http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=189892

Selasa, 20 Sept 2005,



Reshuffle, Restrukturisasi, Reorientasi
Oleh Riswandha Imawan *


Sekalipun awalnya Presiden SBY enggan berpikir tentang opsi reshuffle Kabinet 
Indonesia Bersatu (KIB) untuk memperbaiki kinerja pemerintahannya, akhirnya 
sinyal untuk itu diberikan juga (JP, 18/9/05). Pertanyaannya, apakah tindakan 
tersebut merupakan obat mujarab yang diperlukan? Apakah reshuffle merupakan 
satu-satunya opsi yang dibutuhkan? 

Hanya Reshuffle?
Kata reshuffle selalu muncul tatkala kinerja kabinet di Indonesia tidak becus. 
Sekalipun enak dan populer diucapkan, sedikit orang yang paham maknanya.

Dalam khasanah politik, reshuffle bermakna tindakan reorganisasi dengan 
melakukan redistribusi tugas dan kewenangan tiap elemen yang ada serta reposisi 
orang-orang yang terlibat dalam satu jaringan kerja. Asumsinya, pilihan 
terhadap orang-orang yang terlibat itu sudah benar. Hanya, mereka salah letak, 
salah posisi dengan besaran kewenangan yang salah pula bila dibandingkan dengan 
misi yang diembannya.

Konkretnya, dalam kasus KIB, jumlah kementerian dan para menterinya sudah 
dipilih dengan benar, hanya mereka salah letak. Karena itu, yang dibutuhkan 
Presiden SBY hanya mengubah-ubah susunannya.

Asumsi inilah yang justru harus kita pertanyakan. Morat-maritnya kinerja KIB, 
pating blasur-nya (tidak keruannya) pernyataan para menteri, apakah itu 
merupakan kesalahan letak mereka, ketidakmampuan mereka, atau ketidakmampuan 
Presiden SBY?

Fenomena yang kita lihat akhir-akhir ini, kinerja KIB mirip orkestra yang 
memainkan berbagai partitur (buku musik). Setiap orang merasa berhak melakukan 
improvisasi, sementara sang dirigen tidak tahu sedang memainkan lagu apa? 
Bahkan, tidak tahu apakah sedang memainkan irama klasik, jazz, atau rock 'n 
roll?

Semua bergerak seolah tanpa arahan dirigen. Isu kenaikan harga BBM, misalnya. 
Seorang menteri menyatakan BBM premiun "hanya" naik Rp 500. Menteri lain 
menyatakan 50 persen.

Wapres menyebut angka 80 persen. Soal waktu menaikkan, Presiden SBY menyebut 
awal 2006, Wapres menyebut awal Oktober 2005, Menko Perekonomian menegaskan 
"sebisanya hari ini."

Belum lagi isu-isu lain, seperti wabah penyakit. Menkes menyatakan penduduk 
tidak mampu memelihara lingkungan. Menteri lain menunjuk daya beli masyarakat 
yang makin lemah untuk memenuhi standar hidup sehat serta menteri yang lain 
lagi menyatakan penduduk terimbas pencemaran lingkungan.

Ada lagi pembantu presiden yang menyatakan kenaikan BBM dibutuhkan agar 
pemerintah bisa menyantuni 15,5 juta orang miskin dengan Rp 100 ribu/bulan. 
Sementara itu, Wapres dengan bangga menyatakan (mantan) anggota GAM akan 
mendapat santunan Rp 5.000/hari.

Artinya, Rp 150 ribu/bulan. Angka itu "tidak jauh beda" dengan santunan untuk 
rakyat miskin. Namun secara politis, santunan kepada (mantan) anggota Teuntara 
Neugara Atjeh -begitu mereka menyebut dirinya- bisa merontokkan moral bangsa 
Indonesia, khususnya TNI.

Kalau begini faktanya, yang dibutuhkan Presiden SBY bukan sekadar reshuffle. 
Dia juga harus berani melakukan restructuring dan reorientasi tujuan kerja KIB 
hingga jelas lagu yang hendak didendangkan ke rakyat. 

Restructuring dan Reorientation
Sejauh ini, sepak terjang perilaku anggota KIB mengindikasikan adanya masalah 
dalam koordinasi kerja yang terkait dengan format kabinet, tidak berfungsinya 
jaringan internal kabinet, serta pilihan terhadap orang yang tidak 
memperhatikan keahliannya.

Sebab, kebutuhan teknis administratif dan akomodasi politik dicampur aduk. 
Kewenangan yang tumpang tindih diikuti "tarikan loyalitas" ke kekuatan politik 
di luar kabinet berpotensi membuat kabinet terjerat oleh jaringan kerja 
internal yang berkembang. Dalam kondisi seperti itu, restructuring merupakan 
jawabannya (Egeberg and Saetren, 2002: 96-98).

Mari disimak. Untuk menjelaskan kebijakan negara atau pandangan Presiden SBY, 
tersedia empat agency: Mensesneg, Menseskab, Meneg Kominfo, dan Juru Bicara. 
Keempat agency itu sering memberikan keterangan saling berbeda. Penjelasan 
siapa yang bisa dipercaya? Simak pula fungsi Mensesneg dan Menseskab yang amat 
kabur.

Seharusnya, yang mendampingi Presiden SBY ke mana-mana itu Mensesneg. 
Kenyataannya, Menseskab (dan para juru bicara) yang selalu berada di samping 
SBY. Demikian pula, adanya tim-tim untuk "tugas khusus" pada satu instansi, 
yang sejatinya itu tugas resmi instansi yang bersangkutan. Misalnya, Tipikor 
dengan ketuanya dari luar lingkungan Kejaksaan Agung. 

Selain menambah kusut jaring kerja internal kabinet, tim-tim semacam itu 
mengindikasikan bahwa Presiden SBY tidak percaya kepada pejabat resmi dari 
institusi bersangkutan. Bisa dibayangkan pola hubungan presiden dengan 
bawahannya bila para bawahan tersebut nggerundel (menggerutu?) dengan hadirnya 
pejabat informal sejajar dengan otoritas yang dimilikinya.

Sama halnya dengan kabinet-kabinet sebelumnya, struktur KIB menjadi sangat 
gendut dengan jaringan kerja dan otoritas yang kusut. Menurut logika regression 
development concept (Chilcote, 1981), pengembangan struktur dan fungsi memang 
diperlukan. Namun, bila terus dikembangkan, itu akan membuat organisasi 
terjerat kompleksitas hingga tidak efektif. Dengan demikian, bisa diduga, tekad 
Presiden SBY untuk membangun kinerja kabinet yang efektif dan memberantas KKN 
tidak akan berhasil.

KIB yang gendut dengan kinerja yang kusut membuat orang berpikir untuk 
mengambil jalan pintas dalam menyelesaikan masalah. Bila diperlukan waktu 
rata-rata 151 hari untuk mengurus perizinan di Indonesia, sementara di tingkat 
regional rata-rata hanya 50 hari (World Bank, 2005), bisa dipahami bila orang 
berpikir jalan pintas sekalipun dengan biaya tertentu selama masih ekonomis. 

Bukankah pikiran semacam itu yang menjadi sumber KKN? Logiskah SBY memberantas 
KKN dengan tim kerja yang gendut tersebut? 

Merenunglah Sejenak
Restructuring dibutuhkan untuk membuat KIB lebih ramping hingga lebih lincah 
bergerak mengantisipasi dinamika di masyarakat. Hapus tim-tim yang bidang 
tugasnya merupakan bidang tugas satu kementerian. Bila dalihnya pejabat di 
institusi resmi tidak mampu, ganti pejabat itu. 

Demikian pula, hapus kementerian yang tidak ada kaitannya dengan upaya 
menentukan agenda reformasi 1998. Misalnya, kalau urusan peranan perempuan bisa 
diintegrasikan ke Men PAN atau Bappenas, atau urusan olahraga lebih efektif 
diintegrasikan ke Diknas atau KONI, mengapa dibuat kementerian sendiri?

Presiden SBY harus sadar, konsekuensi dipilih langsung dalam sistem 
pemerintahan presidensial adalah dia memiliki kewenangan penuh untuk menyusun 
struktur dan menunjuk para pembantunya (Hague, Harrop, Breslin, 1998:22-23). 

Artinya, presiden bisa mengesampingkan pertimbangan politis, lebih bisa 
memutuskan secara rasional tujuan yang hendak dicapai serta orang-orang yang 
paling mampu mengusahakan pencapaiannya.

Kenyataannya, Presiden SBY ragu dengan legitimasi yang dimiliki, bimbang dengan 
minimnya dukungan partainya di parlemen. Faktor itu yang paling utama membuat 
Presiden SBY bersikap superakomodatif.

Hasilnya, kinerja KIB tambah semrawut. Kebijakan bersifat tambal-sulam, program 
lipstick yang bernuansa mercusuar dicanangkan, dan -repotnya- Presiden SBY 
melanggar sendiri perintah yang dikeluarkannya.

Penghematan bepergian ke luar negeri lewat Inpres No 11/2005 tertanggal 9 
September 2005, dua hari kemudian diabaikan begitu saja saat berkunjung sepekan 
ke USA dengan rombongan besar.

Tampaknya, Presiden SBY harus pula melakukan reorientasi terhadap arah 
pencapaian yang bisa diusahakan bersama KIB. Ada baiknya, Presiden SBY keluar 
dulu dari gebyar gemerlap celebrities leadership (kepemimpinan selebritis) yang 
ditampilkan untuk merenung dengan dalam dan serius, apa maksud rakyat 
memberikan kepercayaan kepadanya? 

Kalau itu mau dan dapat dilakukan, Insya Allah akan diketahui siapa yang 
pethakilan di balik punggungnya, siapa yang ikhlas, dan siapa yang hanya 
mencari keuntungan serta popularitas melalui kekuasaan yang digenggamnya.

Orang-orang semacam itu yang akan segera meninggalkan SBY begitu tidak berkuasa 
lagi. 

* Riswandha Imawan, guru besar Fisipol UGM Jogjakarta

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/FXrMlA/dnQLAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke