Refleksi : Lidah tak bertulang, jadi mungkin sekali pada dialog interfaith tsb 
Presiden hanya asbun. Jadi jangan cepat percaya apa yang diomongkan oleh 
petinggi negara.


http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/24/opi05.htm

Surat Pembaca
Kebebasan Beragama
Presiden di depan peserta The ASEM Interfaith Dialogue " beberapa waktu lalu 
menyatakan, moderasi berarti kita harus mencegah pemaksaan pendapat seorang 
terhadap yang lain dan menghindari kekerasan. Moderasi mengharuskan kita 
menghormati hak-hak orang lain dan menghormati orang lain. 

Moderasi menurut kita adalah menghargai dialog dan perbedaan. Moderasi 
menghendaki pendekatan inklusif dan komitmen total terhadap perdamaian dan 
toleransi."

Tetapi, menjadi sangat ironis dengan apa yang dialami bangsa ini. Bagaimana 
tidak, lihat penyerangan dan penutupan kampus Mubarak, milik Ahmadiyah 
Indonesia di Parung. Merampas kebebasan berkeyakinan adalah kejahatan 
kemanusiaan yang menyakitkan. 

Tidak ada penderitaan batin yang lebih memedihkan dibanding pelarangan terhadap 
seorang beriman untuk menganut keyakinan batinnya yang diyakini merupakan jalan 
keselamatannya di dunia dan di akhirat.

Menjadi ironis lagi, jika pemerintah tunduk terhadap intimidasi dan pemaksaan 
kehendak kelompok yang melanggar hak asasi manusia yang dijamin konstitusi. 

Bila ini terjadi terus menerus, konstitusi terhadap kebebasan berkeyakinan akan 
menjadi rumusan yang tidak berarti dan masyarakat beradab tentu akan 
menertawakan. 

Tegakah bila salah seorang warga dihukum karena mengamalkan keyakinan agama 
atau kepercayaan yang dianggap menyimpang oleh golongan mayoritas? 

Apakah kita harus mengusir "mereka" yang didapati beribadah menurut keyakinan 
dan di tempat ibadah mereka sendiri dan kita menuduh mereka melakukan tindakan 
kriminal. Apakah mesti "mereka" kita usir dari negara ini, padahal sejak turun 
temurun merupakan penduduk asli dan bukan keturunan asing.

Ini menjadi refleksi, bagi kita masing-masing sebagai warga negara Indonesia. 
Hendaklah berfikir konsekuensi dari pelarangan tersebut. Dan membayangkan bila 
pelarangan tersebut menimpa diri kita sendiri. 

Robertus Darmono Bayo A 
Jl Bugangan III/362 A, Semarang


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12helm504/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1124855644/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke