http://us.metro.news.viva.co.id/news/read/343133-istri-mantan-gubernur-dki-butuh-uluran-pemda
Istri Mantan Gubernur DKI Tinggal di Gang
Selepas jadi Gubernur DKI, Henk dan istrinya tinggal di gang sempit.
Kamis, 9 Agustus 2012, 15:53 Ismoko Widjaya, Luqman Rimadi 
 
Evie Mamessa dan foto suaminya mantan Gubernur DKI Henk Ngantung. 
(VIVAnews/Luqman Rimadi)
BERITA TERKAIT
 
Henk Ngantung, Gubernur DKI yang Tersisih
  a.. Kenali Henk Ngantung, Gubernur DKI Non Muslim 
  b.. Bahas SARA, Panwaslu Panggil Anas dan Kiemas 
  c.. Video Foke Singgung Jokowi, Ini Kata Panwaslu 
  d.. Video Foke Soal Jokowi Beredar di YouTube 
VIVAnews - Henk Ngantung atau Hendrik Hermanus Joel Ngantung, mantan Gubernur 
DKI yang non-muslim itu kini sudah tiada. Pria Kristiani yang tidak pernah 
diserang isu SARA saat menjabat Gubernur DKI itu tidak pernah membeda-bedakan 
golongan. 

Kini, keluarga Henk Ngantung hidup sebatang kara. Tidak ada perhatian serius 
dari pemerintah provinsi DKI. Pemerintah provinsi yang pernah dipimpinnya pada 
27 Agustus 1964 sampai 15 Juli 1965. 

Setelah dicopot dan pensiun dari kursi Gubernur DKI, Henk dan istrinya, Evie 
Mamessa, pindah ke sebuah rumah yang kurang layak untuk sekaliber mantan 
gubernur Ibukota negara. Keluarga dengan dua putri dan dua putra itu tinggal di 
dalam gang sempit. Gang selebar satu buah sepeda motor. Rumahnya tampak seperti 
bangunan lama dan belum ada sentuhan renovasi. 

"Kami tidak punya harta apa-apa. Untuk air saja setiap jam harus mati. Tidak 
ada yang memperhatikan saya," kata Evie, istri Henk saat ditemui di 
kediamannya, Gang Jambu, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, Kamis 9 Agustus 
2012. 

Luas rumah Henk memang sekitar 1.400 meter persegi. Tapi sebagian besar itu 
adalah halaman atau pekarangan. Rumah cokelat yang dihuni Evie tidak terlalu 
besar. Wanita yang dinikahi Henk pada 1964 itu hanya menempati kamar berukuran 
3x2 meter. 

"Untuk hidup sehari-hari saya hanya mengandalkan pensiun yang sebesar Rp830 
ribu. Uang pensiun saya dapat itu baru sejak 1980. Sebelum itu, tidak ada uang 
apapun yang saya terima dari Pemda," kata wanita berkacamata ini. 

Henk melepas jabatan gubernur pada 1965 karena dituduh terlibat Partai Komunis 
Indonesia (PKI). Dia tidak pernah mendapat dana pensiun selama sekitar 15 
tahun. Henk tidak pernah menerima surat tanda terima kasih dari pemerintah 
setempat. Tidak ada penghargaan atau sejenisnya yang mampir ke rumah. Tidak 
seperti mantan gubernur lainnya yang mendapat jatah rumah, Evie dan Henk tidak 
mendapat fasilitas itu. 

"Saya harap, biarpun terlambat, datanglah gubernur ke rumah saya. Malu 
sebenarnya, kok mantan gubernur tinggal di gang. Tidak punya rumah," ujar Evie.

Evie mengaku kerap mendapat bantuan dari berbagai pihak. Bahkan ada perusahaan 
yang berniat menyokong biaya hidup. Tapi Evie tolak. "Saya hanya butuh dari 
Pemda," ujar dia. 

Keempat anak Evie-Henk kini sudah hidup terpisah dengan keluarganya 
masing-masing. Yang semakin miris, Evie juga tidak pernah ditengok oleh 
anak-anaknya. Keempat anaknya sempat kesulitan sekolah karena label PKI yang 
melekat pada sang ayah.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke