Burhanuddin Muhtadi Pengajar FISIP UIN Syarif Hidayatullah dan peneliti Lembaga 
Survei Indonesia



SURVEI nasional yang baru dirilis Saiful Mujani Research and Consulting 
(SMRC) menegaskan agenda besar kita sebagai bangsa menjelang Pemilihan 
Presiden (Pilpres) 2014.

Pilpres bukan hanya ritual demokrasi lima tahunan, melainkan juga 
momentum bersama agar kita bisa memilah dan memilih putra/putri terbaik 
sebagai pucuk pimpinan nasional.



Ia menjadi etape penting dalam sejarah kita karena presiden merupakan 
jabatan paling strategis dalam kelembagaan politik Indonesia. Siapa pun 
calon presiden (capres) yang sudah mendeklarasikan diri ataupun 
diam-diam berpotensi maju dalam Pilpres 2014 harus siap kita evaluasi 
dan telanjangi rekam jejak, kapasitas, dan integritasnya. Upaya 
mendiskusikan calon-calon presiden urgen dilakukan karena luasnya 
wilayah Indonesia dan besarnya proporsi pemilih yang kurang 
well-informed mengenai politik.

Jangan sampai pemilih memilih kucing dalam karung lagi.



Masalahnya, untuk mendapatkan capres terbaik tidak hanya bergantung pada
 kualitas pilihan rakyat, tapi juga bertumpu pada ketersediaan 
calon-calon yang ada. Dengan meminjam istilah pemasaran, aspek 
demandside memang penting karena pemilihlah yang menentukan capres. Akan
 tetapi, harapan lahirnya presiden yang berkualitas akan terjadi bila 
supply-side dari partai politik (parpol) juga membaik.



Parpol merupakan sumber rekrutmen dan produsen capres.

Terlebih lagi peluang bagi capres independen sudah ditutup oleh Mahkamah
 Konstitusi. Kalaupun rakyat ingin mendapatkan capres terbaik, jika 
partai-partai mengusung capres yang buruk, rakyat akan memilih pilihan 
di antara yang buruk-buruk itu.

Efisiensi popularitas Hajatan pilpres masih dua tahun lagi. Namun, sejak
 setahun terakhir sudah bermunculan sejumlah nama. Aburizal Bakrie 
(Ical) sudah dideklarasikan sebagai capres dari Golkar, Prabowo Subianto
 sudah ditahbiskan Gerindra, Wiranto sudah dimunculkan Hanura, dan Hatta
 Rajasa juga sudah diusung PAN. Nama Jusuf Kalla sempat disebut-sebut 
bakal dilirik PPP.

Praktis, hanya Demokrat, PKS, dan PKB yang belum menyebut nama sama sekali.



Di luar nama-nama dari kalangan partai politik tersebut, beredar 
nama-nama di luar kalangan partai, yang sebagian berasal dari kalangan 
menteri, teknokrat, pejabat negara, pengusaha, eks jenderal, dan 
lain-lain yang juga digadanggadang sebagai capres. Sebut saja Dahlan 
Iskan, Mahfud MD, Sri Mulyani, Gita Wirjawan, Pramono Edhie, Djoko 
Suyanto, dan Endriartono Sutarto.



Untuk mengukur potensi elektabilitas para capres, faktor popularitas penting 
dilihat.

Tingkat elektabilitas namanama baru yang masih rendah, misalnya, salah 
satunya dise babkan popularitas mereka yang masih terlalu rendah. 
Bagaimana mungkin rakyat mau memilih mereka jika kenal saja tidak?

Sebaliknya, ada sebagian capres yang sudah sangat populer, tetapi 
tingkat popularitasnya tidak berbanding lurus dengan elektabilitas 
mereka yang tinggi. Hal itu terjadi karena popularitas mer eka tidak 
efisien atau kualitas pengenalan yang buruk sehingga memengaruhi 
elektabilitas.



Hasil survei SMRC Juni 2012 menunjukkan bahwa dari puluhan nama bakal 
capres yang diuji berdasarkan tingkat popularitas di mata rakyat, hanya 
delapan nama yang popularitasnya di atas 50%, yakni Megawati 
Soekarnoputri (93,7%), Jusuf Kalla (88,9%), Prabowo (78,8%), Wiranto 
(72,8%), Aburizal Bakrie (70,1%), Sultan Hamengku Buwono X (58,3%), Anas
 Urbaningrum (55%), dan Hatta Rajasa (54,1%).



Popularitas tinggi bisa dimaklumi karena selain sebagai tokoh-tokoh 
partai, mereka juga pernah menjabat presiden, wakil presiden, atau 
pernah mencalonkan diri sebagai presiden atau wakil presiden.



Popularitas di luar delapan nama itu jauh di bawah 50%.

Hal demikian wajar karena nama-nama lain tidak pernah bekerja secara 
sistematis dan terorgani sasi untuk menyosialisasikan diri ke te ngah m a
 s y a ra k a t . M e r e k a j u g a tidak pernah mendeklarasikan diri 
sebagai capres sehingga masyarakat hanya bisa menduga-duga apakah mereka
 serius maju atau tidak. Di sam ping itu, mereka juga tidak memiliki 
kendaraan resmi. Padahal, tiket maju dalam pilpres hanya dimungkinkan 
melalui parpol.



Dengan demikian, saat ini publik Indonesia dihadapkan pada dua pilihan 
sulit. Pertama, pemilih di-fait accompli oleh pilihan capres dari stok 
yang itu-itu saja. Capres populer yang muncul belum diterima publik 
karena masalah akseptabilitas, integritas, dan rekam jejak yang kurang 
baik. Kedua, nama-nama baru yang dinilai memili ki kemampuan yang baik 
serta bersih dari korupsi dan kejahatan HAM tetapi belum juga muncul ke 
permu kaan. Jika figur-figur baru tersebut belum mampu tampil sebagai 
alternatif yang memiliki kredibilitas, pemilih akan dihadapkan pada dua 
pilihan dilematis. Pertama, mereka tetap memilih, tapi dari 
pilihan-pilihan yang buruk.

Kedua, mereka akan memutuskan untuk golput sehingga makin mengurangi legitimasi 
hasil pemilu.

Belum ada capres kuat Keraguan publik terlihat dari besarnya pemilih 
yang belum menentukan pilihan (undecided voters) ketika ditanya melalui 
simulasi pertanyaan terbuka (top of mind). Sebanyak 60% pemilih belum 
memiliki sikap elektoral.



Namun, jika responden ditanya melalui simulasi semiterbuka, yakni ada 
pilihan nama-nama capres plus jawaban lainnya, undecided voters 
berkurang menjadi 24,8%. Namun, distribusi pilihan tersebar secara 
proporsional ke puluhan nama. Megawati dan Prabowo menempati posisi 
teratas. Tingkat elektabilitas keduanya mencapai 17,6% dan 16,7%, masih 
di bawah 18%.



Peringkat ketiga diraih Jusuf Kalla dengan 9,6%, lalu disusul Ical 7,9%. 
Elektabilitas namanama lain berada di bawah 4%.

Terbukti, hasil survei menunjukkan capres-capres populer memiliki 
kualitas popularitas yang rendah karena gagal mener jemahkan tingkat 
popularitas mereka yang tinggi ke dalam preferensi elektoral. Hal itu 
menjadi in sentif bagi figur-figur baru yang belum populer untuk bekerja
 lebih intensif meningkatkan popularitas dan elektabilitas mereka.



P e m i l i h p a d a u m u m ny a mengharapkan lahirnya figur yang bisa
 dipercaya, bersih dari korupsi, dan punya integritas yang baik. Menurut
 survei SMRC, sejauh ini capres populer memiliki masalah berat karena 
dianggap tidak bisa dipercaya.



Di antara nama-nama lain, Megawati memang relatif paling bisa dipercaya 
dan memiliki empati, tapi masih jauh dari dominan (hanya sekitar 
25%-26%).



Meski demikian, Megawati dinilai lemah terutama dari sisi kompetensi dan 
ketegasan.



Prabowo unggul dalam soal ketegasan, tapi juga tidak dominan. Faktor 
ketegasan juga bukan variabel utama yang dianggap penting oleh 
masyarakat.



Prabowo dinilai kurang berintegritas dan berempati ketimbang Megawati. Ical 
lebih parah.



Meski paling intensif bersosialisasi dalam setahun terakhir, kualitas 
personal Ical lemah di hampir semua kategori terutama jika dibandingkan 
dengan Megawati dan Prabowo.



Bahkan rata-rata kualitas personal Ical kalah daripada Jusuf Kalla. 
Inilah yang menyebabkan elektabilitas Ical di bawah Jusuf Kalla.



Di antara tokoh-tokoh lain, Ical memang dihadapkan pada isu-isu negatif yang 
tidak sedikit.



Elektabilitas Aburizal yang kurang kompetitif salah satunya karena isu lumpur 
Lapindo.



Sebanyak 80% pemilih mengetahui isu tersebut. Dari mereka yang tahu, 
sebagian besar menilai lumpur La pindo karena kesalah an manusia atau 
pengeboran (66%). May o r i t a s



besar menilai lum pur Lapindo kare n a ke s a l a h a n manusia atau 
pengeboran (66%). Ma yoritas responden juga menilai bahwa Grup Bakrie 
belum bertanggung jawab dalam meng atasi lumpur Lapindo. Penilaian itu 
merupakan persepsi. Walau begitu, dalam politik, persepsi memiliki nilai
 yang kuat.



Mengapa Prabowo lebih berpeluang ketimbang Ical? Padahal secara politik 
Prabowo juga bermasalah dalam hal integritas dan masa lalunya setelah 
diberhentikan oleh dewan kehormatan karena dianggap bertanggung jawab 
atas penculikan aktivis demokrasi menjelang kejatuh an Soeharto. 
Ternyata sebagian besar masyarakat tidak tahu kejadian itu (72,8%).



Bisa jadi ketidaktahuan publik disebabkan peristiwanya relatif sudah 
lama, bisa juga karena kita memang bangsa pelupa, atau jangan-jangan 
kare na dinilai kurang berkaitan dengan kepen tingan masyarakat luas 
(proximity). Harus diakui, selama satu dekade ter akhir ini tidak ada 
sosialisasi masif terkait dengan rekam jejak masa lalu Prabowo.



Di atas segalanya, publik menilai di antara capres-capres yang sudah muncul 
belum ada yang bisa diterima secara luas.



Masyarakat menunggu munculnya tokoh-tokoh yang memiliki kapabilitas, 
integritas, dan akseptabilitas yang baik.



Jika tidak muncul alternatif yang kredibel, masyarakat dipaksa memilih 
calon-calon presi den yang kualitasnya buruk. Atau, jika enggan memilih 
dari pilihan yang buruk, mereka akan menambah deretan panjang golput 
dalam Pilpres 2014.







http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/07/09/ArticleHtmls/Pilihan-Dilematis-Calon-Presiden-2014-09072012024013.shtml?Mode=1

Berbagi berita untuk semua
http://goo.gl/KKHtihttp://goo.gl/fIWzb

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke