http://megapolitan.kompas.com/read/2012/08/27/15072993/Ketika.Desa.Tak.Memberikan.Pilihan.

Kembali ke Index Topik Pilihan

PENDATANG SETELAH LEBARAN

Ketika Desa Tak Memberikan Pilihan...
Senin, 27 Agustus 2012 | 15:07 WIB 
Share:
 
Tiba di Terminal Kalideres, Jakarta 
KOMPAS.com — Desa Caringin, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, 
seperti tak memberikan pilihan bagi warganya, seperti Susi (15) dan Roniah 
(16), melanjutkan sekolah apalagi bekerja di desa.

Di tengah belitan kemiskinan dan minimnya infrastruktur jalan di desa, tak 
mungkin bagi mereka untuk terus-menerus bertahan. Mereka pun terpaksa menjadi 
pendatang di Jakarta meski hanya menjadi pekerja rumah tangga (PRT).

Sebagai anak petani dan buruh pabrik batako, Susi dan Roniah berharap bisa 
mengubah nasib dan menjadi penopang ekonomi keluarga. Roniah, yang baru dua 
bulan merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai PRT, pun mengajak Susi bekerja 
seperti dirinya.

Saat ditemui Kompas, Sabtu (25/8/2012) pagi, di pinggir trotoar dekat salah 
satu posko mudik di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Susi dan Roniah 
beserta rekannya baru saja turun dari bus. Mereka tengah menunggu majikannya 
yang akan menjemput bekerja.

Susi yang baru pertama kali datang ke Jakarta lebih banyak diam. Hanya Roniah 
yang lebih enteng bercerita mengenai desanya yang miskin, yang menyebabkan 
mereka harus meninggalkannya.

Menurut Roniah, lokasi rumah mereka yang terpencil di kaki Gunung Salak, 
Sukabumi, tak memungkinkan mereka harus melanjutkan ke sekolah menengah atas 
(SMA) di kota setelah menyelesaikan SMP.

”Selama ini, kalau ke sekolah, kami harus jalan kaki sekitar empat hingga lima 
kilometer dengan waktu tempuh satu hingga satu setengah jam. Sebab, kami tidak 
punya sepeda motor,” kata Roniah.

Ingin bekerja di desa pun sama sulitnya. Memang ada pabrik pembuatan batako, 
tetapi jaraknya cukup jauh. Upahnya pun kecil sekali dibandingkan bekerja 
sebagai PRT. Roniah mencontohkan ayahnya yang gajinya pas-pasan sebagai buruh.

Mereka khawatir kalau bekerja di desa, gajinya habis untuk transportasi. 
Berbeda dengan penghasilannya jika ia bekerja sebagai PRT, yang dirasakannya 
dua bulan ini.

Meskipun belum tahu berapa gaji yang akan diterimanya, Susi berharap cukup 
tinggi agar ada uang yang bisa ditabung untuk dikirim. Dengan berpatokan pada 
gaji Roniah, yang sebulan memperoleh Rp 500.000 ditambah Rp 100.000 sebagai 
uang jajan, Susi berharap ada sebagian tabungannya yang bisa dikirim kepada 
keluarganya di kampung untuk membantu orangtuanya membiayai pendidikan adiknya.

Menurut Susi, remaja seusianya di kampungnya memang hanya tamat SMP. Mereka 
lalu merantau ke kota-kota besar. ”Saya pernah ditawari kerja oleh seorang 
teman, tetapi tidak diizinkan orangtua karena tidak terlalu kenal. Kalau Roniah 
sudah dikenal baik orangtua saya sehingga diizinkan,” kata Susi.

Meski demikian, mereka tetap iri melihat remaja pada usianya

bisa bermain dan melanjutkan sekolah. Namun, apa daya, harapan tinggal harapan 
bagi Susi dan Roniah.

Bekerja apa saja

Satibi (37), yang baru datang dari Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa 
Barat, juga ingin bekerja apa saja jika ada pekerjaan. Saat ditemui di Terminal 
Kampung Rambutan, Jakarta Timur, ia terlihat bingung menanti rekannya yang tak 
kunjung datang, Jumat (24/8).

Sambil celingak-celinguk, Satibi sibuk menelepon. ”Kamana wae, teu 
diangkat-angkat. Urang di dekeut panto asup. Burua jemput (Ke mana saja? Tidak 
diangkat-angkat. Saya dekat pintu masuk. Cepat jemput),” kata Satibi.

Setengah jam setelah menelepon, temannya benar-benar tak datang, Satibi 
akhirnya menyusulnya. ”Mau ke Duren Sawit,” ujarnya.

Selama ini, pekerjaannya sebagai pemetik teh di kampung membuat keluarganya 
sulit ”bernapas”. Sebulan, ia hanya mampu membawa pulang sekitar Rp 500.000. 
Dengan dua anak, uang itu habis untuk keperluan sehari-hari tanpa bisa menabung.

”Kata teman ada lowongan. Kalau upahnya cocok saya mau kerja apa saja,” 
tambahnya.

Bukan hanya Jakarta, kota-kota besar lainnya juga menjadi sasaran pendatang. 
Salah satunya Samsudin (30), warga Cirebon, Jawa Barat, yang akan mengadu nasib 
ke Medan, Sumatera Utara.

Empat hari setelah Lebaran, ia bersama dua rekannya langsung meninggalkan 
kampung halaman. ”Mau bekerja di pencucian mobil di Medan,” kata Samsudin di 
Terminal Pulogadung, Jakarta Timur.

Kesejahteraan diperbaiki

Susi, Roniah, Satibi, dan Samsuddin hanya empat dari 50.000 pendatang baru, 
yang diperkirakan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, bakal tiba 
pasca-Lebaran.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta Purba Hutapea mengaku 
tak bisa melarang kedatangan siapa pun ke Jakarta. Namun, bila tanpa identitas 
jelas, mereka akan jadi masalah.

Untuk sementara, operasi yustisi belum akan dilakukan. Namun, menurut dia, arus 
pendatang tak bisa dihentikan jika pemerataan kesejahteraan daerah tidak 
diperbaiki. Artinya, kehidupan desa diperbaiki.

”Selama daerah urban tak dijamin kesejahteraannya, kemungkinan besar urbanisasi 
penduduk tanpa keahlian akan terus terjadi dan semakin besar,” ujarnya.

Memang, saat desa belum mampu memberikan pilihan bagi warganya berusaha 
mengejar kesejahteraan ekonominya, jangan harap warga tak menyerbu Jakarta. 
(EKI/ENG/CHE/ADH)


Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Hindra

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke