Charisal Manu Kepala BPS Alor seorang Aktivist Gereja Jadi Tersangka Pelecehan 
Al Quran
Oleh : Fakta <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  07 Aug, 05 - 12:30 am


Kasus penghinaan al-Qur'an di Alor, Nusa Tenggara Timur, berjalan nyaris tanpa 
pembelaan dari umat Islam Indonesia. Jika di Guantanamo saja kita bergerak, 
kenapa yang terjadi di negeri sendiri tidak?

Pekan lalu, SABILI yang berkali-kali menyambangi kantor Polisi Resort Alor, 
berkali-kali pula harus kecewa. AKBP Marsudi Wahyuono, Kapolres Alor, begitu 
susah ditemui untuk menjawab pertanyaan seputar pelecehan al-Qur'an di wilayah 
hukumnya. Alasan terakhir yang sampai ke SABILI adalah, Kapolres sedang berada 
di luar daerah. Wakapolres, yang ditemui SABILI pun hanya memberikan jawaban 
sekadarnya. Menurutnya, sebagai wakil, dirinya tak berwenang memberikan jawaban 
yang bersifat publikatif. "Yang berwenang Kapolres," ujarnya singkat. Dan 
dengan begitu, usaha menemui Charisal Manu, Kepala BPS, tersangka penghinaan 
atas al-Qur'an, menemui jalan buntu.

Kepolisian mengatakan, Charisal Manu tidak bisa ditemui, bahkan untuk wawancara 
sekali pun, karena alasan keamanan.

Tak hanya Kapolres Alor yang begitu susah ditemui, Bupati Alor pun seperti tak 
terjamah. Sampai tulisan ini diturunkan, SABILI belum berhasil menjumpai Bupati 
Alor, Ir Ansgerius Takalapeta. Petugas protokoler kabupaten mengatakan, bupati 
juga sedang berada di luar kota.

Keterangan serba sedikit, keluar dari Kejaksaan Negeri kabupaten Alor, Mangisi 
Sitangang, SH, yang belum genap setahun bertugas di Alor. Kepada SABILI ia 
mengatakan enggan jika pernyataannya direkam. Ia lebih memilih obrolan ringan 
saja, daripada sebuah wawancara. "Jika ada yang melecehkan
al-Qur'an, kitab saudara-saudara Muslim, saya sebagai umat Katolik ikut pula 
merasakan sakit hati. Sebaliknya, jika ada yang melecehkan Alkitab, 
saudara-saudara Muslim juga saya kira turut tersentuh," ujarnya pada Tamrin 
Koho, dari SABILI.

Keengganan dan susahnya para petinggi di Alor untuk dikonfirmasi, tampaknya 
sebuah tanda tersendiri atas perjalanan kasus pelecehan al-Qur'an. Di Kejaksaan 
misalnya, berkas-berkas yang telah dilimpahkan, dikembalikan lagi
dengan alasan kurang bukti dan belum cukup persyaratan. Bahkan, menurut 
Kejaksaan Negeri Kalabahi, belum ada barang bukti yang diserahkan dari polisi. 
"Pengembalian berkas itu wajar, kami masih menunggu kelengkapan dari 
kepolisian," ujar Mangisi.

Kasus ini bermula dari sebuah buku yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik 
Alor. Pada cover buku tersebut, nampak sebuah foto seorang penari Cakalele, 
sebuah tarian perang, lengkap dengan atribut perangnya, menginjak-injak sebuah 
buku
tua, yang diduga adalah manuskrip al-Qur'an kuno di Alor Besar.

Adalah Prayudho Bagus Jatmiko, seorang staf kantor BPS Alor yang mengendus 
aroma pelecehan ini pertama kali. Pada 4 Juni 2005 lalu, Prayudho mendapat 
tugas untuk menyiapkan tampilan depan sebuah buku laporan BPS. Ruang kerja 
atasannya, Kepala BPS, Charisal Manu, menjadi posko penggarapan proyek ini.

Saat membuka komputer, beberapa nama file sempat dilihat oleh Prayudho. Salah 
satunya adalah sebuah file dengan subyek cover dengan judul Penduduk Kabupaten 
Alor 2004 yang dikerjakan dalam program free hand. Nampak oleh Prayudho, dalam 
gambar cover yang siap cetak tersebut sebuah gambar seorang penari Cakalele 
yang menginjak-injak sebuah buku tua.

Mendapati sesuatu yang ganjil, Prayudho langsung menanyakan pada atasannya, 
Charisal Manu, apakah buku ini sudah diterbitkan. "Belum, nanti covernya akan 
diganti dulu. Sebab, itu buku kuno, nanti orang yang punya buku ini marah kalau 
melihat bukunya dibikin seperti ini," ujar Charisal kala itu
seperti dicantumkan Prayudho dalam kronologis yang dibuatnya.

Sehari berselang setelah dialog itu, Charisal Manu dikabarkan terbang menuju 
Makassar untuk mengikuti kegiatan sebuah gereja. Meski Charisal Manu telah 
mengatakan cover buku tersebut akan diganti, nyatanya, pada 6 Juni 2005, 
Prayudho menemukan sebuah buku yang telah tercetak dan siap edar dengan gambar 
cover sama persis dengan yang ia temukan dalam file komputer. Hari itu juga, 
terjadi diskusi dan pembahasan kecil di antara karyawan BPS Alor untuk 
memastikan apakah gambar dalam cover tersebut al-Qur'an atau bukan. Untuk 
memastikan, Prayudho melacak dan membuka kembali file digital
tersebut, lalu memperbesar gambarnya. Dan hasilnya, sungguh sebuah tamparan 
luar biasa. Yang berada di ujung kaki penari Cakalele dan sedang diinjak-injak 
tersebut, dipastikan adalah al-Qur'an. Dugaan Prayudho dan kawan-kawan, cover 
buku tersebut bikinan Charisal Manu sendiri, seorang aktivis gereja yang kini 
menjabat sebagai Kepala BPS Alor.

Gelegak kemarahan seolah tak tertahan di antara Prayudho dan karyawan Muslim 
BPS Alor lainnya. Dengan menahan emosi, Prayudho dan seorang pegawai BPS 
lainnya, Abdullah Igo, menghadap H Amir Tahir, Ketua Majelis Ulama Indonesia
wilayah Alor. Kepada Amir Tahir, Prayudho meminta agar Ketua MUI tersebut 
membaca dan menyelidiki apa yang tertera di dalam mushaf tua itu. Tapi karena 
memang terlalu samar, Amir Tahir gagal mengetahui.

Tak kehilangan akal, Amir Tahir memberikan mandat pada Prayudho dan Abdullah 
Igo untuk melakukan penyelidikan secara mendalam. Abdullah Igo pun bergerilya 
menuju Museum Kalabahi tempat menyimpan replika mushaf al-Qur'an Alor Besar 
itu. Tapi foto replika ini pun masih belum cukup memberikan bukti. Keesokan 
harinya, berbekal selarik foto replika dan buku terbitan BPS, beberapa elemen 
umat pergi ke Alor Besar untuk menyelidiki dan membandingkan langsung dengan 
mushaf asli yang diyakini peninggalan Kerajaan Islam Ternate. Dan lagi-lagi, 
semua yang hadir kala itu, MUI Alor, Imam Masjid dan juga anggota masyarakat, 
dibuat seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Mereka menemukan, 
gambar yang terdapat dalam cover buku BPS tersebut, sama persis dengan mushaf 
kuno pada bagian surat at-Taubah ayat lima.

"Apabila habis bulan-bulan haram, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di 
mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan 
intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat 
serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Demikian arti surat 
at-Taubah ayat lima itu.

Bagi Prayudho dan beberapa orang yang hadir kala itu, tentu saja ini bukan 
sekadar kebetulan. Ayat perang yang sedang diinjak-injak oleh Cakalele, sebuah 
tarian perang. Bukan saja sebuah pelecehan, tapi bisa punya maksud lain. apakah 
ini sebuah provokasi untuk umat Islam?

Sejak itu, beberapa penyelidikan secara intensif dilakukan berbagai komponen 
umat Islam. Tujuannya tidak lain, untuk memastikan dan jangan sampai ini 
sekadar menjadi pemicu emosional. Dan lagi-lagi bisa dipastikan, bahwa yang
berada di ujung kaki penari Cakalele tersebut, tak lain adalah al-Qur'an.

Berbekal hasil penyelidikan, 13 Juni 2005, beberapa komponen dan tokoh umat 
Islam merumuskan pernyataan sikap di Masjid Al fatah, Wetabua. Namun, belum 
lagi rumusan sikap itu selesai, massa sudah pecah di jalan untuk menyatakan 
protes atas pelecehan al-Qur'an tersebut. Berbagai seruan dan slogan jihad 
dikumandangkan. Dan kian sore, jalan-jalan sudah dibanjiri oleh ribuan umat 
Islam.

Suasana begitu mencekam sore itu. Laki-laki, perempuan, tua dan muda, melimpah 
di berbagai sudut kota meneriakkan rasa tak rela atas penghinaan pada kitab 
suci. Massa berhasil ditenangkan ketika Ramlan Rasyidi, Ketua Ikatan Dai 
Indonesia untuk wilayah Alor, yang juga Lurah Wetabua, sebuah desa Muslim yang 
disegani, meminta umat Islam untuk tenang dan menyerahkan penyelesaiannya pada 
aparat keamanan.

Suasana kian panas saat penjemputan Charisal Manu di Bandara Mali. Bahkan 
ketika sampai di kepolisian pun, suasana kian tak terkendali setelah seorang 
pemuda yang ingin memastikan Charisal Manu ditahan, dipermak oleh aparat 
kepolisian. Dan seketika, pecah amuk massa. Di berbagai perempatan jalan,
sudah nampak ban-ban bekas dibakar dan menjadi api unggun.

Bahkan, pada 16 Juni 2005, telah terjadi perkelahian massa antara para pemuda 
Sawah Lama, perkampungan Muslim dengan pemuda-pemuda dari Batutanata, 
perkampungan Kristen. Untuk meredam aksi rusuh massal, Jumat, 17 Juni 2005, 
tokoh dan pimpinan umat mempersiapkan aksi damai untuk memprotes kasus
Charisal Manu di Masjid Babul Jihad, Wetabua. Keesokan harinya, puluhan ribu 
umat Islam kembali tumpah ke jalan. Berparade membagikan pernyataan dan 
selebaran di setiap kantor yang dilewati, termasuk Kantor BPS.

Selang sehari, terjadi teror yang tak diduga-duga pada Abdullah Igo dan Syaaban 
Boro, staf Muslim BPS yang turut melakukan investigasi kasus ini. Rumah 
Abdullah Igo dan Syaaban Boro dilempari oleh orang tak dikenal. Selama
tiga hari berturut-turut. Prayudho sendiri mendapat teror lewat telepon dari 
nomor seluler yang tak ia kenal. Ada pula teror yang mengatakan, akan ada 
kepala yang hilang apabila Charisal Manu dicopot atau dipindahkan.

Setelah itu, beredar isu, spanduk tuntutan pada Charisal Manu yang dipasang di 
depan kantor BPS dicopot paksa. Hal ini menyulut kemarahan umat Islam Alor yang 
langsung mendatangi kantor BPS, sehingga terjadilah aksi pelemparan hingga hari 
gelap. Para pemuda di berbagai perkampungan Muslim telah bersiaga dalam situasi 
malam yang menegangkan.

Tapi, seolah hendak benar-benar memancing emosi, Bupati Alor malah membuat 
pernyataan yang menggusarkan. Lewat sebuah media massa, Bupati Alor Ans 
Takalapeta mengatakan, "Gambar dalam sampul buku terbitan BPS Kabupaten Alor, 
hanya ekspresi seni belaka." Tentu saja pernyataan ini kian membuat umat Islam 
Alor gerah.

Mungkin karena khawatir terjadi respon atas pernyataan Bupati, beberapa PNS 
nampak membagikan uang sebesar Rp 400.000 pada pengurus dan remaja masjid. 
Konon, uang ini disebut sebagai tanda terima kasih telah melakukan aksi
damai dan menjaga ketenteraman kota. Namun, para pengurus dan remaja masjid 
yang menerima dana tak jelas tersebut, mengumpulkannya kembali dan 
menyerahkannya pada polisi.  Sebuah aksi penyuapan?

Apapun itu, tanpa harus disuap dengan uang pun, pada hakikatnya umat Islam 
ingin memelihara perdamaian. Tapi, tentu saja bukan tanpa syarat. Sebuah syarat 
sederhana, jangan lagi memancing emosi, apalagi melakukan provokasi.
Sebab, jika al-Qur'an dan akidah yang telah dilecehkan, umat Islam tak akan 
tinggal diam. (Sabili) Tamrin Koho (Alor), Herry Nurdi 


Kepala BPS Alor Jadi Tersangka Pelecehan Al Quran


Senin, 20 Juni 2005 : TEMPO Interaktif, Kupang:Polisi menetapkan Kepala Badan 
Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Alor Ir. CAM sebagai tersangka dan sementara 
menjalani penahanan di Mapolres setempat dalam kasus dugaan pelecehan kitab 
suci Al Quran. 

CAM dianggap paling bertanggung jawab dalam penerbitan dan peredaran buku 
berjudul "Penduduk Kabupaten Alor 2003." 

Pada sampul bagian depan buku yang berisi statistik penduduk tersebut, terdapat 
seorang penari Cakalele berdiri di atas sebuah buku mirip Al Quran.

Kapolres Alor, Ajun Komisaris Besar Polisi Marsudi Wahyono, kepada wartawan di 
Kalabahi, Senin (20/6), mengatakan penetapan tersangka dan penahanan terhadap 
kepala BPS dilakukan setelah pihaknya berhasil mengumpulkan bukti-bukti. 

Kepolisian juga berencana akan meminta keterangan saksi ahli dari Departemen 
Agama untuk meneliti sampul buku yang dinilai telah melecehkan kitab suci umat 
Islam itu. Wahyono menambahkan, pihaknya telah menarik sebagian besar buku yang 
telah beredar.

"Sesuai keterangan yang diperoleh, buku yang dicetak jumlahnya terbatas hanya 
20 eksemplar," katanya. Beberapa saksi yang turut diperiksa yakni pengusur MUI 
Kabupaten Alor serta beberapa staf BPS.


jems de fortuna



Muslim Alor Protes Buku BPS


Sabtu, 18 Juni 2005 : TEMPO Interaktif, Alor:Ribuan umat Muslim di Kabupaten 
Alor, Nusa Tenggara Timur melakukan aksi unjukrasa di Gedung Pengadilan Negeri 
Kalabahi, Sabtu (18/6). Mereka menuntut pemerintah setempat menarik peredaran 
buku statistik berjudul "Penduduk Kabupaten Alor" tahun 2003 dan
dimusnahkan. 

Buku yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Alor tersebut, pada 
sampul depannya terdapat gambar manusia berdiri di atas buku, mirip Kitab Suci, 
Al-Quran. Aksi massa itu berlangsung damai,di bawah kendali dan pengawalan 
ketat polisi. 

Masyarakat Islam Kabupaten Alor mendesak agar aparat keamanan segera mengambil 
sikap dengan cara meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang bertanggungjawab 
terhadap buku itu. Mereka menilai penerbitan buku yang melecehkan kitab suci 
Quran sebagai perbuatan terkutuk. Tuntutan lainnya yakni meminta aparat 
keamanan segera menahan Kepala BPS berinisial Ir. CMAM.


Kapolres Alor, Ajun Komisaris Besar Murzadi, menyatakan akan segera mengambil 
tindakan. Namun, sampai saat ini, belum ada oknum pejabat yang dimintai 
keterangan berkaitan dengan penerbitan buku tersebut. Meski demikian, ia 
mengakui, gelombang protes terus mengalir sejak Jumat dan Sabtu. "Kepolisian 
akan segera mengusut tuntas kasus ini. Mungkin dalam waktu satu atau dua hari 
lagi, polisi akan meminta keterangan pihak terkait," kata Murzadi. 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, Abdul Kadir Makarim, berharap umat 
Islam bisa menahan diri dan tidak terpancing perbuatan anarki. "Umat Islam Alor 
tidak bersikap berlebihan dalam menanggapi persoalan tersebut dan menyerahkan 
sepenuhnya kepada aparat keamanan untuk mengambil tindakan," katanya.

Makarim menyesalkan sikap dan perilaku pejabat Kabupaten Alor yang tidak 
mengindahkan toleransi dan sikap saling menghormati antar umat beragama. 
"Apabila benar ada pelecehan maka perilaku pejabat yang membuat buku seorang 
barbar yang tidak senang akan kedamaian dan persaudaraan yang
rukun, "katanya. Ketua MUI Alor, Amir Tahir, sepenarian dengan MUI NTT, 
menyerahkan kasus itu para polisi. "Kami minta masyarakat memasrahkan masalah 
ini kepada aparat keamanan untuk mengambil tindakan. Kami minta Kepala BPS 
diproses secara hukum,"katanya.

Muspida Kabupaten Alor, langsung menggelar rapat khusus. Salah satu keputusan 
rapat yakni meminta kepolisian segera mengusut tuntas kasus tersebut. Rapat 
dihadiri seluruh Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida), pejabat, tokoh agama dan 
tokoh masyarakat.


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hfvi90l/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1123664067/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke