B> Salah satu ciri-ciri yang dimiliki oleh seorang Leader, adalah kemampuan 
untuk generate visi misi dan pemikiran baru. Mereka mampu melakukan abstraction 
thinking maupun intuition untuk masa depan. Mereka orang-orang yang secara 
visioner mampu melihat masa depan dan tantangannya. Mereka orang-orang yang 
tidak pernah menengok ke belakang.

Bagi mereka, sejarah adalah raw material atau input data, untuk diolah melalui 
berbagai proses methodologi berpikir (salah satunya dengan methodologi history 
materi dan dialektika materialisme), dan digunakan untuk produce visi atau new 
ideas untuk antisipasi (adaptasi) masa depan, maupun create atau menginovasi 
(drive) peradaban bagi masa depan...

Di negara maju, seperti Amerika dan Eropa, dimana mayoritas masyarakatnya sudah 
cerdas, maka visi misi baru  yang ditawarkan oleh seorang Leader, bisa dinilai 
secara personal oleh masyarakatnya.

Namun bagaimana kalau ada seorang Leader yang hidup diantara masyarakat yang IQ 
rata-rata masyarakatnya rendah yang implikasinya berkecenderungan untuk 
berpikir status quo.

Masalah ini sebenarnya kita bisa bercermin kepada bolshevisme Russia.

Vladimir Ilyich Lenin sempat mengatakan, fortunately (untungnya), orang-orang 
di Sosial Demokrat Russia, atau petinggi-petinggi Sosial Demokrat sudah 
mempunyai kesadaran Dialektika Materialisme dan sains modern, apalagi ada sang 
master atau datuk Materialisme Russia, Georgi Plekhanov.

Namun bagaimana dengan mayoritas rakyat Russia yang masih agraris dan sebagian 
sudah menjadi tenaga buruh industry?

Untuk itulah melihat perspektive demikian, saya rasa Vladimir Ilyich Lenin 
tidak salah untuk membuat Central Committe dan Diktaktor Proletariat, 
orang-orang disini adalah terdiri  dari orang-orang cerdas yang mewakili 
seluruh rakyat untuk menguji visi misi baru yang ditawarkan oleh sang Leader 
untuk di-implementasikan ke seluruh rakjat.

Apabila waktu itu Vladimir  Ilyich Lenin menyerahkan demokrasi penuh ke setiap 
orang pada waktu itu, yalah tahun 1900-1917, maka saya yakin rakyat Russia 
banyak yang memilih status quo, tetap berpola pikir kristen orthodox/pola pikir 
lama, dan kemampuan baca mereka masih di level 30%.

Namun, sekali lagi, saya melihat Vladimir Ilyich Lenin adalah seorang Leader 
yang tidak hanya genius di visi, namun juga di taktik dan strategy, bahkan ia 
menuliskan pentingnya fisika dan sains exact untuk dikuasai oleh orang Russia. 
Lenin mampu melihat masa depan (visioner), sehingga akhirnya ketika revolusinya 
berhasil, memang ia 'memaksakan' agar masyarakat Russia untuk bersekolah dan 
meminggirkan agama untuk diganti sains exact, seperti  fisika dan math. Menurut 
keterangan sejarah, kemampuan baca rakyat Russia  meningkat tajam di tahun 
1938-an, atau 21 tahun setelah revolusi mereka sudah mencapai angka masyarakat 
bisa membaca sebesar 70%, dan mulai bermunculan fisikawan-fisikawan serta 
biologis-biologis kelas kakap seperti Alexandrovich Friedman yang membuat 
perhitungan mathematis tentang Big Bang.

Marxis Russia menulis, bahwa di sekitaran tahun 1938,  di masa Joseph Stalin, 
mereka tidak saja maju menjadi negara industry nomor dua setelah Amerika, 
(sebelumnya nomor 8), namun juga melahirkan banyak saintis.

Saat ini, salah satu keunggulan negeri Russia adalah banyak warga-negaranya 
yang berpendidikan tinggi terutama ilmu exact math dan natural sains. Hal ini 
bukanlah kebetulan atau keinginan mereka sendiri-sendiri, tapi memang  ini visi 
Vladimir Ilyich Lenin di tahun 1900-an, untuk menyusun Russia baru.
+++++

Kembali kepada Indonesia, Richard Lynn dan Tatu Van Hanen menyatakan bahwa IQ 
rata-rata rakyat Indonesia masih berkisar di angka 89, jadi apabila keputusan 
anda serahkan kepada setiap manusia Indonesia, saya kira hasilnya mereka akan 
memilih Status Quo. Didalam kondisi masyarakat yang demikian, apabila visi misi 
baru yang cemerlang dari seorang Leader dan di demokratisasikan dengan cara one 
man one vote, maka saya kira secanggih-canggih dan semaju-majunya pemikiran 
seorang Leader, maka ia akan kalah dengan pemikiran-pemikiran status quo dari 
sistem demokrasi one man one vote jika IQ rata-rata masyarakatnya masih rendah.

Di titik ini, kita berada di persimpangan jalan, antara demokrasi  seluruh 
rakyat (one man one vote) atau demokrasi terpimpin/diktaktor proletariat dengan 
perwakilan rakyat melalui central commite.

Tugas seorang Leader, salah satunya sebenarnya adalah pengembangan SDM rakyat 
dan mengubah/memodernisasi cara berpikir/pola pikir/weltanschaaung/world view 
rakyat.

Untuk itulah, dari analisa saya, saya melihat Indonesia ini seringkali hanya 
mengadopsi sesuatu namun tidak kontekstual, atau tidak melihat situasi kondisi 
terlebih dahulu.

Saya sendiri punya thesis bahwasanya:

1. Seorang Leader harus selalu punya visi misi dan gagasan baru untuk masa 
depan. Tugasnya, salah satu-nya adalah pengembangan SDM rakyat, dan me-revolusi 
pemikiran-pemikiran/pola pikir/world view rakyat dari pemikiran-pemikiran lama 
ke pemikiran-pemikiran baru sesuai zaman atau melampui zaman, demikian tugas 
seorang leader harus selalu produce visi dan misi baru secara berkesinambungan 
(permanent revolution)

2. Demokrasi Indonesia, dilandasi oleh fakta penelitian Richard Lynn dan Tatu 
Van Hanen, yaitu rata-rata IQ rakyat Indonesia adalah 89, maka ini akan 
cenderung mempunyai implikasi pemikiran-pemikiran yang status quo, 
anti-perubahan, anti-pemikiran baru,  sehingga demokrasi yang tepat untuk 
diterapkan di Indonesia dalam situasi dan kondisi seperti ini adalah demokrasi 
terpimpin, namun prioritas utamanya adalah pengembangan SDM melalui edukasi dan 
menaikan IQ rata-rata masyarakat

3. Ketika IQ rata-rata masyarakat sudah tinggi, katakanlah dititik 100, maka 
demokrasi terpimpin harus diganti dengan demokrasi Liberal. Demokrasi terpimpin 
hanya merupakan fase jembatan/bridging untuk mendikte atau 'memaksa' rakyat 
agar mereka menjadi masyarakat yang educated dan improve kecerdasan rakyat.

+++++
Modernisasi

Dunia dan zaman akan selalu mengalami perubahan, untuk itu modernisasi adalah 
keniscayaan. Namun sebelum melakukan modernisasi sistem politik dan ekonomi dan 
sektor-sektor lainnya, saya kira yang paling essensial untuk dimodernisasi 
terlebih dahulu adalah edukasi masyarakat atau pola 
pikir/mindset/worldview/weltanschauung masyarakat. (penyadaran masyarakat)

Modernisasi adalah hasil dari visi dan pemikiran baru, sehingga ketika 
masyarakat belum mampu produce visi dan pemikiran-pemikiran baru, maka mustahil 
akan terjadi modernisasi di sektor-sektor riil seperti sistem politik dan 
ekonomi ataupun kebudayaan. 

Segala perubahan atau modernisasi, yang terjadi di sektor riil, semisal 
perubahan poleksosbudhankam, selalu dihasilkan atau dimulai dari sebuah visi, 
ide atau gagasan baru...

"Tidak akan terjadi modernisasi  ataupun revolusi tanpa didahului oleh  
revolusi theory atau ide-ide maupun gagasan-gagasan untuk revolusi..."

25 june 12

#ws







------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke