Ya, kaget campur senang juga di inbox tiba-tiba ada japri dari 
prominence milis. Dengan asam-garam yang dialaminya, sulit dipercaya 
Bang Sobron berkenan mampir ke inbox saya lalu ngobrol panjang lebar. 
Seperti kata johny, nyaris nggak ada nuansa kebencian atau sakit hati 
dalam obrolannya, kecuali ungkapan kecewa waktu saya kabarkan bahwa 
atlet balap sepeda AS di olimpiade '84 main doping lewat infus sel 
darah merah dengan kepadatan tertentu. Dia sudah menduga bahwa 
teknologi akan ambil bagian di LA. Tapi nggak menyangka kalau untuk 
beberapa keping medali emas saja manusia tega bertindak sekeji itu. 

Jadi, walau bulutangkis Indonesia kalah, saya masih bisa menghargai 
perjuangan para atlet selama mereka nggak pake doping, seringan 
apapun. Atlet beneran pasti tau maksud & tujuan berolahraga itu apa. 
Bagi atlet profesional beneran, kemenangan & uang hanyalah akibat. 

Makanya kita seperti dipaksa ngakak kalau untuk jogging aja ada 
yang harus doping arloji ber-GPS, sempak ketat, sepatu kelap-kelip, 
dan tak ketinggalan, susu kakerlak... 

--- "arra_s" <arra_s@...> wrote:

> saya juga sempet korespondensi sama almarhum, dulu jaman kuda gigit 
> besi, waktu masih demen chatting an..
> alm suka kirim puisi perjuangan..
> 
> semoga alm mendapat kebahagiaan di alam sana... 
> 
> --- "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
> 
> > Tulisan ini mengingatkan saya pada almarhum Sobron yang sempat 
> > menjadi teman korespondensi menjelang Olimpiade 2004 - Athena. 
> > Saat itu kami bertanya-tebak apakah dunia sudah kehabisan kota 
> > berinisial 'S'; 'T'; 'U' dst sebagai tuanrumah olimpiade, 
> > sehingga setelah Sydney 2000 olimpiade diulang kembali dari awal. 
> > Bukan saja kembali ke kota berinisial 'A', tapi tak tangung-
> > tanggung, kembali ke kota olimpade modern pertama, Athena. 
> > Kami bersok-tau seperti itu (tuanrumah olimpiade diurut ulang) 
> > karena IOC juga sudah mengumumkan tuanrumah untuk olimpiade 
> > berikutnya (2008) adalah Beijing - sebagai perwakilan dari kota 
> > berinisial 'B'. 
> > 
> > Sayang korespondensi tidak berlanjut. Namun, ada kesamaan pandang 
> > bahwa rusaknya gerakan dunia ini bukan diawali di Berlin 
> > (Olimpiade 1936) atau Moskow (Olimpiade 1980) sebagaimana 
> > dipropagandakan Barat, melainkan di Los Angeles 1984. Ya, pada 
> > 1984 itu olimpiade modern yang dilahirkan sebagai gerakan 
> > olahraga amatir (sukan), "dicuci bersih" sehingga menjadi pesta 
> > olahraga profesional dengan penyelenggaraan komersial. Menurut 
> > penilaian kami, ini adalah penyimpangan terhadap semangat & 
> > nilai-nilai olimpiade itu sendiri yang al. menjadi etalase budaya 
> > bangsa-bangsa di dunia seperti Anda ceritakan di bawah seputar 
> > sifat bangsa Belanda. 
> > 
> > Entah kebetulan entah bagaimana, tradisi olimpiade seperti selalu 
> > terbentur dengan huruf 'L'. Setelah Los Angeles, kini London 
> > (tuanrumah 2012) mengacak lagi urutan (A)thena, (B)eijing dst. 
> > Padahal, kalau syarat penyelenggaraan profesional & komersil 
> > menuntut tuanrumah yang kaya, tidak urut abjad, seingat saya alm 
> > Sobron lebih suka memilih nominator lainnya yakni, Paris. 
> > 
> > --- "ASAHAN" <a.alham1938@...> wrote:
> > 
> > > ASAHAN:
> > > 
> > > 
> > > ORANJE GAGAL MASUK QUART FINAL
> > > 
> > > Belanda dengan Oranje-nya keluar dari kajuaraan sepak bola 
> > > Eropah 2012 dengan mengantongi angka nol sesudah kegagalannya 
> > > yang ke tiga menghadapi Portugal. Rakyat Belanda menyambutnya 
> > > tentu saja dengan kekecewaan besar tapi tidak dengan kemarahan 
> > > apalagi ejekan. Para komentator olah raga yang sebelum 
> > > pertandingan dimulai menaruh harapan besar, optimisme dan 
> > > puji-pujian terhadap pemain-pemain handal mereka seperti Wesley 
> > > Snijder, Van Persie, Bommel dll. Di seluruh Belanda berkibar 
> > > bendera-bendera kecil segitiga berwarna oranye, di banyak 
> > > supermarket dijual berbagai macam artikel  untuk menyambut 
> > > kemenangan Oranje seperti topi-topi oranye, selendang oranje, 
> > > trompet plastik oranje, kaca mata hitam oranje, kaos oblong 
> > > oranje dan segala macam yang oranje bagi kenyambut kemenangan 
> > > keseblasan sepak bola Oranje mereka. Rasa optimisme dan 
> > > kebanggaan orang-orang Belanda terhadap Oranje sepak bola 
> > > mereka tidaklah mengherankan dan berlebih-lebihan. Tahun 2008 
> > > dalam kejuaraan dunia yang diadakan di Afrika Selatan, 
> > > negerinya Nelson Mandela, Oranje berhasil sampai hingga 
> > > ke final dan otomatis menjadi juara  kedua  piala dunia. Tahun 
> > > 1988 Oranje meraih juara pertama Eropah. Banyak sekali pemain 
> > > Oranje adalah juga anggota dari Club-Club yang paling terkemuka 
> > > di Eropah dan Internasional . Mereka diperjual belikan dengan 
> > > harga dari mulai jutaan hingga puluhan juta per orang. Pendek 
> > > kata Oranje punya nama harum, punya wibawa dan sangat disegani 
> > > oleh semua lawan-lawannya yang berkaliber dunia lainnya. Tapi 
> > > kali ini Oranje pulang kandang dengan angka nihil. 
> > > Sungguh mengecewakan. Saya  sendiri sebagai penduduk Belanda 
> > > dan warganya yang memegang paspor Belanda(administratif) dengan 
> > > sesungguh hati berharap Oranje akan berhasil menjuarai 
> > > kejuaraan Eropah 2012. Tapi ahirnya saya juga kecewa bersama 
> > > rakyat Belanda lainnya. Para komentator olah raga terkemuka 
> > > Belanda berdebat dan berdiskusi begitu hangat dan bergelora di 
> > > TV Nederland yang selalu saya ikuti dengan penuh interesan 
> > > hingga jauh malam. Persoalan terpokoknya: 
> > > mengapa Oranje kalah? Yah, mengapa kalah dan tidak menang? 
> > > Diskusi, analisa, perdebatan oleh para komentator oleh raga , 
> > > para coach, para ahli di bidang sport hingga para wartawan olah 
> > > raga dari beberapa koran terbesar di Belanda berlangsung setiap 
> > > malam. Jadi bukan sebarang omong asal ngomong, semuanya 
> > > omongan para ahli, analitikus olah raga dan para pelatih yang 
> > > terkemuka di Belanda. Tidak semuanya bisa saya ikuti dengan 
> > > baik karena bidang saya bukan olah raga dan hanya sekedar 
> > > penggemar yang tidak terlalu antusias.
> > > Kesan saya amat sederhana: Sejak awal pertandingan, saya 
> > > melihat dan merasakan bahwa lawan Oranje dari mulai Denmark, 
> > > Jerman hingga Portugal, jelas saya lihat kesebelasan lawan 
> > > Oranje tampak lebih unggul, lebih baik, lebih kompak dari 
> > > kesebelasan Oranje sendiri. Meskipun Oranje bukannya bermain 
> > > jelek, bahkan cukup bagus, tapi kesebelasan lawan mereka lebih 
> > > menampakan keunggulan yang selalu berhasil menahan dan 
> > > menggagalkan serangan-serangan Oranje yang hampir selalu 
> > > mengejar jarak 5 meter dari gol lawan yang selalu monoton, 
> > > itu-itu saja diulangi yang tanpa variasi yang mungkin 
> > > dimaksudkan untuk mencetak gol brilyant dan spektakuler tapi 
> > > selalu gagal dan digagalkan oleh pihak lawan yang manapun. Juga 
> > > Oranje kurang menunjukkan mentalitas yang lebih menonjol 
> > > daripada mentalitas lawannya yang begitu terkesan sungguh-
> > > sungguh dan berusaha keras untuk mengalahkan Oranje. Pada 
> > > Oranje terkesan dengan mentalitas: "pasti menang" dan bukannya  
> > > dengan tekad"harus menang"seperti yang dipunyai lawan-lawan 
> > > mereka sehingga yang seharusnya bermain lebih baik dari lawan 
> > > cuma menjadi "bagaimanpun Oranje pasti menang". Oranje selalu 
> > > diungguli lawannya dengan cara bermain lebih baik dari Oranje 
> > > sendiri. Hal itu telah dibuktikan dan dipertunjukkan oleh 
> > > permainan Denmark, Jerman hingga Portugal. Saya merasa Oranje 
> > > tidak boleh menerima kekalahan mereka dengan kesedihan tapi 
> > > dengan koreksi mental dan sikap sportif. Prestasi di bidang 
> > > olah raga tidak stabil tapi labil dan faktor mentalitas punya 
> > > peranan penting dan kadang-kadang menentukan.
> > > Beberapa komentar tentang kekalahan Oranje:
> > > Tentu saja banyak dan ditinjau dari berbagai bidang dan versi 
> > > masing-masing yang memberikan komentar baik para ahli maupun 
> > > orang awam yang saya perhatikan dengan penuh minat. Salah 
> > > satunya ada komentar dari koran METRO (koran gratis yang paling 
> > > tersebar di Belanda): ada seorang komentator yang mengatakan 
> > > kekalahan Belanda adalah juga disebabkan karena faktor 
> > > arogansi. Komentator itu membuktikan katanya bila seseorang 
> > > tinggal di Belanda dia akan menyaksikan dan merasakan betapa 
> > > Oranje itu arogan (sombong, tinggi hati). Tapi apakah faktor 
> > > arogan seseorang akan menentukan kalah dan menangnya sesuatu 
> > > pertandingan?.Tidak mudah menjawab soal itu. Memang satu hal,
> > > orang Belanda punya sifat suka "omong besar" atau "besar mulut"
> > > (grote mond). Dan yang suka mulut besar biasanya juga sombong. 
> > > Istri saya yang orang Vietnam bilang: "Belanda memang punya hak 
> > > sombong karena mereka banyak keunggulannya, pintar, pernah 
> > > kuat dan menjajah Indonesia selama tiga setengah abad". Lalu 
> > > saya jawab: "Kalau begitu Viernam juga berhak sombong karna 
> > > pernah mengalahkan Amerika". Istri saya bilang: "Vietnam tidak 
> > > punya sifat sombong, salah mereka sendiri!" 
> > > ASAHAN.
> > > Hoofddorp, 20 Juni 2012.
> >
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke