Setelah berbagai pengalaman spiritual yang saya
jalani, dari seorang anak kebanggaan yang dibesarkan
dengan cara Islami, pintar sembahyang dan mengaji,
menghormati orang tua dan guru, hingga selesai kuliah
S1, S2, dan kemudian melintasi batas negara ini untuk
menuntut ilmu di negeri orang, dan sekarang menjadi
ateis kembali.

Saya menemukan memang banyak hal-hal yang tidak
rasional dalam kehidupan manusia. Ketika menemukan
bahwa agama yang saya pelajari selama ini dengan
sepenuh hati, ternyata hanyalah kepalsuan, saya memang
merasa marah.

Saya marah karena dibodohi. Saya marah kenapa saya
tidak dibesarkan dalam lingkungan yang lebih jujur.

Dan saya menjadi ateis.

Namun, segalanya tetap tidak berubah. Saya tetap
mengucap "Assalamu'alaikum" ketika bertemu sanak
keluarga, mengucap "Insya Allah" ketika berjanji, dan
menyebut "Alhamdulillah" ketika beruntung.

Bagi orang tua saya yang sudah mulai lanjut usia, saya
tetaplah anak kebanggaan mereka. Dan foto saya yang
tengah bersalaman dengan (mantan) Presiden Soeharto di
istana negara masih terpampang dengan megahnya di
ruang tamu rumah kami di kampung.

Adik saya saja, yang sudah berpangkat letnan dua di
Angkatan Darat, masih belum pernah menginjakkan kaki
di istana negara, tempat kediaman komandan
tertingginya.

Memang agama itu tidak rasional. Irrasional. Tidak
masuk akal. Namun melihat ritual-ritual yang dilakukan
masyarakat di seluruh dunia, tanpa agama akankah semua
menjadi sesemarak itu?

Akankah toko-toko hadiah akan seramai itu jika hari
Natal tidak diadakan lagi?

Bagaimanakah nasib para pedagang di Tanah Abang jika
Idul Fitri tidak dirayakan lagi? Tentu tidak ada lagi
masyarakat yang berbondong-bondong ke Tanah Abang buat
membeli baju lebaran.

Pada bulan puasa, para pedagang makanan tersenyum.
Masyarakat menghabiskan uang untuk berbelanja
kebutuhan pokok lebih banyak dari biasanya, pada bulan
puasa.

Jika hari-hari biasa tidak ada kolak, di bulan puasa
ada.

Dan berapa banyak masyarakat tidak mampu yang bisa
makan daging pada hari raya Idul Ad'ha?

Asal muasal korban dan hari raya Idul Ad'ha sungguh
sebuah cerita mitos yang mengada-ada. 

Namun mengingat pertolongannya terhadap kaum miskin
papa yang tak pernah mengecap daging sejak hari Raya
Idul Ad'ha tahun yang lalu, tentu tak akan mampu
membuat kita menyarankan bahwa Idul Ad'ha tidak perlu
dirayakan lagi.

Banyak irrasionalitas-irrasionalitas yang membuat
kehidupan semarak.

Namun tak sedikit pula yang menyebabkan kehancuran.

Saya sekarang adalah seorang ateis, ya.

Namun rasanya saya sudah naik satu tingkat lagi: 
saya adalah seorang ateis yang lebih bijaksana.

Saya bisa menerima irrasionalitas itu, walaupun tetap
menganggapnya sebagai sesuatu yang tetap irrasional.

Salam,
Xyzman Adam, Ph.D




                
____________________________________________________
Start your day with Yahoo! - make it your home page 
http://www.yahoo.com/r/hs 
 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hqeb1os/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123220411/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke