http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=39124

SABTU, 10 Agustus 2012 | 429 Hits


“Refleksi Peluncuran Buku Andi Oddang” 
Qahhar Mudzakkar, Pejuang atau Pemberontak? 


Mohon maaf Petta Usu, dengan sangat terpaksa saya menanyakan hal yang saya tahu 
selama ini Petta Usu tidak mau menceritakan. 

Tapi saya mesti bertanya karena saya merasa mendapat titipan amanat dari 
beberapa anak Kahar Muzakkar yang kebetulan semuanya kenal dekat dengan saya, 
yaitu: Di manakah dimakamkan jenazah Kahar Muzakkar setelah tewas tertembak 
dalam operasi penumpasan pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan ?” (A.M.Fatwa 
Petta Lewa).

Menurut A.M. Fatwa, ada dua hal yang sangat tidak disukai Jenderal Jusuf, untuk 
dipertanyakan kepadanya, yaitu kebaradaan naskah asli Supersemar (Surat 
Perintah Sebelas Maret) dan Lokasi Pemakaman Jenazah Kahar Muzakkar yang mati 
tertembak oleh Pasukan Siliwangi dalam operasi militer penumpasan DI/TII di 
Sulawesi Selatan. 

Kejelasan terhadap kedua hal tersebut dari Jenderal Jusuf memang sekian lama 
sangat ditunggu oleh publik, namun sampai akhir hayatnya beliau tetap 
bersikukuh untuk tidak menjelaskannya, sehingga kedua hal tersebut tetap 
menjadi misteri yang banyak mengundang spekulasi.

Terkait dengan Kahar Muzakkar, bukan hanya makamnya yang diperlukan kejelasan, 
tetapi juga peran dan pikiran-pikiran idiologisnya, agar masyarakat mendapatkan 
ruang penilaian secara objektif terhadap berbagai stigma yang seringkali 
dikaitkan dengan nama besar seorang Kahar Muzakkar yang dalam konotasi positif 
disebut sebagai pejuang, sedang dalam stigma negatif disebut sebagai 
pemberontak.

Hal tersebut terasa penting, bukan hanya karena ketokohan Kahar Muzakkar sangat 
fenomenal dan melegenda, tetapi juga karena nama besarnya terikut-serta dalam 
agenda politik pilgub 2013 yang kini sedang dijelang di Sulawesi Selatan 
lantaran seorang putranya kembali akan menguji elektabilitasnya setelah kandas 
memenangkan pertarungan dalam pilgub 2008 yang lalu. 

Kali ini Ir. Aziz Qahhar Mudzakkar tidak lagi akan bertarung pada posisi Calon 
Gubernur, tapi lebih memilih untuk bertarung pada posisi Calon Wakil Gubernur 
berpasangan Ir Ilham Arief Sirajuddin yang bersiap maju sebagai Calon Gubernur, 
dengan tagline Semangat Baru.

Terlepas dari kedua hal tersebut, sesungguhnya yang jauh lebih penting adalah 
aspek kebanaran sejati terhadap faktor ”x” bagi Kahar Muzakkar yang mulanya 
adalah seorang komandan militer dalam pasukan griliya yang dikomandoi langsung 
oleh Jenderal Sudirman di Pulau Jawa, dengan pangkat Letnan Kolonel, lantas 
memilih hengkang dan masuk hutan lalu berperang melawan teman-teman 
seperjuangannya sendiri.

Dalam doktrin militer, pembangkangan terhadap perintah atasan adalah ”deserse” 
atau ”indisipleneer” yang konsekwensinya adalah pemecatan, tetapi bagi seorang 
Kahar Mudzakkar ia memilih memecat dirinya sendiri dengan cara menyerahkan 
tanda pangkatnya sebagai protes atas ketidak hirauan atasannya terhadap 
gagasan-gasannya dalam rekrutmen anggota TRIPS (Tentara Republik Indonesia 
Persiapan Sulawesi).

Kahar Muzakkar di zamannya adalah seorang patriot pemberani yang kokoh memegang 
teguh prinsip hidupnya sehingga ia adalah sosok pemimpin yang disegani dan 
dihormati baik kawan maupun lawan-lawannya. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan 
dengan semangat ”hidup ataoe mati”, telah menyandang pangkat perwira menengah 
ketika Republik Indonesia masih dalam usia balita, dan mendapat mandat dari 
Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk membentuk Tentara Republik Indonesia 
Persiapan Sulawesi (TRIPS) bersama Mayor Andi Mattalatta selaku Wakilnya dan 
Mayor M.Saleh Lahade selaku Kepala Stafnya, tentulah semakin menggugah rasa 
keingin tahuan kita terhadap alasan prinsip yang membuat dia lebih memilih 
hidup di hutan sebagai pemberontak, ketimbang membina karier militernya yang 
tentunya lebih menjanjikan hidup tenang dan relatif lebih nyaman ketika itu.

Aroma pencarian kebenaran sejati itu tersembur kuat dalam peluncuran buku 
bertajuk ”Memoar Brigjen Purn Andi Oddang Untuk Merah Putih”, ketika seorang 
remaja bernama Andi Rio yang saya duga baru berusia ”sweet seven teen” bertanya 
pada kakiknya tentang benar tidaknya pemberontakan Kahar Muzakkar itu bermotif 
pertentangan idiologi atau karena rivalitas jabatan dalam karier militernya 
waktu itu. 

Anak muda ini sepertinya sangat ingin mendengar penilaian sang kakek, apakah 
Kahar Muzakkar layak disebut sebagai pejuang, atau memang sudah semestinya 
disebut saja sebagai pemberontak.

Mendengar pertanyaan cucunya itu, Brigjen Purn Andi Oddang yang ingatannya 
masih sangat baik dalam usianya yang telah mencapai 84 tahun, tidak langsung 
menjawab dengan kalimat singkat tegas sebagaimana lazimnya dalam komunikasi 
militer, tetapi ia sangat santun, tenang dan dengan penuh ekspressi menjelaskan 
pengalamannya secara detail lika liku perjuangannya dalam membela merah putih 
termasuk kebersamaannya dengan Kahar Muzakkar melakukan perang griliya di Pulau 
Jawa, yang kemudian setelah kembali ke Sulawesi Selatan dalam kariernya sebagai 
anggota militer pernah dua kali mendapat penugasan untuk mengantarkan surat 
rahasia kepada Kahar Muzakkar sebagai pimpinan DI/TII dalam missi diplomasi 
militer yang sangat berisiko terhadap keselamatan jiwanya.

Dia masih ingat ketika pertama kali dipilih oleh Mayor M.Jusuf Amir (Jenderal 
Jusuf) yang menjabat sebagai Komandan Garnizun Kota Makassar, untuk 
menyampaikan surat kepada Kahar Muzakkar yang sedang nginap di Hotel Pension 
(terletak di Jl.Botolempangan) yang ternyata isinya meminta Kahar Muzakkar 
untuk keluar dari Kota Makassar 1 x 24 jam, tanpa menyebutkan alasannya.

Surat itulah yang menorehkan sejarah awal mula Letkol Kahar Muzakkar 
meninggalkan Kota Makassar dan memilih masuk hutan. Keberadaan Kahar Muzakkar 
di Makassar waktu itu adalah untuk membicarakan masalah penyelesaian CTN 
(Cadangan Tentara Nasional) dengan Panglima Kolonel A.Kawilarang. Sebagai 
Komandan Resimen Persiapan Sulawesi waktu itu Kahar Mudzakkar mengusulkan agar 
CTN dilatih pada Depo Batalyon lalu diadakan seleksi. 

Bagi yang memenuhi syarat, direkrut menjadi tentara sedang yang tidak lolos 
seleksi dikembalikan ke masyarakat dan ditampung oleh pemerintah. Tetapi semua 
keiinginan Letkol Kahar Muzakkar ditolak mentah-mentah oleh Panglima 
Kawilarang, Dan yang lebih membuat Kahar Muzakkar merasa tidak senang ketika ia 
tahu dirinya akan diangkat menjadi Wakil dari Letkol Sukowati sebagai Komandan 
Resimen 23, sedang Sukowati sendiri adalah bekas anak buahnya ketika melakukan 
perang gerilya di Pulau Jawa. Begitulah kisahnya sehingga Kahar Muzakkar 
bersama beberapa bataliyon CTN masuk hutan dan melakukan pemberontakan. 

Sebagai seorang bangsawan, Andi Oddang pun menutup kalimatnya dengan ungkapan 
yang bersahaja, bahwa Kahar Muzakkar itu adalah seorang yang banyak jasanya 
terhadap negara, tetapi ketika kemudian dia memberontak tentulah hal itu 
baginya jalan yang terbaik untuk sebuah prinsip yang diyakininya.(*)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke