Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi 
hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap 
ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu 
ketika, untuk membeli sebuah saputangan yang mana semua bisa membiayai keduanya 
sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya 
tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau 
mempunyai jiwa yang begitu lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di 
jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"
 
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, 
dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak 
ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, 
telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. 

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah 
dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. 

Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas 
bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari 
kerja dan mengirimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, 
dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.

Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari 
seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada 
punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di 
universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan 
memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat 
adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. 

Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah 
adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan 
mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan 
menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari 
adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli 
omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku 
bagaimana pun penampilanmu..." 

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia 
memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota 
memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat 
menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan 
menangis dan menangis.

Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, 
kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. 
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu 
tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" 
Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk 
membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka 
ketika memasang kaca jendela baru itu.." 

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus 
jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan mebalut 
lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, 
ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku 
setiap waktu.

Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan ..." Ditengah kalimat itu ia 
berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras 
turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. 
Banyak kali suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal 
bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali 
meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa.

Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan 
menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami 
menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen 
pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai 
bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika 
ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi 
menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,

"Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus 
melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang 
begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?" Dengan 
tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak 
ipar -- ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika 
saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" 
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang 
sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku.

Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia

menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, 
pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati 
dan kasihi?" 

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." Ia melanjutkan dengan 
menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya 
pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan 
saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu 
hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari 
kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami 
tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin 
sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, 
selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya 
kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, 
orang yang paling aku berterimakasih adalah adikku." 

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan 
ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"


Ch@​​™
pin: 21EF6D92
Surabaya




Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke