Jadi jelas otak "Roman Proteus" itu sudah rusak...

Dia bukan manusia normal lagi.

Dia sudah gila.

Saya rentang....

"Roman Proteus" itu adalah korban kedunguan orang tuanya yang
dungu-dungu kayak anjing dan yang tidak memberikan pendidikan yang memadai untuk
dia: dia juga dungu kayak anjing seperti mereka.


Dia tidak dilatih untuk memakai otaknya buat berfikir, dia tidak dilatih untuk
berfikir kritis.


Dia tidak dilatih untuk mempertanyakan apa yang dikatakan orang sekelilingnya.

Dia dilatih buat biasa bersikap seperti anjing budug lapar dihadapan taik angat:
diajar untuk melahap apa saja yang dikatakan orang sekelilingnya.

Makanya, dia sama-sama tidak punya harga diri seperti orang tuanya yang dungu
kayak anjing itu dan sama-sama bersedia menjadi korban kibulan orang Arab
primitif.


Lalu, berkat kemajuan teknologi, dia punya akses ke internet dan sempat melihat
kenyataan lain yang pahit lagi menyilaukan yang ditunjukkan orang lain di
internet: ajaran agama Islam yang dianutnya dan yang dikiranya berdasarkan
kebenaran dan berdasarkan wahyu dari Allah itu ternyata cuman berdasarkan omong
kosong dan kibulan hasil khayalan orang Arab primitif.


Karena dia tidak dilatih untuk memakai otaknya untuk berfikir dan untuk
mempertanyakan apa yang dia yakini selama ini maka dia bingung dihadapan
kenyataan itu: groggy.

Dia jadi gila.

Gila dan lantas kalap.

Lalu dia jadi tukang fitnah dan penyebar dusta.

Seperti halnya hampir semua peserta Islam yang hadir disini yang seperti dia
juga
tidak terlatih untuk memakai otak mereka buat berfikir, untuk berfikir secara
kritis.

Untuk kembali menemukan keseimbangan, hanya psikiater yang bisa menolongnya.

Tapi "Roman Proteus" takut berobat.

--- In [email protected], "Roman Proteus" <pt_kasoet@...> wrote:
>
> Pig
> 
> Kakek anjing
> 
> Malu gak elo?
> 
> Anjing tua bedebah, ngaca tuh
> 
> 
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: Musik hari Ini <musikhariini@...>
> Sender: [email protected]
> Date: Fri, 27 Jul 2012 05:08:21 
> To: [email protected]<[email protected]>
> Reply-To: [email protected]
> Subject: [proletar] Ini baru berita PLTH
> 
> Malang - Sejarah dunia kelistrikan Indonesia akan dimulai di 
> Kabupaten Malang. Seorang pria sepuh yang hanya lulusan sekolah dasar, 
> menemukan pasokan listrik menggunakan teknik Pembangkit Listrik Tenaga 
> Hampa (PLTH).
> 
> Konon, PLTH temuan warga Kecamatan Pujon 
> ini, bisa menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir sekalipun. 
> Bedanya, PLTH temuan Mbah Mbing lebih ramah lingkungan. Tidak berisik. 
> Tidak berlimbah. Tanpa suara dan tentunya, hemat ribuan kabel listrik.
> 
> Hebohnya,
>  mantan Dirut PLN yang kini menjabat Menteri BUMN Dahlan Iskan, dudah 
> mengontak langsung penemu PLTH. Dalam waktu dekat, Dahlan Iskan juga 
> dijadwalkan mengunjungi rumah penemu teknologi PLTH. Bahan dasar bakunya
>  menggunakan karbon dari batok kelapa sebagai pembakar aliran 
> listriknya.
> 
> Adalah Slamet Hariyanto. Pria umur 51 tahun yang 
> akrab disapa Mbah Mbing itu, saat ini tinggal di Desa Ngroto, Kecamatan 
> Pujon, Kabupaten Malang. Tak ada bekal ilmu teknik dasar tentang 
> kelistrikan. Hanya saja, Mbah Mbing paling suka jika harus mengotak-atik
>  arus rendah maupun arus tegangan tinggi listrik.
> 
> Bahan dasar 
> PLTH temuan Mbah Mbing, menggunakan karbon dari batok dan sabut kelapa. 
> Fungsinya, karbon berguna sebagai baterai. Selanjutnya, baterai dari 
> karbon batok kelapa itu, dijadikan alat penggerak untuk menghasilkan 
> listrik.
> 
> Terbukti, pembangkit listrik yang sudah dirancang 
> sedemikian rupa itu, mampu menghasilkan tenaga listrik maksimal. 1 fuse 
> dan 3 fuse, menghasilkan kapasitas listri sampai 220vlt dengan kapasitas
>  1000 hingga 6000 watt. Sedang untuk fuse 3, sanggup menghasilkan 380 
> fuse dengan kapasitas tegangan diatas 13.000 watt.
> 
> "Butuh riset 
> cukup panjang. Saya memulai riset ini sejak 4 tahun yang lalu," ungkap 
> Mbah Mbing saat dikunjungi Bupati Malang, Rendra Kresna, Selasa 
> (24/7/2012).
> 
> Mendapat kunjungan orang nomor satu di wilayahnya, 
> Mbah Mbing dengan cekatan, mendemonstrasikan cara kerja mesin PLTH 
> temuannya. Seluruh mesin yang mirip kotak brankas itu, terdiri dari 
> berbagai rangkaian. Hebatnya, dari seluruh komponen mesin PLTH miliknya,
>  semuanya termasuk limbah.
> 
> Hanya beberapa komponen yang terpaksa 
> dia beli. Masalahnya, selain sulit mendapatkan barang tersebut, ia tidak
>  punya cukup waktu untuk membuatnya sendiri. "Kapasitornya saja yang 
> beli. Harganya Rp850.000. Kalau seluruh komponen, termasuk barang bekas.
>  Besar kecilnya arus listrik, tergantung alat ini," kata Mbah Mbing 
> sambil menunjukkan PLTH temuannya.
> 
> Atas observasi temuannya, 
> listrik dirumah Mbah Mbing teraliri dengan PLTH mini miliknya. Melihat 
> itu, Bupati Malang pun berdecak kagum, siap membantu Mbah Mbing 
> mematenkan PLTH. "Kami janji untuk mematenkan hasil temuan PLTH ini. 
> Luar biasa. Jangan sampai karya warga Kabupaten Malang justru diklaim 
> milik orang lain. Secepatnya, kami akan bantu untuk mematenkan," tegas 
> Rendra.
> 
> Ia melanjutkan, selain Pemkab Malang, kabarnya dari 
> Civitas Akademia Brawijaya Malang juga akan mendaftarkan karya Mbah 
> Mbing ke HAKI. Bahkan, menteri BUMN sudah mendengar temuan PLTH serta 
> mengontak langsung penemunya.
> 
> Saking kagumnya PLTH temuan Mbah 
> Mbing, Bupati Malang langsung merogoh kocek dan memberi bantuan uang 
> tunai Rp15 juta. Kabarnya, PLTH temuan Mbah Mbing sudah dilirik sejumlah
>  perusahaan dan masyarakat umum. Bahkan, Mbah Mbing kerap dapat pesanan 
> ratusan unit PLTH temuannya. Hanya saja, ia tidak serta merta menjual 
> PLTH secara bebas.
> 
> Dikhawatirkan, produk temuannya justru 
> dijiplak dan diklaim orang lain sebelum langkah prestise hasil 
> renungannya bertahun-tahun, mendapat apresiasi tersendiri.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke