***SBY harus segera naikkan harga bensin ! Jatuhnya nilai rupiah sama sekali 
tidak membantu ekspor kita. Menaikkan suku bunga rupiah lebih mematikan 
industri kita.

***MUI, FPI...terus ng-test kesabaran dan keberanian SBY. Negara2 Barat 
tidak pernah ragu2 ingkari janji, jadi imbalan yang Helsinki janjikan bisa 
ditunda bahkan dibatalkan, toh bila SBY gagal mengamankan perjanjian damai 
sama GAM, keamanan dalam negeri terancam, SBY bisa digulingkan.

Tajuk

The vote of no confidence?

Pada akhir Oktober 1997, Kepala Perwakilan Bank Dunia di Jakarta, kala itu 
Dennis de Tray, menjadi orang yang pertama kali secara terbuka memakai 
istilah the vote of no confidence: krisis kepercayaan.

Setelah itu, bak bola salju, krisis kepercayaan benar-benar mewujudkan 
bentuknya secara masif. Akibatnya, seiring dengan perjalanan krisis politik 
dan ekonomi dalam kurun waktu 1997-1998 itu, rupiah jebol tergulung 
?tsunami.? Sejarah mencatat rupiah pernah berada di level Rp16.650/US$ pada 
17 Juni 1998.

Padahal, sebelum 14 Agustus 1997, ketika sistem nilai tukar rupiah masih 
menganut managed floating (mengambang terkendali), kurs rupiah relatif 
stabil pada kisaran Rp2.400-an per US$. Anjloknya rupiah itu semakin 
memperdalam krisis ekonomi. Ini karena tingkat suku bunga SBI, atas saran 
IMF, dinaikkan hingga hampir mendekati tiga digit. Kala itu, inflasi 
menembus 80%, dan ekonomi yang semula bertambah rata-rata 7% per tahun tidak 
tumbuh, bahkan menciut 14%.

Tidak berlebihan mengenang kembali masa-masa pahit itu di saat banyak 
harapan belakangan ini tumbuh terhadap pemerintahan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono yang diberi mandat penuh oleh rakyat melalui pemilu langsung. Kita 
tentu tidak ingin kenangan pahit itu kembali terulang hari-hari ini setelah 
rupiah kembali jebol memasuki wilayah mencemaskan, yaitu Rp10.000 per US$.

Apalagi kalangan pelaku pasar menyebutkan melemahnya rupiah sudah memasuki 
wilayah kepercayaan. Bibit krisis kepercayaan yang mulai bersemi itu terjadi 
lantaran pemerintah tidak kunjung menunjukkan sinyal jelas mengenai 
kebijakan yang akan diambil dalam, katakanlah, mengatasi kemelut anggaran 
yang terbebani lonjakan subsidi. Bahkan sejak April 2005, kita disuguhi 
kelangkaan bahan bakar minyak, karena Pertamina kesulitan uang untuk 
mengimpor minyak mentah dan BBM akibat lonjakan harga dunia yang mendekati 
US$70/barel.

Lalu, pemerintah mengajukan RAPBN 2006 dengan asumsi yang dinilai jauh dari 
realistis. Pejabat pemerintah dengan enteng mengatakan angka-angka itu toh 
masih bisa direvisi.

Kesan tidak serius itu, ditambah faktor fundamental yang memicu permintaan 
dolar AS yang besar, akhirnya memicu apa yang disebut krisis kepercayaan. 
Akibatnya, pasar menjebol rupiah di level psikologisnya.

Secara teknis memang banyak faktor yang memicu kejatuhan rupiah. 
Disebut-sebut para pemilik modal?yang sejak 2003 kembali masuk membeli 
aset-aset BPPN setelah ngumpet di Singapura?kali ini kembali kabur.

Indikasinya, sejak April 2005 terjadi penarikan besar-besaran reksadana 
rupiah. Puncaknya di hari-hari ini ketika mereka melepas saham besar-besaran 
di lantai bursa lalu memburu dolar. Itu semua menambah bobot penekan yang 
kian berat terhadap rupiah.

Kita tidak ingin hal ini dibiarkan. Otoritas yang berwenang sudah saatnya 
mengambil tindakan. Misalnya, segera memberesi kemelut BBM disertai langkah 
konkret meningkatkan pasok valuta asing ke pasar, misalnya saja, dengan 
menerapkan repatriasi devisa atau kebijakan yang lain.

Jangan sekali-kali mengabaikan peringatan kecil. Kata-kata Dennis de Tray 
menjadi relevan untuk diingat sekarang. Jangan sampai perekonomian nasional 
kembali terpuruk gara-gara otoritas tidak berbuat apa pun, terutama dalam 
memulihkan krisis kepercayaan.

http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A12&cdate=24-AUG-2005&inw_id=385928




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h5627uj/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705796846:TM/Y=YAHOO/EXP=1124883387/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/";>What
 would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer 
in the arts today at Network for Good</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke