http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/ranesi-kurangi-ketegangan-dan-konflik-papua#comment-form
Ranesi Kurangi Ketegangan dan Konflik Papua
Diterbitkan : 28 Juni 2012 - 10:29am | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto: 
Aboeprijadi Santoso) 
Diarsip dalam: 
  a.. papua 
  b.. ranesi
Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio 
Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu 
tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel 
khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar. Kali ini giliran suara 
dari Papua.

Radio Nederland dan media asing merupakan jendela bagi Papua agar didengar 
dunia, tapi juga agar melaporkan fakta-fakta yang terjadi sehingga dapat 
meminimalisir ketegangan dan konflik di wilayaj tersebut. Demikian kesimpulan 
dua suara dari Papua. 

“Demokrasi di Indonesia itu minus Papua, tak ada kebebasan pers di sini. Ini 
mirip nasib orang Jawa di bawah Belanda tahun 1900an atau orang Afrika Selatan 
tahun 1950an,” demikian keluh Pendeta Benny Giay senada dengan Marten Goo dari 
kelompok NAPAS, National Papuan Solidarity.

“Kalau bisa bantulah kami, dunia perlu bantu kami. Gereja kami punya peralatan 
radio tapi tak mampu membiayai program program radio komunitas,” ujar Pendeta 
Benny Giay. Menurut pendeta Papua ini, selama tahun-tahun belakangan, Ranesi 
dan media luar lainnya itu penting. “Kita bisa bilang itu semacam jendela 
melalui mana kita bisa lihat dunia luar, kita bisa rasakan suara orang Papua 
bisa didengar disana.”

Dipanah dua kali 
“Dengan tutupnya Ranesi, maka itu menjadi tragedi. Kita sudah diserang 
habis-habisan. Masyarakat sipil tak punya ruang hidup, jadi kita dipanah dua 
kali, satu dari Indonesia karena tak ada kebebasan pers. Satu lagi dari Radio 
Nederland. Ini tikaman dua kali.”

Baik Pendeta Benny Giay mau pun aktivis Jakarta dari Papua, Marten Goo, 
berpendapat alasan menutup Ranesi itu “aneh”. “Media asing seperti Radio 
Nederland kan kanal yang harus dibuka karena menjalankan peran ini mengangkat 
suara Papua yang dibungkam. Orang-orang Papua setia mendengar, mereka tidak 
takut dengar radio. Dengan begitu, ini memberi semacam kekuatan ini 
solidaritas, memberi kekuatan psikologis.”

Bebas minus Papua
Kedua tokoh Papua tersebut membenarkan bahwa Indonesia memang sudah demokratis 
tetapi sebenarnya minus Papua. Kalau Papua termasuk Indonesia, maka pers di 
Papua belum bebas. Media massa di Papua kadang diserang, diteror, termasuk 
dalam kasus pembunuhan mutakhir terhadap Mako Tabuni. Dia itu pernah memukul 
seorang tentara yang menyamar mengaku wartawan. Jadi, pers di Indonesia itu 
bebas dalam arti Indonesia minus Papua, tuturnya. 

Menurut Benny Giay, praktek penguasa di Papua masih seperti di masa Orde Baru. 
“Pemilik suratkabar masih sering ditelpon, wartawan dikejar-kejar, dipecat, 
tentara juga punya saham di koran-koran. Ini kita bisa lihat, maka saya bilang 
ini sama dengan nasib orang Jawa di tahun 1900 an, atau orang Afrika Selatan 
tahun 1950 an dimana semua koran dikuasai negara demi menjaga keamanan. Nah ini 
kita tidak bisa keluar dari bingkai-bingkai ideologis (NKRI) ini,” tambahnya.

Tentang ditutupnya Ranesi, “dat is jammer omdat ik denk Radio Nederland geeft 
ons een stem, veel Papuans luisterden naar Radio Nederland!” (Sayang sekali, 
sebab Radio Nederland memberi suara kepada kami, banyak orang Papua 
mendengarkan Radio Nederland), demikian keluh Pendeta B. Giay, jebolan fakultas 
theologi Vrije Universiteit di Amsterdam tersebut.

Aktivis National Papuan Solidarity (NAPAS) Marten Goo senada. “Kalau Freeport 
aman, aparat tidak mendapat dana keamanan, maka harus dipastikan ada konflik. 
Di Puncak Jaya minimal setiap tahun harus ada konflik sebab APBD (Anggaran 
Pembangunan & Belanja Daerah) sebesar Rp 3 milyar itu, kalau tidak ada konflik, 
maka dana itu harus dikembalikan.”

Dilarang sebarkan hasil investigasi
Dalam kerangka itulah, “kami melihat misalnya teman-teman yang mengasuh Jubi 
online melaporkan diri mereka terancam. Mereka dilarang menyebarkan hasil 
investigasi kasus penembakan Mako Tabuni. Lihat juga wartawan asing susah masuk 
Papua, jangankan wartawan, advokasi internasional juga susah masuk. 

"Ini berarti Papua diisolir. Kalau sudah begitu, ini itu dilarang, itu artinya 
Papua belum demokratis. Orang mendoa (di makam pemimpin Papua alm. Theys Eluay) 
saja dilarang. Jadi media luar itu dapat membantu kami. Kami senang kalau media 
luar (Indonesia dan asing) masuk, karena mereka akan menyampaikan apa-apa yang 
terjadi. Kalau mereka tidak bisa masuk, justru kami bingung, kemana lagi kami 
akan menyalurkan fakta. Penyiaran fakta-fakta yang terjadi – itu dapat 
meminimalisir konflik,” demikian ungkap Marten Goo.



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke