http://www.equator-news.com/utama/20120710/politik-uang-siapa-suka
Selasa, 10 Juli 2012 
Politik Uang, Siapa Suka? 
Tiga Tim Sukses Soal Money Politic

ZMS 
Pontianak – Menghalalkan segala cara! Yang paling lekas diintai oleh seluruh 
komponen masyarakat dalam pilkada adalah money politic alias politik uang.

“Kami sangat-sangat menolak money politic. Karena tidak mendidik kalau bangsa 
ini dibangun dengan cara paradigma pragmatis. Zaman kita selesai masalah ini. 
Tetapi zaman setelah anak kita akan menikmati dampak yang luar biasa,” ungkap M 
Jimmi SH, Ketua Tim Kampanye Cornelis-Christiandy kepada Rakyat Kalbar, Senin 
(9/7).

Harap maklum, incumbent biasanya paling rajin jadi sasaran kecurigaan politik 
uang. Lantas Jimmi mengilustrasikan money politic itu seperti apa. Kalau yang 
dimaksud memberikan uang dan memaksa memilih itu boleh dikategorikan money 
politic.

“Tetapi politik tidak akan bisa dari konteks yang namanya biaya. Itu namanya 
cost politic. Misalnya, pasang dulu balihoku ini. Ini uang beli kayu. Apakah 
itu dikategorikan politik uang. Tidak, itu namanya biaya politik,” jelasnya.

Jimmy cenderung melihat politik uang dari dua cara pandang. Yang dimaksud 
dengan money politic adalah nyogok. “Nah, di PDIP jangankan menyogok, kalau 
bisa kami yang disogok. Karena kami tidak punya modal. Tidak akan pernah ada di 
PDIP nyuruh orang memilih Cornelis dengan memberikan uang. Karena uang yang mau 
diberikan juga tidak ada,” tegasnya.

Untuk mengantisipasi praktik money politic dari lawan politiknya, timnya sudah 
menyerahkan langsung kepada yang berwenang. Pemerintah sudah menyiapkan sarana 
untuk itu, yakni Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Di lembaga inilah tugas 
pokoknya, ketika ada temuan dalam pelaksanaan pilkada.

“Jika ada data valid bisa membatalkan kandidat. Misalnya kandidat A, B, C, D, 
dan F bertanding. Salah satu kandidat menang, tetapi kemenangannya dengan 
memberikan uang dan bisa dibuktikan secara fakta. Saya pikir ini tetap kena dan 
bisa digugat,” papar Jimmi.

Menjawab Rakyat Kalbar, sampai saat ini tim kampanye Cornelis-Christiandy masih 
belum berpikir politik uang. Sudah ada biro-biro yang memantau kegiatan apa 
saja lapangan. Mulai dari kampanye sampai perhitungan suara.

“Saksi jangan dikatakan money politic. Semua kandidat perlu uang untuk membayar 
orang yang tidak kerja selama menjadi saksi. Jadi seperti itu tidak bisa 
dikategorikan dalam money politic.” ujar politisi PDIP ini.

Jimmi pun menegaskan kembali bahwa PDIP sangat-sangat menolak praktik money 
politic. Karena pemimpin yang lahir dari cara seperti itu tidak akan bisa bagus.

“Jika generasi kita terbiasa dengan tukar-menukar (barter), ini sangat tidak 
baik dalam nation building. Bangsa ini harus tetap ada, kalau tidak ada bangsa 
kita akan menjadi Uni Soviet. Jadi ini harus menjadi pembelajaran bagi 
Indonesia yang notabene negara kesatuan. Bangsa ini 80 persen berpikirnya sudah 
pragmatis,” urai Jimmi.

Dibayar APBD
Praktik kotor pemilukada salah satunya jual-beli suara (vote buying), yakni 
dengan cara memberi uang atau barang untuk memengaruhi pemilih.

“Tentang politik uang, praktik seperti itu sama saja dengan membodohi diri 
sebagai calon. Karena tidak yakin menang dan membodohi masyarakat,” tegas H 
Adang Gunawan SE, Ketua Tim Koalisi Pemenangan Morkes-Burhan menjawab Rakyat 
Kalbar, Senin (9/7).

Dalam setiap pemilukada, kata dia, uang memang diperlukan. Tetapi bukanlah 
satu-satunya menjadi tolok ukur kemenangan. Yang sangat penting justru visi dan 
misi membangun Kalbar. Selebihnya, tim solid dan bekerja keras, dana yang 
cukup, efisien, dan efektif, serta tidak lupa berdoa.

Penolakan politik uang juga disampaikan Tim Pemenangan Armyn-Fathan (Arafah). 
“Kita menolak praktik politik uang. Karena hal itu akan menyengsarakan rakyat 
nantinya. Karena money politic yang telah keluar itu diganti dengan uang APBD 
dengan cara korupsi,” tegas H Retno Pramudya SH MH, Wakil Sekretaris Tim 
Pemenangan Arafah.

Bercermin pada banyak contoh dan bukti, politik uang di pemilukada 
mengakibatkan praktik-praktik korupsi oleh kepala daerah terpilih dengan 
menghalalkan cara kotor tersebut. “Uang rakyat dirampok dan dikuras oleh sang 
kepala daerah jauh lebih besar dari dana money politic yang dibagikan kepada 
rakyat,” tegasnya.

Tim Pemenangan Arafah tidak menampik pentingnya finansial dalam pesta demokrasi 
rakyat itu. Uang dipergunakan untuk menggerakkan mesin partai dan kegiatan 
sosialisasi.

“Uang dalam pemilukada sebatas untuk membiayai pembuatan atribut, baliho, 
sosialisasi, dan transportasi. Jadi uang juga berperan memperlancar dan 
membiayai kegiatan para calon. Jadi rakyat harus lebih pintar. Kini saatnya 
rakyat yang menguras harta mereka, tapi ketika pencoblosan jangan pilih dia,” 
ajak Retno.

Bagaimana dengan tim sukses pasangan Tambul Husin-Barnabas Simin soal politik 
uang? Sampai batas akhir turun berita tadi malam, ditelepon berkali kali Abul 
Ainin, Ketua Tim Sosialisasi Berkibar, tak kunjung menjawab pertanyaan Rakyat 
Kalbar. (kie/jul)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke