Kali ini tanggalkan dulu logika. Duduk diem dan dengarkan saja saya bercerita .

1996, pak haji ngajak saya ikutan "meeting para habib" di Jakarta. Seperti 
biasa, dengan sarung kotak-kotak ijo, baju koko, kopiah putih dan sandal serta 
sabuk gede gaya orang betawi tempoe doloe, pak haji kemudian duduk di samping 
saya. Mobil daihatsu astrea biru pun melaju menuju jakarta.

Kumpulan para habib. Saya duduk percis di samping pak haji. Kami duduk 
melingkar bersila. Aroma wangi dhupa dan iringan rebana ...Saya hanya diam. 
Duduk. Mengamati dan memperhatikan. Tak satupun dari sekian puluh orang itu 
berbicara seperti biasa, si haji ( demikian panggilan akrab saya pada pak haji) 
sekali-kali tertawa tergelak-gelak tanpa sebab. Setelah beberapa kali tertawa 
dengan nikmat, saya berbisik : "Ngetawain apa sih 'Ji ?" Haji menjawab : "Habib 
yang itu, yang di ujung itu tadi nanya sama haji, itu yang disamping haji siapa 
?" terus haji jawab "Ini anak saya !" trus habib bilang lagi..."Walah...itu 
anak dari istri ente yang ke berapa ?" ... terus haji ketawa, habib juga ketawa.

Saya bingun. "Nanyanya kapan ? Habib itukan duduknya jauh ? Kok saya nddak 
denger 'ji ? Ngobrolnya gimana ?" Saya memberondong pertanyaan sama pak haji. 
Pak haji senyum.

Waktu shalat maghrib datang. Para habib mundur untuk masuk masjid dengan 
menggunakan jalan khusus. Sementara haji harus masuk masjid lewat jalan umum 
karena haji bukan habib. bukan tuan rumah. Entah berapa ribu orang yang ikut 
berjamaah shalat maghrib, yang jelas saya dan pak haji bener-bener harus masuk 
dari bagian belakang masjid, sementara para habib bisa masuk langsung dari 
samping depan masjid menuju shaff pertama di depan mimbar.

Pak haji berbisik : "Tutup matanya dan pegang tangan haji !" Saya nddak banyak 
bertanya. Menutup mata dan memegang tangan haji erat-erat.

Nddak inget prosesnya bagaimana...

Hanya dalam hitungan detik, tiba-tiba saya sudah duduk di samping pak haji. Di 
shaft ke dua. Tepat di belakang barisan para habib. "Kok bisa 'ji ?" saya 
bertanya. Haji cuman senyum manis dan terus bershalawat.

Sulit untuk menemukan rangkaian kata mengenai apa yang dirasakan saat kami 
menunaikan shalat maghrib yang hanya 3 rakaat. Kayak bukan lagi di indo. laut 
dalam lautan manusia yang berbaju serba putih dengan wewangian yang sangat 
menenangkan jiwa serta dengan lantunan ayat-ayat suci yang menggetarkan hati.

Tak ada ceramah dengan gaya "sok artis" seperti ustad-ustad yang sok iye 
bergaya selebriti seperti di TV. Selesai shalat berdoa, bershalawat dan 
berjabat tangan bergantian dengan penuh rasa khidmat. kemudian kami pulang.

Nddak usah pakai akal. Nddak usah pakai logika. Bagaimana si haji bisa 
berkomunikasi tanpa bahasa lisan ? Bagaimana saya bisa diajak menembus sekian 
banyak orang di mesjid yang sekian besar hanya dalam hitungan detik tiba-tiba 
berada di shaff depan.

Haji yang unik dan nyentrik. Sampai di rumah sudah menjelang tengah malam. 
Sebelum tidur si haji berpesan : "Nanti  kalau ada yang datang pakai kijang ijo 
dari jakarta bilang aja haji udah tidur. tunggu aja sampai nanti pagi gitu ya 
!" Saya ngangguk.

Bener ajah. Selang beberapa jam ada kijang ijo masuk pekarangan rumah. Pintu 
saya buka sebelum ketukan berbunyi. Dua orang lelaki berbadan tegap dan 
berambut cepak sudah berdiri di depan pintu. "Pak haji ada ?" Saya menjawab 
percis seperti yang dipesankan pak haji. Tak lama kemudian, ... Seorang lelaki 
berperawakan tinggi besar dengan kulit gelap turun dari mobil. Saya sempat 
terkesima. Ini bukan orang biasa. Orang yang hampir tiap hari tampil di berita 
- berita televisi.

Tamu yang "di luar sana" adalah tamu yang sangat amat terhormat dan selalu 
dijaga ketat oleh para pengawalnya itu, kali ini tampil sebagai manusia biasa. 
Tidur di atas tikar di ruang tengah dengan bantal sederhana. Menunggu pagi 
tiba. Untuk bertemu pak haji. Sementara kedua orang berbadan tegap itu dengan 
sigap berjaga.

Jangan bicara tentang rasio dan logika. Yang datang ini jelas orang yang sangat 
cerdas dan berkuasa. Datang ke desa yang sangat jauh, dikelilingi sawah, di 
kaki gunung, di sebuah desa. Entah untuk apa.

Yang pasti, bada shalat subuh paling hanya 5 - 10 menit berbicara dan setelah 
itu bergegas pulang dengan sedan ijo layaknya orang biasa.

Saya bertanya pada pak haji : "Ngapain seh jauh-jauah datang ke sini ? Kenapa 
nggak pakai telpon ajah ?" Pak haji nyengir. "Udah jangan banyak tanya. Malam 
ini kita Shalawat empat ribu empat ratus empat puluh empat kali berjamaah !"

Heu..heu !

Love You 'Ji ... :-)






------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke