http://www.analisadaily.com/news/read/2012/08/25/69967/ahok_dan_refleksi_kemerdekaan/#.UDtMPaPLWSM

Sabtu, 25 Agt 2012 00:03 WIB

Ahok dan Refleksi Kemerdekaan
Oleh : Estomihi Hutagalung. 
Salah satu pergulatan politik kemanusiaan pasca kemerdekaan selalu berkaitan 
dengan penataan hidup bagi dan oleh setiap anak bangsa dalam merefleksi 
kemerdekaan. Setidaknya, warisan pergulatan mengenai Piagam Jakarta menjadi 
fakta empiris argumentasinya. Salah satu sebabnya, bahwa kemerdekaan dipahami 
sebagai spirit dan jaminan bagi seseorang atau kelompok untuk bertindak bebas 
atas nama keyakinannya dalam memaknai kebebasan itu sendiri.
Maka salah satu tugas mendesak yang dimaknai sebagai perintah kemerdekaan yaitu 
pentingnya mengaktualisasi diri sebagai mahluk religius yang digerakkan 
kekuatan akal budi sebagai pribadi rasional demi perwujudan esensi kemanusiaan 
dalam konteks sosialnya yang dibingkai tradisi maupun budaya sebagai perspektif 
politik maupun ideologi. Kesadaran sejarah peradaban yang bersifat universal 
demikian sangat kental dan selalu menjadi tanda pemaknaan kemerdekaan 
sebagaimana misalnya, diwariskan revolusi Prancis sebagai buah Aufklarung dan 
menjadi inspirasi peradaban sampai masa kini.

Imperatif kesadaran demikian telah mendorong Karl Popper untuk memprovokasi 
pikiran sektarian dogmatis melalui tesisnya tentang kesadaran sejarah manusia. 
Baginya, kesadaran sejarah adalah pergulatan dialektis setiap saat antara 
tindakan manusia oleh dorongan kematangan berpikir (rasionalis) sehingga mampu 
bertindak guna mewujudkan panggilan kemanusiaan.

Maka salah satu variabel utamanya harus didasarkan pada jiwa merdeka sebagai 
pribadi rasional dan mempunyai potensi diri sebagai ciptaan Tuhan. Itulah 
esensi religisoitas. Dan itu berarti, agama, norma atau etika menjadi variabel 
pendukung atas gagasan religiositas menjadi manusia merdeka sebagaimana 
direfleksikan oleh Ahok ketika pernah mengabdikan dirinya sebagai anggota DPRD 
dan pernah sebagai pemimpin yang melayani rakyat Bangka Belitung maupun sebagai 
calon Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Ahok: Pribadi Merdeka

Ahok alias Ir. Basuki Tjahaya Purnama yang berpasangan dengan Jokowi sebagai 
calon Gubernur DKI Jakarta, adalah representasi multi identitas. Dalam konteks 
pentingnya perubahan sebagai bagian makna kemerdekaan, Ahok telah berhasil 
dalam memimpin dan melayani rakyat Kabupaten Bangka Belitung. Tetapi dalam 
konteks sebagai calon Wakil Gubernur DKI Jakarta yang ditandai dengan segala 
perspektifnya, maka setidaknya ada dua catatan yang muncul sebagai akibat dari 
cara berada Ahok:

Pertama: dalam terminologi politik berbingkai dogmatis eksklusifisme, Ahok 
diberi stigma minoritas ganda: Kristen dan Tionghoa. Dalam pergulatan sejarah 
kebangsaan Indonesia merdeka, identitas minoritas ganda selalu dipersonifikasi 
sebagai "sesuatu yang lain; suatu tangan yang terlihat jelas" dan dianggap 
berpotensi merongrong. Sehingga dalam konteks tertentu, realitas hidup kaum 
minoritas dapat dilihat sebagai pihak "terjajah oleh bangsanya sendiri". 

Suatu relasi sosial yang menggambarkan cara hidup tidak "merdeka" dan selalu 
menjadi alat politik yang mungkin lahir sebagai akibat terlalu lama dijajah 
serta suatu cara memaknai politik dalam realitas bangsa yang baru merdeka dan 
disuburkan oleh keyakinan bahwa Orde Baru menganaktirikan kaum tertentu. 

Akibatnya relasi sosial politik bangsa ini selalu didasarkan pada kepentingan 
mayoritas dan minoritas. Jika diberi peluang kepada kaum minoritas, maka 
determinisme Nietzche akan terwujud dalam bentuk, tertindasnya umat lain; 
itulah ketakutan kulturalnya. Maka salah satu alat politik yang paling ampuh 
untuk menangkalnya adalah agama yang dibumbui dengan doktrin sektarianisme. 
Jika demikian halnya, apakah Ahok tidak sadar akan warisan sejarah demikian 
sehingga mencalonkan diri sebagai wakil Gubernur DKI?

Kedua: dalam bingkai kesadaran religiositas, maka Ahok berada dalam identitas 
manusia merdeka. Dia adalah pribadi yang menjungkirbalikkan standar hidup pada 
atmosfir tirani mayoritas. Imperatif religiositas tersebut telah menempatkan 
Ahok untuk melihat Jakarta dari sudut pandang merdeka demi menata kebebasan 
umat sebagai tahapan dalam pencapaian nilai kemanusiaan universal yang 
melampaui doktrin eksklusifisme. Implikasi etis kesadaran tersebut akan 
mendorong setiap orang secara otonom untuk mentransformasi setiap tindakan demi 
perubahan sebagai elemen pendukung pencapaian cita-cita kehidupan.

Dengan demikian, Ahok telah berada dalam "Identifikasi Imajiner sebagaimana 
digagas Lacan sehingga mampu memerdekakan dirinya dari pergulatan warisan 
sejarah politik dengan bingkai mayoritas minoritas. Sikap merdeka ala Ahok 
demikian dapat dilihat sebagai suatu refleksi kemerdekaan atas pidato Presiden 
Soekarno pada sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia 
(BPUPKI), di Jakarta, 1 Juni 1945 bahwa "Di dalam Indonesia merdeka itulah, 
kita memerdekakan rakyat kita. Di dalam Indonesia merdeka itulah, kita 
memerdekakan hatinya bangsa kita."

Negara dan Legitimasi Bertindak Merdeka

Implikasi imperatif makna kemerdekaan Indonesia, akan menempatkan peran penting 
dari negara. Proposisi John Locke, yang mendobrak kekuasaan negara yang tiran 
sebagaimana direkomendasi Thomas Hobbes, maka negara harus didesak untuk 
melaksanakan tugas konstitusionalnya dalam menjamin kemerdekaan yang maksimal 
dari setiap warga negara. 

Maka salah satu tugas penting yang harus dikerjakan post kemerdekaan yaitu 
kemauan etis atas spirit religiositas setiap anak bangsa untuk merealisasikan 
kemerdekaan dalam bentuk dibebaskannya setiap pribadi dari kungkungan sikap 
politik primordialisme atas jaminan konstitusi Pancasila dan UUD 1945. 

Negara mempunyai tugas konstitusi untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan 
seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasarkan persatuan untuk mewujudkan 
keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Implikasi praktis cita-cita konstitusi 
demikian, menempatkan negara pada tugas dan daulat penyelenggaraan sosial bukan 
atas kehendak perseorangan atau golongan. Negara tidak boleh membiarkan satu 
golongan melakukan tindak kekerasan atas nama klaim mayoritas maupun paham 
keagamaan. Itulah makna ke-Indonesia-an sebagai buah dari konsensus final 
kebangsaan yang menjamin kemajemukan keragaman.

Dengan demikian, negara adalah legitimasi demi berkembangnya sikap, tindakan 
setiap warga negara dengan memuliakan daya rasionalitas dan deliberatif dalam 
pluralitas kemajemukan penduduk. Negara menjadi media fundamental untuk 
mendorong dan menjadi varibel penentu dalam penghayatan ke-Indonesia-an demi 
pencapaian nilai kemanusiaan sebagaimana dicita-citakan Pancasila dan UUD 1945.

Eskatologi Kemerdekaan

Sebagai sesuatu yang tidak pernah final maka pemaknaan terhadap kemerdekaan 
tidak berhenti pada kebebasan subjektif; keinginan kelompok tertentu. Itulah 
sebabnya kemerdekaan selalu mendorong setiap orang untuk menyegarkan darah 
perjuangan dan menggelorakan semangat kepahlawanan dengan membaca dan 
menghayati sejarah hidup manusia dalam pergulatan kemerdekaan sebagaimana 
diperjuangkan oleh para pejuang kita. 

Dengan demikian keteguhan hati Ahok dalam konteks Pilkada Jakarta, adalah 
sebuah refleksi kemerdekaan dan menjadi perwujudan esensi demokrasi atas 
jaminan Pancasila dan UUD 1945. Dan itu berarti, Ahok telah menang menaklukkan 
jiwa eksklusifisme yang dapat menggerus makna kemanusiaan atas nama agama 
maupun persoalan politik etnis warisan politik bangsa.

Atau setidaknya, Ahok telah menitipkan mimpi yang diwarisinya sebagai pemaknaan 
atas keyakinan Martin Luther King Jr bahwa kelak masyarakat Jakarta akan 
merefleksikan kemerdekaannya dalam bentuk relasi sosial politiknya dan memilih 
pemimpinnya berdasarkan konfigurasi keyakinan akal budi atas spirit 
religiositas setiap penduduk demi perwujudan manusia universal. Sehingga 
kesadaran kultural demikian akan mentransformasi masyarakat Jakarta (Indonesia) 
dengan memaksimalkan segala implikasi positifnya. Itulah jiwa merdeka 
eskatologis yang diwariskan oleh Ahok dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. 
Merdeka!!! ***

Penulis; rohaniwan tinggal di Medan

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke