Dulu, setelah usai perang dunia kedua, Jepang dan Jerman kalah oleh Amerika Serikat. Tetapi, Amerika Serikat tidak menyombongkan bahwa mereka yang menang, Amerika malah menyebarkan dalam sejarah sebagai kemenangan "sekutu" atau "Allies". Selain tujuannya untuk ber-basa basi, tapi juga bertujuan untuk membagi rasa kebanggaan agar mereka yang ikut berbangga itu mau mengalah dan membantu cita2 si pemenang Amerika Serikat ini. Dalam hal ini tidak mengapa untuk Amerika mengalah dalam hal kebanggaan ini tapi menang dalam menguasai mereka yang dibagi rasa kebanggaan ini untuk ikut memikul tanggung jawab beban dalam menegakkan hegemoni Amerika sendiri dimuka bumi ini.
Dulu, setelah Jepang menyatakan menyerah kalah, Amerika tidak menghukum Kaisar Jepang, malah melindunginya, tentunya bukan karena kasihan terhadap sang kaisar, melainkan bertujuan menguasai rakyat Jepang agar jangan membenci Amerika yang telah membantai mereka habis2an. Tapi katanya banyak komandan2 tentara khusus Jepang yang bunuh diri dengan harakiri samurainya karena malu melihat kaisarnya menyerah kepada Amerika. Padahal komandan2 tentara Jepang yang dikabarkan bunuh diri itu tidak ada satupun yang bunuh diri, mereka semua ditangkap, di interogasi untuk kemudian dibunuh dengan samurainya masing2 tidak satupun yang dibiarkan hidup. Jadi disinipun Amerika sebagai pemenang menyadari bahwa arogansi, kesombongan, terlalu menekan musuh tidaklah bijaksana untuk mencapai cita2 yang jauh lebih tinggi. Mengalah untuk menang merupakan cara diplomasi untuk mencapai hasil yang lebih banyak lagi. Demikianlah, setiap kasus selalu harus dicari solusinya secara berbeda, ada kalanya dengan kekerasan apabila diperlukan, tapi ada kalanya pura2 mengalah untuk kemudian menang dengan cara2 lain. Tidak berbeda dalam kasus GKI Yasmin, umat Kristen berkeluh kesah karena adanya tempat penampungan yang menjanjikan harapan2 mereka, dan si penampung itu namanya HAM diluar negeri. Dilain pihak, mayoritas umat Islam didalam negeri juga mendambakan harapan2 yang dijanjikan agamanya sendiri, tapi karena kedua harapan2 ini saling berkonflik, maka tergantung situasinya, tergantung kekuatannya, dan tergantung apa yang bisa dihasilkan berhasil. Demikianlah, ekonomi RI ini rapuh, kekuatan bersenjata lemah, senjatanya pun tergantung dari luar negeri yang memaksakan HAM. Jadi apa salahnya pura2 tunduk kepada HAM agar jangan kena embargo, tapi teruskan harapan2 umat yang lebih kuat didalam negeri ini untuk mencapainya meskipun bertentangan dengan tuntutan HAM dari luar negeri. > "Bukan Pedanda" <bukan.pedanda@...> wrote: > Masalah GKI Yasmin Kita lihat apa yang > terjadi ditingkat banding dan eventuil > di tingkat Judicial Review nanti.. > Saya melihat ada pertentngan pendapat > antara fascist seperti kepala polisi > disatupihak dan dipihak lain sejumlah > orang yang berusaha menghormati hak-hak > azasi manusia, walaupun tidak secara > tegas seperti Mahfud ini (dan juga menteri > dalam negeri yang mengizinkan orang untuk > TIDAK mengisi kolom "agama" Anda salah, semua kejadian ini satu paket yang kompak, tidak satupun ada pertentangannya. Tapi kalo anda melihat se-olah2 ada pertentangan, maka yang anda lihat itu cuma sandiwara saja yang tujuannya untuk mengecoh atau menipu pandangan luar negeri yang selalu berpihak kepada HAM. Kita umat Islam menentang HAM, anti-Demokrasi, anti-Kristen, cuma Islam agamaku dan hanya Allah yang kusembah bukan Yesus. Ini hukumnya yang tidak bisa diubah atau dikompromi. Jadi memang RI belum kuat sehingga tidak bisa menentang luar negeri yang memaksakan HAM, dari pada kena embargo, apa salahnya pura2 saja kita menegakkan HAM dan melindungi GKI Yasmin untuk konsumsi berita luar negeri saja ??? Jadi urusan dalam negeri sendiri, kitalah yang paling kuat, yang lemah tentunya harus ngalah, bongkar GKI Yasmin itu masuklah Islam dan anda hidup damai jauh dari teror, tentunya kalo bersedia ngalah. Tapi kalo ngotot pake kekerasan, hidup ini jadi susah yang datangnya dari anda sendiri, padahal untuk pura2 ngalah khan enggak susah ??? Apalagi, negara2 diluar negeri sana enggak bisa nolongin karena aturan disini kita yang buat bukan dibuat oleh luar negeri. Jadi filsafat yang baik adalah begini: Bawa dirilah baik2 yang kita sebut beradaptasi dengan lingkungan masyarakat kita.... Kalo lingkungan kita Islam, maka ber-pura2lah se-olah2 kita juga percaya dan beragama Islam. Kalo lingkungan kita Hindu, maka ber-pura2lah se-olah2 kita juga percaya dan beragama Hindu. Kalo lingkungan kita Kristen, maka ber-pura2lah se-olah2 kita jug percaya dan beragama Kristen. Demikianlah, untuk tegasnya kita harus pandai ber-pura2, tapi kita janganlah menggunakan kata2 "ber-pura2" karena konotasinya negatif, kita bisa mengganti kata2 ini dengan yang konotasinya lebih positif seperti "berbasa basi", "mengikuti tradisi", "mengikuti etika yang berlaku", dan masih banyak kata2 pengganti yang baik dan enak didengar meskipun maksudnya tetap sama. Ny. Muslim binti Muskitawati. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
