http://www.lampungpost.com/index.php/buras/42801-perspektif-baru-kemiskinan.html
Perspektif Baru Kemiskinan!
Senin, 30 July 2012 00:59
"ADA perspektif baru kemiskinan dari Sri Edi Swasono (Kompas, 28-7), di
mana miskin bukan lagi persoalan keberadaan pada garis atau di bawah garis
kemiskinan!" ujar Umar. "Seorang dosen bisa 'termasuk miskin' meski gajinya
Rp2,4 juta, ia keluarkan untuk pekerja rumah tangga (PRT) Rp750 ribu, listrik
Rp500 ribu, iuran RT/RW Rp200 ribu, cicilan laptop, pulsa, dan tetek bengek!
Seseorang terpojok miskin, tulisnya, tatkala ia melihat iklan-iklan di televisi
menayangkan kemewahan yang tidak terjangkau daya belinya, gebyar-gebyar
kemewahan mengepung kemiskinannya yang menjadikan nestapa dalam keperihan
hati!"
"Perspektif baru kemiskinan dari Sri Edi itu menegaskan kemiskinan bukan
cuma realitas kondisi hidup papa serbakekurangan atas kebutuhan dasar manusia,
melainkan juga perasaan yang bisa menyekap seseorang di tengah situasi kontras
yang membuatnya jadi merasa miskin!" timpal Amir.
"Jadi, kemiskinan oleh realitas serbakekurangan kebutuhan dasar bisa
disebut kemiskinan kondisional! Sedang kemiskinan yang dirasakan akibat
tersekap situasi kontras di sekelilingnya bisa disebut kemiskinan situasional!"
"Begitulah!" sambut Umar. "Pegawai-pegawai negeri dan swasta pun, ia
lukiskan, menjadi miskin oleh iklan-iklan rumah dan apartemen mewah
metropolitan yang menggugah kecemburuan sosial dan menumbuhkan 'minderisasi'
(inferiorization), sementara cicilan rumah sederhana mereka menjadi beban
berkepanjangan!"
"Itu menambah perbendaharaan istilah, kemiskinan, dari kemiskinan
struktural yang popular selama ini!" timpal Amir. "Kemiskinan struktural
terjadi akibat penindasan lapisan atas struktur sosial (patron) terhadap
lapisan sosial di bawahnya (client). Hubungan patron yang menindas client itu
kini mungkin bisa digambarkan dengan majikan yang menindas buruhnya, atau
penguasa (dan politisi) yang menindas pendukung alias konstituennya!"
"Kemiskinan strukrural yang terus berproses itu pula sebagai penyebab
timbul dan menguatnya kemiskinan situasional yang mencuat akibat ketimpangan
sosial semakin tajam!" tegas Umar.
"Ketimpangan sosial kian tajam terjadi akibat mapannya penindasan patron
terhadap client-nya, baik itu dalam bentuk penindasan majikan atas buruhnya
maupun penindasan penguasa (dan politisi) terhadap massa konstituen
pendukungnya!"
"Kelompok patron itulah yang ditawari rumah dan apartemen mewah dengan
cicilan lebih Rp10 juta/bulan!" tukas Amir. "Itu membuat kelompok client yang
hanya lewat mendengar iklannya saja jadi merasa miskin!" ***
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/