarawan Inggris Margaret 
Thatcher dalam bukunya Statecraft (2002) menulis, sikap Barat terhadap 
Indonesia selama ini telah keliru dan berjangka pendek. Barat seharusnya 
menolak godaan untuk menggeser rezim yang tidak memuaskan bagi mereka, seperti 
rezim Soeharto, tanpa mempertimbangkan apa akibat-akibatnya. Selama memiliki 
kemampuan, negara-negara Barat harus mengusahakan Indonesia bisa menjaga 
kelangsungan hidup dan menjadi maju.

Thatcher memiliki alasan-alasan mengapa berkesimpulan demikian. Indonesia, di 
samping Singapura, pernah dianggap keajaiban. Walaupun ditinjau dari sisi 
politik mungkin keliru, tetapi pemerintahan Orde Baru memungkinkan kemakmuran 
ekonomi. Dia berhasil menumpas pemberontakan komunis, tetapi menghadapi bencana 
disintegrasi. Karena ingin menggeser Soeharto, IMF menggunakan krisis ekonomi 
yang menimpa Indonesia tahun 1997 untuk menetapkan syarat-syaratnya yang 
diketahui pasti tidak akan bisa dipatuhi dan pasti menjatuhkan Indonesia. 
Negara-negara Barat berkepentingan antara lain karena dua perlima perkapalan 
dunia melewati kepulauan Indonesia. Selain itu, sebagai negara yang penduduk 
Islamnya terbesar di dunia, dia memiliki peran penting dalam mengelola hubungan 
pelik antara Barat dan Islam. Penyelamatan ekonomi oleh IMF waktu itu 
sebenarnya merupakan manuver politik, bukan finansial. Khususnya, IMF mendesak 
agar harga bahan bakar dan harga-harga pangan sangat ditingkatkan pada saat 
taraf hidup rakyat Indonesia merosot luar biasa akibat devaluasi. 
Perubahan-perubahan itu, yang sebagian mungkin perlu, tetapi kalau diterapkan 
dalam situasi demikian akan sangat mengacau dan tidak hanya mengganggu 
kestabilan pemerintahan tetapi juga kestabilan Indonesia secara keseluruhan.

Pendapat Thatcher masih bisa diperdebatkan. Tetapi pesan yang ingin disampaikan 
dalam tulisan ini: intervensi negara-negara Barat patut diwaspadai. Tidak 
seluruhnya harus diterima seperti apa adanya. Pendapat negarawan Inggris yang 
penuh integritas itu kalau bukan patut menjadi rujukan, paling tidak patut 
dipertimbangkan. Posisi strategis Indonesia dalam percaturan politik, sosial, 
dan ekonomi dunia akan selalu membuatnya menjadi sorotan dan mungkin objek 
intervensi negara-negara yang berkepentingan. Selalu ada masyarakat yang secara 
enteng membuat intervensi. Mereka melihat semut di seberang lautan, tetapi 
tidak melihat gajah yang bergayutan di pelupuk mata sendiri.***

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hmkfp4d/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123196295/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke