Harus saya akui saya yg katholik belajar banyak pd ibu Muskita dan semua 
tulisannya saya jadikan referensi utk diskusi dgn bbrp kelompok diskudi

-------- Original message --------
Subject: [proletar] Seragam Nun-Katolik Itu Bukanlah Penutup Aurat !!!
From: Muskitawati <[email protected]>
To: "[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>,"[email protected]" 
<[email protected]>
CC: [proletar] Seragam Nun-Katolik Itu Bukanlah Penutup Aurat !!!

Seragam Nun-Katolik bukanlah penutup Aurat melainkan seragam pengenal yang 
membedakan antara wanita biasa dengan guru wanita yang mengajar agama katolik.  
Sebaliknya, baju yang dikenakan muslimah adalah penutup aurat yang wajib 
dikenakan yang ada hukumannya apabila lalai.

Sedangkan seragam nun-katolik itu dibagikan gratis kepada para nun-katolik 
termasuk gratis untuk cuci seterikanya.  Jadi kalo lalai tidak mengenakan 
seragam ini, tidak ada hukumannya sama sekali karena si guru yang mengenakan 
baju nun-katolik ini ada kehormatan dan kebanggaan professinya dengan 
mengenakan baju nun-katolik ini.  Dengan mengenakan baju seragam ini dia 
dihormati diseluruh dunia.  Beda sekali dengan baju muslimah yang contohnya 
burqa, bukan dihormati diseluruh dunia melainkan dicurigai terorist diseluruh 
dunia, bahkan oleh muslimin laki2 pun dianggap sebagai tahanan, tawanan, 
dilarang keluar rumah, digebuki kalo melakukan pelanggaran, harus tunduk kepada 
suami atau laki2 saudaranya.

Semua wanita yang beragama Islam disebut "muslimah", jadi beda dengan di agama 
katolik, semua wanita yang beragama katolik cuma disebut sebagai "wanita 
katolik" tidak pernah disebut "suster katolik", juga bukan disebut 
"Nun-katolik".

Jadi, wanita katolik tidak ada gelarnya seperti muslimah, tapi yang ada 
gelarnya itu adalah wanita katolik yang jadi guru agama katolik, yang jadi 
pengajar agama katolik, dimana untuk mendapatkan gelar dan jabatan sebagai 
"suster atau nun-katolik" mereka harus sekolah dulu, dan selama mereka 
bersekolah harus mengenakan seragam nun-katolik yang dijiplak oleh umat Islam 
menjadi pakaian muslimah sebagai kewajiban yang dihukum kalo lalai 
mengenakannya.

Jadi seragam nun-catholic ini bukanlah penutup aurat seperti dalam pakaian 
muslimah di agama Islam.  Meskipun rada mirip2, tapi semuanya tidak sama, bahan 
kain-nya pun ber-beda, juga warnanya pun tidak sama.

Jangan lupa semua wanita yang bersekolah untuk menjadi nun-catholik mendapat 
asrama, makan minum dan seragamnya dijamin cucinya ditanggung oleh sekolah guru 
katolik itu dan juga diberi uang saku.

Jadi seragam nun-catolic itu menandakan si wanita catholik ini sudah terjamin 
hidupnya.

Beda ya, meskipun muslimah meniru memakai penutup aurat mirip nun-catholic, 
namun dia harus beli sendiri, cuci sendiri, bahkan kalo lalai dia dihukum, kalo 
di Afghanistant dipotong kepalanya, tapi di Aceh dibotakin rambutnya.

> "Tawangalun" <tawangalun@...> wrote:
> Karena Genduk belum pernah sekolah
> madrasah mana tahu,la yg benar
> ngene: Syariat tiap Nabi itu ada
> bedanya dikit2.

Hingga detik ini, aku pemilik madrasah, dulu aku juga mengajar di madrasah.  
Jadi itu urusan professi, urusan bisnis, urusan warisan dan juga sebagai urusan 
pribadi yang enggak perlu dibicarakan disini.

Jadi perlu kamu ketahui, MUSLIMAH = wanita Islam, sedangkan wanita Katolik 
BUKAN dan tidak pernah disebut atau dipanggil "Suster Katolik".

"Suster Katolik" adalah guru wanita agama katolik yang mengajar agama katolik.

Jadi untuk bisa menjadi seorang "Suster Katolik" harus melalui sekolah guru 
agama katolik, dan selama masih sekolah pun sudah harus memakai seragam seperti 
yang dipakai bunda Maria.

Sebaliknya, berbeda dengan "Muslimah" untuk menjadi muslimah cukup beragama 
Islam saja bukan jadi guru, tidak perlu sekolah pun tetap disebut Muslimah.

Muslimah dan wanita katolik sama2 tidak perlu sekolah cukup jadi penganut saja. 
 Bedanya, muslimah harus dikekang dan dihukum kalo melanggar, sedangkan wanita 
katolik bebas mau berbuat apapun tidak ada larangan bahkan ada yang masuk Islam 
pun tidak dihukum, tidak dikeluarkan dari agama katolik, contohnya saja hajah 
Irene Handono yang dulunya suster Katolik kemudian masuk Islam tetapi tetap 
beragama katolik dan bershalat di gereja katolik kepada Jesus dan bunda Maria.

Jelas berdasarkan syariah Islam Hajah Irene Handono harus dirajam atau 
dipenggal kepalanya karena murtad, tapi berdasarkan agama katolik, tidak ada 
apa2 yang harus dihukum semua nya adalah hak asasi saja sifatnya bebas memilih 
apa pun yang mau dipercayanya.

Karena Islam harus menghukum mati Hajah Irene Handono, maka demi membela diri 
dia berhak berbohong bahwa tidak pernah ke Singapore seperti tuduhan para 
saksinya enam orang laki2 yang diyakini keimanannya.  Padahal dalam Islam 
kesaksian itu cukup empat orang saja.

Para saksi itu bersumpah, "Bahwa saya telah melihat Ustadzah Irene Handono di 
suatu gereja di Singapura dengan berpakaian biarawati dan mengenakan kalung 
salib serta asesoris pakaian biarawati Katholik. Saya yakin seyakin-nyakinnya 
bahwa dia adalah ibu Irena Handono" dalam Surat pernyataan Imam Safari 
tertanggal 13 September 2008 yang di-persaksikan dan ditanda-tangani oleh enam 
orang dari ARIMATEA., yakni: Diki Candra, Nasrul S, Djoko Hardjanto, Khairul G, 
Dzulkifli M, Jeffry. (Jake setiawan)

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/irena-handono-laporkan-diki-candra-arimatea-t32966/

Jadi dalam Islam halal berbohong untuk membela agama dan membela diri sendiri 
dari hukuman mati oleh musuh2nya.

Hajah Irena dan 6 saksi2nya bersumpah atau disumpah pocong dan hasilnya ke 6 
saksi2nya itu sudah 3 tahun masih sehat walafiat, padahal kalo berdasarkan 
alQuran dan Hadistnya, maka yang berbohong akan mati dalam 7 hari.

Jadi karena ke 6 saksi2 ini tetap masih hidup selama lebih dari 3 tahun tidak 
ada yang mati satupun, maka artinya kesaksian dia sah tidak bohong dan memang 
benar si Hajah Irene tetap sebagai anggauta Gereja Katolik meskipun sudah 
bersyahadat masuk Islam.

Memang berdasarkan Islam kalo sudah bersyahadat masuk Islam berarti sudah 
melepaskan agama yang sebelumnya.  Dilain pihak dalam agama Katolik dan agama2 
lainnya tidak ada aturan untuk keluar dari agama sebelumnya hanya mau masuk 
agama mereka sebagai tambahan agamanya yang baru.

Ny. Muslim binti muskitawati.

[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke