http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=39201
MINGGU, 18 Agustus 2012 | 

Menelusuri Sisa-Sisa Kejayaan Lan Fang, “Republik” Pertama di Indonesia (1)
Bertahan 107 Tahun sebelum Dihancurkan Belanda


Jauh sebelum negara Indonesia terbentuk, di Kalimantan Barat berdiri sebuah 
republik. Negara de jure itu didirikan pada 1777 oleh Lo Fang Pak, seorang 
perantauan dari Tiongkok Daratan.

Tangan Xaverius Fuad Asali bergerak lincah membuka halaman demi halaman sebuah 
buku berbahasa Mandarin. Buku berjudul Het Kongsiwezen van Borneo itu berisi 
sejarah kongsi orang Tionghoa di Kalimantan yang ditulis J.J.M. deGroot, 
seorang sejarawan asal Belanda. Tangannya lantas berhenti di sebuah halaman 
yang bergambar peta Kalimantan Barat.

Peta tambahan dari sejarawan Lo Shiang Lim tersebut dibagi menjadi empat 
bagian. Selain Kalbar, digambarkan pula arah datangnya orang Tiongkok Daratan 
ke Kalimantan. “Orang-orang Hakka (salah satu suku di Tiongkok, Red) masuk 
melalui jalur laut. Lewat Vietnam, Pulau Natuna, lalu masuk ke Kalimantan,” 
ujarnya sambil menunjuk peta.

Kelompok-kelompok yang datang dan bekerja sebagai penambang emas itu lantas 
membuat persatuan atau kongsi. Biasanya, kongsi tersebut berdasar tempat mereka 
menambang. Sebelum dihancurkan Belanda, terdapat tiga kongsi besar yang 
menaungi kongsi-kongsi kecil. Tiga kongsi itu adalah Samtiaokioe, Fosjoen 
(lantas berubah menjadi Thaikong), dan Lan Fang.

Fuad Asali yang juga sejarawan Tionghoa Kalbar itu lantas menjelaskan bahwa 
yang terlihat di peta tersebut adalah wilayah kekuasaan Lan Fang. Wilayah itu 
sangat luas meski kongsi yang didirikan Lo Fang Pak tersebut harus berbagi 
wilayah dengan Thaikong, kongsi besar lain yang memiliki wilayah di sekitar 
Montrado, Singkawang, serta Sambas.

Meski sama-sama besar, ada beberapa hal yang membedakan antara dua kongsi itu. 
Thaikong masih menggunakan sistem feodal, sedangkan Lan Fang lebih demokratis. 
Selain itu, Thaikong cenderung berdiri sebagai kongsi yang keras serta kurang 
berpendidikan. “Sangat berbeda dari kelompok Lo Fang Pak yang berpendidikan dan 
halus,” imbuhnya.

Nah, sistem lebih demokratis itulah yang membuat Lan Fang secara tidak langsung 
diberi gelar “republik”. Masuk dalam tanda kutip karena secara de facto tidak 
ada pengakuan resmi terhadap kepemimpinan Lo Fang Pak secara internasional. 
Meski, kenyataannya, syarat untuk terbentuknya negara sudah terpenuhi.

Fuad yang sudah berusia 80 tahun itu tidak perlu berpikir lama untuk mengingat 
kenapa Lan Fang dekat dengan republik. Dia langsung menyebutkan bahwa Lan Fang 
sudah memiliki rakyat. Mereka juga menyelenggarakan pemilu selama berdirinya 
republik itu. Mereka juga memiliki sistem perekonomian, perbankan, serta 
peraturan hukum sendiri.

“Lo Fang Pak juga memiliki sebuah pasukan keamanan sendiri. Tidak untuk 
menyerang, tapi melindungi teritori sendiri, termasuk dari Montrado (Thaikong, 
Red),” jelasnya.

Kedekatan-kedekatan itulah yang membuat kepemimpinan Lo Fang Pak bisa dikatakan 
sebagai republik. Berbeda dari sistem kekuasaan lain saat itu yang masih 
monarki.

Fuad lantas mengambil beberapa referensi buku lainnya sebelum menjelaskan 
kenapa Lo Fang Pak bisa sangat kuat dan menjadi pemimpin. Karisma adalah salah 
satu kekuatan pemuda 28 tahun (ada yang menyebut 34 tahun) itu saat kali 
pertama masuk Kalimantan dengan menggunakan kapal melalui Kuala (muara) 
Mempawah, Pontianak, 1771.

Bersama sekitar 100 orang dari Tiongkok, dia memasuki Sungai Peniti untuk masuk 
pedalaman. Tiba-tiba, ada sebuah buaya yang hendak menyerang dan konon berhasil 
dihalau Lo Fang Pak. “Masyarakat makin menaruh hormat karena dia juga memiliki 
kemampuan di bidang persilatan serta pengobatan,” jelasnya.

Sumber lain menyebutkan, dia makin terkenal karena membantu Sultan Abdurrahman 
(sultan Pontianak) saat bertikai dengan sultan Mempawah. Pertikaian karena 
pembangunan istana di hulu sungai kekuasaan Mempawah itu berakhir dengan 
perjanjian damai. Nama Lo Fang Pak makin diperhitungkan karena penandatanganan 
perjanjian dua kesultanan tersebut dilakukan bersama dirinya.

Kelompoknya makin tangguh karena hanya berisi satu etnis, tidak seperti kongsi 
Thaikong yang menaungi 14 kongsi. Lo Fang Pak berasal dari Shak Shan Po, 
Kabupaten Koyinchu, Provinsi Kanton. Dia memilih anggota dari satu etnis karena 
merasa bisa lebih dipercaya dan solid.
Meski demikian, tidak berarti anggotanya murni dari satu etnis. Sebab, dalam 
perjalanannya, warga Republik Lan Fang melakukan akulturasi dengan pribumi, 
khususnya Suku Dayak. Maklum, saat datang, mereka sendirian tanpa membawa istri.

Meski para lelakinya asli Tiongkok, para istri mereka tetap pribumi. “Termasuk 
buyut perempuan saya. Dia orang Dayak asli,” ungkap penulis buku Aneka Budaya 
Tionghoa Kalbar itu.
Pola perantauan Hakka dari Tiongkok, kata Fuad, memang selalu datang sebagai 
bujangan. Terutama pada masa-masa kongsi dan penjajahan masih berlangsung di 
Nusantara. Akulturasi itulah yang membuat jumlah orang Tionghoa di Kalbar 
sangat banyak. 

Bahkan, konflik horizontal di antara mereka jarang meletus hingga besar. Meski, 
pengusaha pemilik nama asli Lie Sau Fat itu tidak menutup mata bahwa pertikaian 
karena ulah oknum-oknum masih terjadi. Akulturasi tersebut juga menjadi salah 
satu warisan Lo Fang Pak dan kongsi lain yang masih bisa dilihat.

Saat Lan Fang didirikan, warga sebenarnya menginginkan Lo Fang Pak menjadi 
sultan saja, seperti halnya kesultanan Sambas dan Mempawah. Tapi, dengan bijak 
dia menolak dan memilih pemerintahan yang berbeda dari kerajaan. Lantas, dalam 
pemilihan umum disebutkan bahwa Lo Fang Pak terpilih menjadi presiden pertama.

Meski demokrasi, ada aturan bahwa yang boleh menjabat presiden adalah orang 
Hakka yang berasal dari daerah Ka Yin Chiu atau Thai Pu. Selain itu, mereka 
memiliki bendera yang berbentuk persegi empat berwarna kuning dengan tulisan 
dalam bahasa Mandarin yang berbunyi Lan Fang Ta Tong Chi.

Untuk pakaian, Lan Fang menerapkan aturan yang berbeda antara pejabat tinggi 
dan rendah. Kalau pejabat tinggi berpakaian ala Tiongkok, pakaian model Barat 
diperuntukkan bagi pejabat yang lebih rendah. Tidak lupa, agar arus perdagangan 
makin lancar, dibentuklah sebuah sistem transportasi.

Di tempat terpisah, Any Rahmayani, peneliti Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai 
Tradisional Pontianak, menyebutkan, dalam buku berbahasa Belanda yang dia bawa 
dikatakan: vermoedelijk heeft de Panembahan van Mampawah tusschen 1740 en 1745 
een 20ital chineezen uit Broenei laten komen, om voor zijn rekening goud te 
zoeken aan de Soengei Doeri.

Jika diterjemahkan, artinya: Panembahan Mempawah pada 1740 dan 1745 mengundang 
20 orang Tiongkok dari Brunei untuk melihat kandungan emas yang ditemukan di 
Sungai Duri. Setelah itu, banyaknya kandungan emas membuat pertambangan butuh 
banyak pekerja. Terus berdatanganlah orang Tiongkok.

Mereka datang sebagai bujangan karena ada larangan membawa istri kalau mau 
menjadi pekerja di Kalimantan. Begitu juga dengan Lo Fang Pak bersama 100 orang 
lainnya, mereka bertujuan untuk menambang emas. “Kalau di wilayah Panembahan 
Mempawah ada tambang di daerah Mandor, di sanalah ada Lan Fang,” terangnya.

Sama dengan Fuad, Any membawa berbagai referensi buku untuk menjelaskan semua 
itu kepada Jawa Pos. Sebab, tak banyak referensi yang menceritakan republik 
pertama tersebut. Terutama dari buku-buku terbitan masa kini. Satu kesepakatan 
di antara keduanya adalah sistem republik yang dianut Lan Fang.

“Pemimpinnya selalu diganti dan dipilih melalui sistem pemilihan. Perekrutan 
pekerja dan pembagian hasil juga yang paling baik,” urainya. Soal penyebab Lan 
Fang terus menguat, perempuan berjilbab tersebut mengungkapkan bahwa itu 
terjadi karena kerajaan-kerajaan saat itu tak mau tahu.

Selama setoran upeti lancar, mereka tidak mau tahu apa yang terjadi dalam 
kongsi-kongsi tersebut. Jadi, Lan Fang berhasil mengembangkan wilayah dengan 
luas serta memiliki kepercayaan rakyat yang tinggi. Karena itu, Any menyebutkan 
bahwa keberadaan Republik Lan Fang seperti duri dalam daging.

Ujung-ujungnya, kerajaan meminta bantuan penjajah untuk memberangus 
kongsi-kongsi tersebut. Belanda menyanggupi karena tergiur banyaknya deposito 
emas di bawah tanah kerajaan. Berbagai cara dilakukan, termasuk pola adu domba. 
Akhirnya, kongsi berhasil dibubarkan pada 1884. Termasuk Lan Fang yang masih 
dianggap kongsi Tionghoa oleh Belanda.

Jika dihitung-hitung, Republik Lan Fang bertahan selama 107 tahun. Tercatat, 
presiden terakhir yang menjabat adalah Liu A Syin yang memegang tampuk 
kepemimpinan pada 1880-1884.
Kebesaran Lan Fang menyisakan berbagai hal seperti Kelenteng Lo Fang Pak di 
Sungai Puruh Besar, kantor License Officer di Pontianak (sekarang jadi Bank 
Mandiri), hingga Tugu Peringatan di Desa Mandor, Kecamatan Mandor. 
(c5/nw/bersambung)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke