Ref: Bagus nan indah ataukah kurang cermerlang, apabila bank pusat pailit?
http://www.analisadaily.com/news/read/2012/06/27/59228/ekonom_bank_indonesia_tengah_dihampiri_gejala_pailit/#.T-vos_XDMeU Ekonom : Bank Indonesia Tengah Dihampiri Gejala Pailit Jakarta, (Analisa). Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Revrisond Baswir menilai, sejumlah kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia (BI) dalam upayanya menjaga stabilitas moneter telah menunjukkan bahwa bank sentral tengah dihampiri gejala kepailitan. "Kalau kita bicara likuiditas, maka BI sangat tergantung dari Kementerian Keuangan. Kalau BI pailit, maka Kemenkeu yang harus membeli. Kita tengok saja gejalanya, belum apa-apa Kemenkeu sudah minta stand by loan. Itu artinya, BI sudah minta tolong. Itu yang saya tangkap," kata Revrisond kepada Ipotnews di kantor Akbar Tandjung Institute Jakarta, Senin (25/6). Revrisond mengungkapkan, terkait dengan sejumlah kebijakan BI dan upaya pemerintah menambah stand by loan jangan hanya dipandang sebagai usaha untuk menambah pasokan dolar Amerika Serikat. "Kita harus melihat kronologisnya. Lihat pada 2011, BI mengalami defisit, artinya untuk menjaga kurs BI belanja besar. Sampai-sampai BI merengek meminta izin supaya memperjualbelikan SUN nomor tertentu yang tadinya tidak boleh diperjualbelikan," papar Revrisond. Dia mengatakan, BI mengalami defisit anggaran hingga Rp25,14 triliun di 2011, padahal pada 2010 angkanya hanya Rp21,15 triliun. Sedianya, dana tersebut digunakan BI dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan optimalisasi pengeloaan likuiditas di pasar uang domestik. "Tahun lalu sudah defisit, tahun ini mau nambah defisit atau bagaimana?" Imbuhnya. Dengan demikian, kata Revrisond, langkah yang ditempuh BI tersebut berpengaruh pada peningkatan beban pengendalian moneter. Pada 2011, beban pengendalian moneter mencapai Rp30,4 triliun dan beban lainnya adalah jasa giro kepada pemerintah sebesar Rp4,7 triliun. BI juga mengalami kerugian selisih kurs karena penjabaran transaksi valuta asing ke dalam rupiah sebesar Rp11,7 triliun yang merupakan konsekuensi dari pelaksanaan kebijakan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kondisi yang tengah dialami BI tersebut, kata Revrisond, sekaligus menandakan bahwa BI tengah mengalami kesulitan anggaran. Dengan demikian, lanjut dia, kebijakan BI soal Devisa Hasil Ekspor (DHE) atau pun pembentukan outlet Term Deposit (TD) menujukkan bahwa BI sedang menghadapi masalah yang serius. "Kita lihat saja jalannya rupiah. BI sudah defisit, pemerintah sudah menambah stand by loan, tetapi kurs masih terus melemah. Itu berarti masalah BI berat," ujarnya. Seperti diketahui, pemerintah menargetkan memperoleh pinjaman siaga senilai USD5 miliar atau sekitar Rp46 triliun sebagai cadangan bagi pembiayaan defisit anggaran negara. Sejauh ini pemerintah sudah memperoleh pinjaman siaga sebesar USD2 miliar dari Bank Dunia. (ipot) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
