Islami sekali bapak ini, dan tentu saja saya terkagum-kagum mendengar 
pengalaman anda bersalaman dengan Dajal besar Indonesia. luar biasa 
mengagumkan....

Saya melihat, beberapa tokoh rasional yang mengagungkan cara memakai 
otaknya seperti cara mengoperasikan jam mekanik ataupun struktur kaku 
spesialisasi pabrik, tidak dapat menjamah struktur terdalam dari ilmu 
yang hanya bisa didekatkan dan digapai dalam suatu tindak Irrasional, 
sebut saja sebuah tindakan anti-logika. 

contoh saja : imajinasi.

dari mitologi, seorang Lenardo da Vinci merancang struktur utama dari 
Helikopter dengan hayalan tak berkepuguhan dia atas Hermes. Seorang 
pakar psikoanalisa, mengikuti pembacaan kehidupan secara garis alam 
bawah sadar dengan analisa mimpi -yang telah di-eksplorasi Islam, dan 
maaf jawa kuno- yang secara ironik menjadi bahan lelucon dan sarang 
ludah para ilmuwan anti-quantum yang Rasional, serasional tittle Phd 
anda. ataupun seorang tokoh atom, yang tidak bisa merumuskan kapan 
atom berubah bentuk menjadi gelombang dan kapan gelombang atom dapat 
berubah menjadi energi secara formula yang pasti, tetapi mereka dapat 
meramalkan secara random -acak, tidak logis, tidak ada suatu 
eksplanasi- kapan tepatnya atom berubah menjadi gelombang dan kapan 
atom dapat berubah menjadi energi. dan mereka menamakan pengalaman itu 
sebagai Ruh Kuantum, Ruh Kuantum adalah sebuah esensi dari ilmu 
sebelum ilmu itu dapat di-koding menjadi bahasa ataupun rumus sehingga 
dapat diuniversalkan pengertiannya.

Agama, Islam.. bekerja pada susunan maknawi, dan bergerak pada 
penjabaran metafor yang sekarang sedang dikembangkan oleh pakar-pakar 
macam Roland Barthes, Lyotard ataupun seorang Baudrillard. dan memang 
secara ironik mereka tidak percaya Tuhan yang satu, tetapi tidak dapat 
menyangkal Tuhan yang banyak. 

silahkan Bapak tengok, manusia tidak bisa lepas dari kodratnya sebagai 
mahluk ciptaan. Mereka selalu mencari sang Creator dalam bentuk apa 
saja. ketika Monotheisme mengalami penyerangan, sang penyerang berlari 
kearah Polytheisme secara sembunyi-sembunyi, tengok saja keironisan 
Nietzsche dengan Dynosiusnya, dan orang gila perubah dunia ini tidak 
merubah dunia dengan logikanya, namun alur pemikiran acak dari otak 
kiri dan otak kanannya secara brutal sehingga menghasilkanlah sebuah 
karya monumental yang mendasari pemikiran manusia abad kini, karya 
iblis itu dikenal dengan Zarathustra. 

dan percaya atau tidak, aku percaya bahwa kau profesor yang terhormat, 
ketika menghadapi suatu permasalahan yang sangat vital, akan diam-diam 
mencoba untuk berdoa. karena insting anda mengatakan, ada kuasa yang 
melebihi anda. sesungguhnya segala sesuatu itu berujung pada sebab, 
dan segala sebab berujung pada sebab yang tanpa sebab, dan itulah dia 
Tuhan. 

Prima causa yang Non causa. 

tanpa agama, moralitas manusia runtuh, tentu saja, rasa bersalah yang 
diciptakan agama telah memberikan suatu guru dan hakim spiritual 
didalam sanubari setiap insan manusia dibumi.

dan manusia jaman sekarang ini, sudah cukup pantas untuk diturunkan 
nabi Nuh dan dibuat kapal yang besar untuk menampung para kawan-kawan 
kita yang bermoral namun Irasional, dan membiarkan koruptor dan para 
barbar yang rasional namun tidak memiliki moral dan etika -bagaimana 
mungkin punya? bahkan merekapun menyangkal itu semua-

selamat main petak umpet 

--- In [email protected], Xyzman Irsyaad Adam <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> 
> Setelah berbagai pengalaman spiritual yang saya
> jalani, dari seorang anak kebanggaan yang dibesarkan
> dengan cara Islami, pintar sembahyang dan mengaji,
> menghormati orang tua dan guru, hingga selesai kuliah
> S1, S2, dan kemudian melintasi batas negara ini untuk
> menuntut ilmu di negeri orang, dan sekarang menjadi
> ateis kembali.
> 
> Saya menemukan memang banyak hal-hal yang tidak
> rasional dalam kehidupan manusia. Ketika menemukan
> bahwa agama yang saya pelajari selama ini dengan
> sepenuh hati, ternyata hanyalah kepalsuan, saya memang
> merasa marah.
> 
> Saya marah karena dibodohi. Saya marah kenapa saya
> tidak dibesarkan dalam lingkungan yang lebih jujur.
> 
> Dan saya menjadi ateis.
> 
> Namun, segalanya tetap tidak berubah. Saya tetap
> mengucap "Assalamu'alaikum" ketika bertemu sanak
> keluarga, mengucap "Insya Allah" ketika berjanji, dan
> menyebut "Alhamdulillah" ketika beruntung.
> 
> Bagi orang tua saya yang sudah mulai lanjut usia, saya
> tetaplah anak kebanggaan mereka. Dan foto saya yang
> tengah bersalaman dengan (mantan) Presiden Soeharto di
> istana negara masih terpampang dengan megahnya di
> ruang tamu rumah kami di kampung.
> 
> Adik saya saja, yang sudah berpangkat letnan dua di
> Angkatan Darat, masih belum pernah menginjakkan kaki
> di istana negara, tempat kediaman komandan
> tertingginya.
> 
> Memang agama itu tidak rasional. Irrasional. Tidak
> masuk akal. Namun melihat ritual-ritual yang dilakukan
> masyarakat di seluruh dunia, tanpa agama akankah semua
> menjadi sesemarak itu?
> 
> Akankah toko-toko hadiah akan seramai itu jika hari
> Natal tidak diadakan lagi?
> 
> Bagaimanakah nasib para pedagang di Tanah Abang jika
> Idul Fitri tidak dirayakan lagi? Tentu tidak ada lagi
> masyarakat yang berbondong-bondong ke Tanah Abang buat
> membeli baju lebaran.
> 
> Pada bulan puasa, para pedagang makanan tersenyum.
> Masyarakat menghabiskan uang untuk berbelanja
> kebutuhan pokok lebih banyak dari biasanya, pada bulan
> puasa.
> 
> Jika hari-hari biasa tidak ada kolak, di bulan puasa
> ada.
> 
> Dan berapa banyak masyarakat tidak mampu yang bisa
> makan daging pada hari raya Idul Ad'ha?
> 
> Asal muasal korban dan hari raya Idul Ad'ha sungguh
> sebuah cerita mitos yang mengada-ada. 
> 
> Namun mengingat pertolongannya terhadap kaum miskin
> papa yang tak pernah mengecap daging sejak hari Raya
> Idul Ad'ha tahun yang lalu, tentu tak akan mampu
> membuat kita menyarankan bahwa Idul Ad'ha tidak perlu
> dirayakan lagi.
> 
> Banyak irrasionalitas-irrasionalitas yang membuat
> kehidupan semarak.
> 
> Namun tak sedikit pula yang menyebabkan kehancuran.
> 
> Saya sekarang adalah seorang ateis, ya.
> 
> Namun rasanya saya sudah naik satu tingkat lagi: 
> saya adalah seorang ateis yang lebih bijaksana.
> 
> Saya bisa menerima irrasionalitas itu, walaupun tetap
> menganggapnya sebagai sesuatu yang tetap irrasional.
> 
> Salam,
> Xyzman Adam, Ph.D
> 
> 
> 
> 
>               
> ____________________________________________________
> Start your day with Yahoo! - make it your home page 
> http://www.yahoo.com/r/hs




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hs1l4mc/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123245380/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke