Tp tempe itu tetap akan diklaim sbg penemuan bangsa Indonesia.
>________________________________ > From: Sunny <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Friday, July 27, 2012 6:08 AM >Subject: [proletar] Ironi Negeri Tempe + ''Bangsa Tempe'' Kekurangan Tempe di >Lumbung Sendiri > > > > >http://www.mediaindonesia.com/read/2012/07/27/336013/70/13/Ironi-Negeri-Tempe- > >Ironi Negeri Tempe >Jumat, 27 Juli 2012 00:00 WIB > >DALAM beberapa hari terakhir, tempe dan tahu mencuat menjadi isu nasional. >Makanan rakyat berharga murah tetapi kaya gizi itu langka di pasaran lantaran >mahalnya kedelai sebagai bahan baku. > >Harga kedelai memang kian liar tak terkendali. Kenaikannya gila-gilaan, bahkan >menembus Rp8.000 dari biasanya Rp5.000 per kilogram. Dengan harga bahan baku >semahal itu, pengusaha tempe dan tahu memilih mogok produksi selama tiga hari >mulai Rabu (25/7) hingga kemarin. > >Mereka tak punya pilihan lain untuk menyatakan sikap. Segala kiat, segala >cara, termasuk memperkecil ukuran tahu dan tempe, demi menyiasati mahalnya >harga kedelai tak lagi ampuh untuk bertahan. > >Bagi mereka, mogok produksi adalah pilihan terbaik. Efeknya pun luar biasa. >Ketika tempe dan tahu absen di warung, pasar, hingga pasar swalayan, rakyat >ternyata merasa sangat kehilangan. > >Tempe dan tahu yang selama ini dipandang sebelah mata kini menunjukkan >eksistensi. Keduanya memicu silang pendapat, memantik polemik panas terkait >dengan ketidakberdayaan pemerintah mengelola kebutuhan rakyat. > >Kelangkaan tempe dan tahu terjadi karena ketidakberdayaan negeri ini melepas >ketergantungan impor kedelai. Di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi >ini, stok kedelai masih bergantung pada negara lain. > >Untuk urusan kedelai saja, kita tak punya kedaulatan. Kita takluk pada serbuan >kedelai dari mancanegara karena produksi dalam negeri tak bisa lagi >diandalkan. > >Produksi kedelai pada 2012 bahkan diperkirakan turun drastis ketimbang 2010 >dari 907.300 ton menjadi 779.800 ton. Jumlah sebanyak itu terlampau sedikit >untuk mencukupi kebutuhan 2,2 juta ton per tahun. > >Selama pasokan kedelai masih bergantung pada asing, selama itu pula masalah >kelangkaan tempe dan tahu akan terjadi. Ironisnya, pemerintah tak memandang >persoalan secara utuh. Mereka lebih suka menyikapi gejolak harga kedelai >dengan cara instan, yakni menghapus bea masuk. > >Itulah solusi gampangan tanpa harus pusing-pusing berpikir. Penghapusan bea >masuk impor kedelai hanyalah obat sesaat yang mustahil bisa menyembuhkan akar >penyakit. Khasiatnya juga tak terlalu mujarab, cuma mampu menurunkan harga >sebesar Rp400 per kilogram. Kebijakan itu bahkan membuat impor kedelai kian >deras membanjir dan kian ganas melindas produksi dalam negeri. > >Masalah kedelai adalah masalah ketidakmampuan negeri ini mencukupi kebutuhan >sendiri. Itulah persoalan pokok yang harus diselesaikan pemerintah. Tindakan >nyata wajib segera dilakukan agar petani dengan senang hati menanam kedelai. >Pemberian insentif dan jaminan harga kepada mereka tak bisa lagi >ditawar-tawar. > >Indonesia yang kini dalam situasi darurat tempe merupakan konfirmasi bahwa >pengelola negeri ini sudah lama mengabaikan urusan pangan sehingga beras, >gula, kedelai, jagung, sampai singkong mesti diimpor. Untuk urusan pangan dan >banyak urusan lain, pemerintah sering mengeluh kesulitan. Lah, pemerintah >justru hadir untuk mengurusi yang sulit kok! Disorientasi beginilah >menyebabkan yang gampang pun jadi sulit. >++++++ >http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailrubrik&kid=4&id=6729 > >27 Juli 2012 | BP > >''Bangsa Tempe'' Kekurangan Tempe di Lumbung Sendiri >Oleh GPB Suka Arjawa > >Pola rancang kebijakan pengembangan pembangunan Indonesia ke depan, tampaknya >harus segera diperbaiki dan bila perlu diubah. Sebab apabila tidak dilakukan >hal seperti itu, bangsa ini bisa anjlok pada tingkat yang paling bawah. Rakyat >tidak akan mampu menjalankan kehidupan bahkan menjaga kesehatannya sendiri. >Jika ini terjadi, Indonesia yang begitu kaya dengan berbagai kekayaan alam >benar-benar goyah, terpuruk dan menjadi bahan tertawaan bangsa luar. Bagi para >penyelenggara negara sekarang, siap-siap menjadi caci maki anak cucu kelak. >Tidak ada tulah yang lebih buruk jika anak cucu justru mencaci leluhurnya >sendiri. > >Mogoknya para pengrajin tempe-tahu di pusat produksi di Jawa merupakan bukti >bagaimana model pembangunan Indonesia sekarang sangat tidak memperhatikan >sektor kecil. Industri tahu dan tempe itu terpaksa melakukan langkah demikian >karena harga kedelai sekarang meningkat luar biasa tinggi jika dibandingkan >dengan dua bulan sebelumnya. Harga yang tercatat 8.758 rupiah bulan Juli ini >dipandang sangat tinggi yang membuat produsen idak mampu berproduksi. Padahal >kedua produk itu merupakan makanan rakyat Indonesia, yang murah dan mempunyai >nilai gizi tinggi. Dalam keadaan normal, membeli produk itu paling mampu >dijangkau rakyat Indonesia dan dilogikakan paling mampu menjaga kesehatan. > >Ketergantungan > >Cikal bakal dari melonjaknya harga kedelai justru karena ketergantungan >Indonesia kepada bahan impor. Kekeringan yang melanda Amerika Serikat dan >India menyebabkan harga kedelai dunia meningkat kuat. Inilah yang menjadi >pengaruh paling kuat bagi naiknya bahan baku tempe dan tahu di Indonesia. >Dalam catatan yang diberikan oleh sebuah media massa cetak, untuk tahun 2012 >ini, Indonesia mengimpor 1,95 juta ton kedelai dari luar negeri sedangkan >pasokan yang mampu disediakan oleh lahan di dalam negeri, sekitar 0,72 juta >ton. Angka ini jelas menggambarkan bagaimana ketergantungan Indonesia terhadap >kedelai impor. Jadi, sedikit saja ada persoalan yang terjadi pada produsen di >luar, hal itu akan menggoyang harga di Indonesia dan selanjutnya berdampak >besar kepada masyarakat. Paling tidak asupan masyarakat Indonesia akan >berkurang. > >Tempe dan tahu memang menjadi makanan paling terjangkau oleh masyarakat kelas >menengah bawah Indonesia yang konon jumlahnya mencapai lebih dari 60 juta. >Akan tetapi harus diingat bahwa tempe dan tahu juga menjadi makanan dasar bagi >golongan kelas menengah atas Indonesia. Dengan begitu, terganggunya pasokan >akan dua bahan makanan ini, akan ikut menganggu sebagian besar kehidupan >sosial. > >Meski dikatakan kenaikan harga kedelai itu disebabkan oleh kekeringan yang >terjadi di Amerika Serikat dan India, akan tetapi harus juga dicurigai adanya >berbagai permainan para ''pemain'' internasional khususnya yang memberi >pasokan kedelai kepada negara Indonesia. Secara sosiologis, seperti yang telah >diutarakan di atas, produk keturunan kedelai (yaitu tahu dan tempe), merupakan >keperluan pokok dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Struktur >kependudukan Indonesia, kemungkinan telah terekam dan tergambarkan oleh para >pemain internasional itu sehingga memungkinkan mereka melakukan tindakan yang >mengutungkan kelompoknya sendiri. Dalam konteks penstrukturan, sebagian besar >masyarakat Indonesia berdomisili di Pulau Jawa, dan produk turunan kedelai >paling laku di wilayah itu. > >Kini sebagian besar masyarakat Indonesia juga sedang melakukan aktivitas puasa >di bulan Ramadhan, sehingga produk turunan kedelai sangat diperlukan di >masyarakat. Kenyataan inilah yang kemungkinan bisa dipakai oleh mereka yang >ingin mendapatkan keuntungan sepihak. Model-model sosial seperti ini >seharusnya menjadi perhatian pemerintah, dan kecurigaan-kecurigaan seperti itu >harus tetap dipelihara demi tujuan peningkatan kualitas hidup masyarakat. > >Mogoknya para produsen dan perajin tempe-tahu di Jawa, secara teoretis telah >membenarkan tesis Marxis dari Ernesto Laclau dan Muffe (Ritzer 2007) yang >kurang lebih bisa dimengerti bahwa di zaman post modern sekarang, mustahil >melihat pergolakan itu hanya ada pada kaum proletar, akan tetapi pada >pihak-pihak lain yang termarginalkan. Mereka yang terpinggirkan itu bisa >kelompok kulit hitam, wanita, imigran, konsumen, dan sebagainya. Melonjaknya >harga kedelai di Indonesia ini tidak saja membuat para pekerja tahu-tempe >kehilangan pekerjaan akan tetapi produsen dan pengrajinnya (kelompok >industriawan) juga ikut menderita. > >Kelompok inilah yang melakukan pemogokan untuk berproduksi bahkan memaksa >rekan-rekan mereka yang masih berproduksi ikut melakukan mogok. Pemogokan ini >boleh dikatakan sebagai langkah awal dari keruskan sistem yang dibuatnya. Jika >produksi itu tidak aktif sampai sekitar tiga atau enam bulan, maka masyarakat >para konsumen semua produk turunan tahu dan tempe akan bisa melakukan protes >kepada pemerintah. Karena konsumen ini melibatkan mayoritas dari masyarakat >Indonesia, dan dampaknya pada inti dari kehidupan, yaitu masalah kesehatan dan >gizi, maka potensi ancamannya terhadap keberadaan pemerintah bisa berbahaya. > >Kenyataan Semu > >Dalam balutan globalisasi, pemerintah negara-negara berkembang sering kali >tergelincir pada kenyataan-kenyataan semu dalam upaya mesejahteraan rakyat, >yaitu sering berorientasi luar, asing untuk menentapkan pola pembangunannya. >Ekonomi yang beroerinetasi kapitalis dan liberal tidak cocok diterapkan untuk >seluruh model sosial di muka bumi ini. Kasus di Amerika Latin pada dekade >tujuh puluhan yang mencoba menerapkan gaya pembangunan Amerika Serikat, tidak >mampu memberikan kesejahteraan yang memuaskan kepada mereka. > >Berdasarkan pertimbangan itulah kemudian, kebijakan dan arah pembangunan >Indonesia harus segera ditata ulang. Pemerintah harus memahami hal ini dengan >baik dan cermat. Ketergantungan impor kedelai tersebut membuktikan bahwa >proyek pembangunan Indonesia kelihatan salah arah. Negara yang mayoritas >rakyatnya masih jati petani, dengan lahan pertanian yang jutaan hektar >luasnya, justru menjadi aneh karena menjadi pengimpor kedelai (dan beras) >Artinya, prioritas pembangunan politik sudah harus segera dinomortigakan atau >dinomorempatkan. Prioritas kini harus segera dialihkan pada pemenuhan >keperluan pokok masyarakat, yaitu sektor pertanian. Pembangunan politik >seperti pemilu yang bebas, sampai ke tingkat paling bawah (pemilihan klian >dinas!), kehidupan partai politik, amandemen konstitusi, dan lain sebagainya >di bidang politik, harus dicukupkan saja dulu. > >Menjadi tugas pemimpin pemerintahan sekarang, termasuk pemimpin pemerintahan >mendatang untuk membentuk garis-garis besar pembangunan baru di Indonesia yang >harus menitikberatkan pada sektor pertanian. Meski tempe itu sesungguhnya >makanan yang sangat berguna, akan tetapi sebagai sebuah kelakar, sering >Indonesia dikatakan sebagai ''bangsa tempe''. Sangat lucu, apabila bangsa >tempe bisa kekurangan tempe di lumbungnya sendiri. > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
