"You have to say something like *God was always there*, and
if you allow yourself that sort of lazy way out, you might as
well just say *DNA was always there*, or *Life was always there*
and be done with it". (The Blind Watchmaker, page 141)

Teori Tuhan seringkali telah digunakan kaum spiritual, mewakili
para believer yg sesungguhnya tidak mewakili basic ilmiah, namun
membonceng fenomena berikut kajian ilmiah hanya demi mendukung
keyakinan dan misteri kepercayaannya. Sehingga terjadi istilah
seperti Tuhan ibarat energi, Tuhan dibalik tiap materi dan DNA,
Tuhan sesungguhnya pencipta Big Bang sekaligus pengatur galaxy,
termasuk saat ditemukan teori esensi penyusun quark maka dapat
dipastikan ada Tuhan dibaliknya. Dengan kata lain, ketika aspek
ilmiah yg begitu disiplin serta menerapkan rangkaian metodologi
bersifat terukur dan empiris, berpotensi jadi lelucon dan tahyul
ketika "diambil alih" oleh klaim seperti, "Sudah kehendak Tuhan".

Seperti halnya udara sbg sumber kehidupan bumi merupakan hadiah
kebesaran Tuhan, bagaimana jika para ilmuwan bumi telah berhasil
mengkondisikan planet Mars akan dipenuhi Oksigen serta membentuk
lapisan atmosfir akibat hasil budidaya sejenis Algae dari Bumi?
Sebaliknya mitos gempa bumi adalah cobaan Tuhan yg murka, mulai
bergeser dgn pendekatan nalar geografi dan antisipasi manajemen
bencana lewat trend siklusnya termasuk kajian Arsitektural untuk
meminimalkan dampak. Besaran bencana akibat gempa memang bersifat
kuantitatif pada nilai konstruksi termasuk angka kematian akibat
tertimpa bangunan, bukan akibat skala gempa apalagi Tuhan marah.
Maka gempa skala 9 Richter di Papua berkesan enteng dan senyap,
ketimbang guncangan skala 4 Richter tapi di Jakarta nan heboh.

Apapun fenomena bersifat kosmologis maupun argumen yg memerlukan
penjelasan nalar berikut hukum pembuktian sebab akibat, terlebih
dahulu memang harus dilepaskan dari mindset keyakinan yg relatif
spekulatif tanpa kudu bersusah payah dgn rangkaian metode ilmiah.
Celakanya selain pola pandang yg memang berbeda namun digunakan
secara "lintas cara" oleh mereka yg memiliki banyak waktu luang,
akibatnya sibuk untuk muter-muter pada persoalan yg dianggapnya
sbg masalah padahal bukanlah masalah. Mereka inilah yg sejatinya
telah menciptakan tuhan berikut tata ritual pemujaannya, padahal
hanya demi menutupi malas dan kepicikan otak. Akibatnya perihal
sikat gigi 10 mnt saban hari sanggup jadi begitu dahsyat serta
melibatkan proses penciptaan, ketimbang, hanya buat contoh, adu
analisa terukur sepak bola dunia yg sudah jelas fenomenal lagi
masif dan cukup di refresh seminggu sekali. Rasa ketidakmampuan
memang bikin malas, malas yg menjadikan gak mampu .. kun fayakun

http://www.youtube.com/watch?v=MqcO8aWrfA8



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke