Tawang,

Dari pada dikusi banyak dengan nyonya Mus, kamu kawin saja dengan nyonya Mus, 
tambah istri satu tak apa, karena kalau tubuh senang, jiwa pun sentosa.

Wassalam,

From: Tawangalun 
Sent: Sunday, September 02, 2012 3:20 PM
To: [email protected] 
Subject: [proletar] Re: Belum Pernah Ada Gereja Dijual Jadi Mesjid ?!

  
Halah Mus gak usah nutup2-i memang bagi Genduk Mus pasti hatinya akan
ndongkol kok bisa dinegara Kristen malah gereja dijual krn sepi
pengunjung ,malah yg beli wong Islam.Di UK tak kurang dari 60 gereja yg
bangkrut karena kalau sepi jamaat maka persepuluhannya juga turun.
Ini saya dapat bahan,sayang di Proletar gak bisa muncul gambarnya.
Tawangalun.
Gereja-Gereja Yang Menjelma Menjadi Masjid
Posted by KabarNet <http://kabarnet.wordpress.com/> pada 03/01/2010

Gereja Katolik Roma, yang pada tahun 1998 memiliki 1.217.800 orang, akan
tetapi pada tahun 2005 jumlahnya turun menjadi 875.600 orang.

[226]
www.hidayatullah.com
Banyaknya jumlah gereja yang terjual dan kosong di Inggris, disebabkan
banyaknya warga Inggris yang enggan melakukan peribadatan. Untuk tahun
2007 saja, tercatat hanya 10 persen penduduk negara itu yang berangkat
ke gereja tiap pekannya. Sedangkan 15 persen pergi ke gereja tiap
bulannya. Adapun penduduk yang beribadah setahun sekali di gereja
mencapai 26 persen. Dan mereka yang tidak pernah ke gereja sama sekali
sudah mencapai 59 persen, sebagaimana hasil riset Tearfund (3/4/2007).

Penurunan anggota jumlah jama'ah beberapa komunitas Kristen, semakin
lama-semakin meningkat tajam. Gereja Katolik Roma, yang pada tahun 1998
memiliki 1.217.800 orang, akan tetapi pada tahun 2005 jumlahnya turun
menjadi 875.600 orang, artinya komunitas ini telah kehilangan 49 persen
pengikutnya. Hal yang sama dialami komunitas Metodis, yang pada tahun
yang sama telah kehilangan 44 persen pengikut. Dan yang paling parah
adalah kondisi Serikat Gereja Reformasi, yang telah kehilangan 53 persen
anggotanya, sejak tahun 2005, sesuai data hasil sensus gereja Inggris
pada tahun 2005, yang dilansir National Secular Society (14/9/2007).

Antara tahun 1990 hingga 2001, seluruh gereja Inggris kehilangan 18
persen jama'ah pekanan, 17 persen rohaniawan, dan 1 persen dari
bangunan yang mereka miliki. Dampaknya, sumbangan yang masuk ke
"kantong" gereja berkurang hingga 3,5 milyar pound sterling,
sebagaimana dilansir The Economist (8/4/2003).

Jual Gereja
Yang menyedihkan, bukan hanya sepi pengunjung saja, beberapa gereja juga
ikut terjual. Di penghujung tahun 2007, boleh dikata sebagai tahun
"menyedihkan" bagi para penganut Katolik yang bermukim di
Bufallo, New York. Pasalnya, mereka tak bisa melakukan ibadah lagi di
Queen of Peace, sebuah gereja besar nan ekstotik yang berdiri di jalan
Genesee 1955. Hal itu disebabkan karena gereja yang telah dibangun tahun
1920 itu segera ditutup di akhir 2007, karena akan dijual!

[300] Sebelumnya, hiasan-hiasan gereja sudah terlebih dahulu dijual ke
sebuah gereja paroki Katolik di Colorado. Sedangkan sebagian besar
bangku-bangku telah dibersihkan dan simbol-simbol Kristen telah dihapus.

Sebegaimana dilansir oleh The Bufallo News (18/4/2009) Penjualan gereja
yang dirancang oleh arsitek ternama George Dietel itu digunakan untuk
melunasi hutang gereja-gereja lainnya, serta hutang keuskupan atas
pemeliharaan dan perbaikan-perbaikan segala properti yang dimilikinya.

Sebenarnya ada 4 pihak yang melakukan penawaran, akan tetapi transaksi
akhirnya jatuh ke tangan Yayasan Darul Hikmah dengan harga 300 ribu
dolar, atau senilai 2,8 milyar rupiah. Rencananya area gedung dengan
luas tanah 15.875 kaki persegi dan sekolah dengan luas tanah 13.338 kaki
persegi itu akan digunakan sebagai masjid dan pusat kegiatan para pemuda
Muslim, yang bakal menyemarakkan aktivitas umat Islam New York, yang
sebelumnya telah memiliki 9 masjid.

Gereja yang telah terjual sebenarnya bukan hanya Queen of Peace saja. Ia
merupakan gereja Katolik kedelapan yang sudah terjual di Bufallo,
semenjak tahun 2006. Dan Keuskupan masih juga berusaha untuk menjual 30
properti lainnya, 7 diantaranya gedung yang berada di kota itu.

Beberapa gereja Amerika lainnya, ada juga yang memiliki nasib serupa
dengan Queen of Peace. Yakni, sengaja dijual, untuk menutupi kekurangan
dana yang melanda komunitas gereja. Adalah gereja St. Matthew, sebuah
gereja yang berlokasi di Indian Orchard juga dijual. Sebelumnya, gereja
yang telah berusia 140 tahun lebih itu telah dipromosikan selama lebih
dari satu tahun.

Gereja yang dibangun sejak tahun 1864 itu dibeli oleh Komunitas Islam
Turki-Amerika, dengan harga 150 ribu dolar, atau sekitar 1,4 milyar
rupiah. Dan pada bulan Oktober 2006, kepemilikan bangunan itu sudah
resmi berpindah ke komunitas tersebut.

Pada awalnya, gereja tua itu dijadikan tempat ibadah para imigran
Irlandia yang sebagian besar bekerja di pabrik-pabrik Indian Orchard dan
Ludlow. Kegiatan di gereja itu sempat aktif selama beberapa tahun,
kemudian didirikanlah Paroki St Matthew pada tahun 1879.

Komunitas Islam Turki-Amerika menginginkan bangunan tua itu, karena
keanggotaan komunitas ini sudah mencapai 80 keluarga, sehingga mereka
memerlukan tempat ibadah sendiri. Dan kemungkinan, tidak hanya anggota
Komunitas Islam Turki-Amerika yang bakal meramaikan kegiatan ibadah di
tempat itu, tapi komunitas Meshkitian Turki juga ikut bergabung. Mereka
merupakan pengungsi dari bekas Republik Soviet Georgia. Mereka mulai
menetap di wilayah itu setahun yang lalu. Demikian lansiran dari
Catholic News (12/7/2006).

Nasib gereja Utica, juga nyaris sama dengan dua gereja di atas.
Sebagaimana diberitakan oleh uticaod.com (28/3/2008), bangunan yang
beralamat di 306 Court Street, yang lengkap dengan menara itu telah
dinego, oleh Bosnia Islamic Assocation of Utica (Komunitas Islam Bosnia
Utica) sejak Maret 2008 lalu. Mereka telah menemui Walikota David
Roefaro, guna membahas kemungkinan penjualan bangunan bekas gereja yang
dulu dimiliki oleh United Methodist Church (Persatuan Gereja Metodis)
itu.

Penawaran itu disambut posistif oleh walikota, karena sejak bangunan itu
beralih tangan ke pemerintah kota, tidak ada satu pihak pun yang
berminat untuk membelinya. Bahkan pada tahun 2006 tagihan air sebanyak
208 dolar pun belum dibayar. Sedangkan untuk menghancurkannya, juga
memerlukan biaya tidak sedikit, yakni membutuhkan biaya kurang lebih
satu juta dolar.

Jika penjualan itu disetujui oleh Dewan Umum, maka di Utica akan hadir
satu-satunya masjid bermenara, yang mampu menampung 600 jama'ah.
Padahal di akhir tahun 2008 Bosnia Islamic Assocation of Utica yang
mayoritas anggotanya adalah pengungsi itu telah membangun masjid di
kawasan Albany Street dan Maria Street. Setelah sebelumnya mereka
beribadah di masjid yang didirikan oleh Muslim Community Association
(Perkumpulan Komunitas Muslim) di Kemble Street.
_____________________________
Masjid-Masjid Yang Dulunya Gereja
Di saat umat Kristen Inggris "lari" dari gereja, umat Islam
ambil alih tempat mereka untuk dijadikan masjid. Di Peace Street 20
Bolton, berdiri sebuah gedung besar berkubah yang amat berwibawa, yang
lengkap dengan menara. Tempat itu ramai dikunjungi warga Bolton,
terutama yang memeluk Islam, bahkan tiap pekannya, ribuan umat Islam
hadir di tempat ini, guna melaksanakan shalat Jumat. Gedung itu tidak
lain adalah Masjid Zakariyya.

Sejarah berdirinya masjid itu, bukanlah kisah yang singkat. Kala itu
antara tahun 1965 hingga 1967 umat Islam Bolton dan Balckburn belum
memiliki tempat permanen untuk melaksanakan shalat. Untuk melakukan
shalat Jumat saja, mereka melaksanakannya di The Aspinal, sebuah
diskotik dan tempat dansa yang digunakan di malam hari, sedang siangnya
di hari Jumat tempat itu dibersihkan para relawan guna dijadikan sebagai
tempat melaksanakan shalat Jumat.

Karena jumlah jama'ah semakin bertambah, maka diperlukan tempat
besar yang permanen. Dan dimulailah pencarian bangunan yang bisa
digunakan sebagai masjid sekaligus islamic center. Pada tahun 1967, ada
penawaran pembelian gedung bekas gereja komunitas Metodis, yang terpaksa
dijual karena terbakar. Dengan dana sebesar 2750 pound sterling dari
komunitas Muslim lokal, akhirnya bangunan itu menjadi milik umat Islam.
Bangunan itulah yang kini disebut Masjid Zakariyya itu.

Tidak hanya Masjid Zakariyya, beberapa masjid Inggris pun memiliki kisah
yang hampir sama dengan kisah masjid kebanggan Muslim Bolton itu, yakni
sama-sama berasal dari gereja yang dijual, baik karena kehilangan
pengikut, atau karena sebab lainnya. Berikut ini masjid-masjid yang
dulunya merupakan gereja:

Masjid Jami' London

[350] Tempat ibadah ini juga dikenal dengan sebutan masjid Brick Lane,
karena posisinya di Brick Lane 52. Bangunan berdinding bata merah itu,
merupakan masjid terbesar di London, yang mampu menampung 4000
jama'ah. Walau demikian luas, masjid ini belum bisa menampung
seluruh anggota jama'ah shalat Jumat, hingga sering kali jama'ah
meluber ke jalan raya. Mayoritas anggota jama'ah merupakan keturunan
Banglades, hingga wilayah tersebut disebut Banglatow.

Masjid ini memiliki sejarah yang sangat unik dan panjang. Awalnya,
bangunan yang didirikan sejak tahun 1743 ini adalah gereja Protestan.
Dibangun oleh komunitas Huguenot, atau para pemeluk Protestan yang lari
dari Prancis untuk menghindari kekejaman penganut Katolik. Akan tetapi,
karena jama'ahnya menurun, maka gereja ini dijual.

Di tahun 1809, bangunan ini digunakan masyarakat London untuk
mempromosikan Kristen kepada para pemeluk Yahudi, dengan cara
mengajarkan Kristen dengan akar ajaran Yahudi. Tapi, program ini juga
gagal. Dan bangunan diambil oleh komunitas Metodis pada tahun 1819.

Komunitas Metodis cukup lama "memegang" gereja ini. Walau
demikian, pada tahun 1897, tempat ini diambil oleh komunitas Ortodok
Independen dan berbagi dengan Federasi Sinagog yang menempati lantai
dua.

Tapi tahun 1960-an komunitas Yahudi menyusut, karena mereka pindah ke
wilayah utara London, seperti Golders Green dan Hendon, sehingga
bangunan ditutup sementara, dan hal itu berlanjut hingga tahun 1976.
Setelah itu gedung itu dibuka kembali, dengan nama barunya, Masjid
Jami' London.

Masjid Didsbury

[300] Masjid ini terletak di Burton Road, Didsbury Barat, Manchester.
Gedung yang digunakan sebelumnya merupakan bekas gereja komunitas
Metodis, yang bernama Albert Park. Gedung ini tergolong bangunan kuno,
karena telah beroprasi sejak tahun 1883. Akan tetapi, pada tahun 1962
gereja ditutup, dan beralih menjadi masjid dan islamic center. Masjid
ini, kini mampu menampung 100 jama'ah, dan yang bertanggung jawab
sebagai imam dan khatib hingga kini adalah Syeikh Salim As Syaikhi.

Masjid Brent

[361] Terletak di Chichele Road, London NW2, dengan kapasitas 450
orang, dan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Sadeez. Awalnya, bangunan itu
merupakan gereja. Hingga kini ciri bentuknya tidak banyak berubah. Hanya
ditambah kubah kecil berwarna hijau di beberapa bagian bangunan dan
puncak menara.

Masjid New Peckham

[210] Didirikan oleh Syeikh Nadzim Al Kibrisi. Terletak di dekat
Burgess Park, tepatnya di London Selatan SE5. Kini masjid ini berada di
bawah pengawasan Imam Muharrim Atlig dan Imam Hasan Bashri. Sebelumnya,
gedung masjid ini merupakan bekas gereja St Marks Cathedral.

Masjid Sentral Wembley

[300] Masjid ini terletak di jantung kota Wembley, dekat dengan Wembley
Park Station. Daerah ini memiliki komunitas Muslim besar dan banyak toko
Muslim yang berada di sekitarnya. Gedung masjid ini sebelumnya juga
merupakan bekas gereja. Walau sudah terpasang kubah di puncak menaranya,
tapi kekhasan bangunan gereja masih nampak jelas. Dengan demikian,siapa
saja yang melihatnya, akan mengetahui bahwa bangunan itu dulunya adalah
gereja.

Selian masjid-masjid di atas, sebuah gereja bersejarah di Southend juga
sudah dibeli oleh Masjid Jami' Essex dengan harga 850 ribu pound
sterling. Gereja dijual, karena jama'ah berkurang, sehingga kegiatan
peribadatan dipusatkan di Bournemouth Park Road. Konseskwensinya, gereja
ini sudah tidak beroprasi sejak tahun 2006 lalu. Rancananya gereja akan
dijadikan apartemen, tapi gagasan itu ditolak oleh Dewan Southend.
Akhirnya, gereja kosong itu dibeli oleh komunitas Muslim yang tinggal di
kota itu, yang juga sedang membutuhkan tempat untuk melaksanakan ibadah.

Saat itu jumlah komunitas ini mencapai 250 orang, "gereja bekas"
itu merupakan tempat yang sesuai, karena mampu menampung 300
jama'ah. Tidak banyak dilakukan perubahan pada bentuk bangunan yang
telah berumur 100 tahun lebih itu, hanya perlu menambah tempat untuk
berwudhu dan sebuah menara. (Hidayatullah.com)

--- In mailto:proletar%40yahoogroups.com, Muskitawati <muskitawati@...> wrote:
>
> Propaganda umat Islam yang melepaskan berbagai kebohongan dan
penghinaan2 kepada agama2 lainnya tidaklah menjadi kan Islam menjadi
lebih populer, menjadi lebih banyak yang masuk Islam, semua itu bohong,
bahkan lebih bohong lagi adanya gereja2 yang dijual karena pengikutnya
pindah masuk Islam sehingga umat satu gereja karena sudah jadi Islam
maka gerejanya pun dijadikan mesjid.
>
> Enggak ada kejadian seperti begitu, bahkan kenyataan yang harus
disesalkan justru sebaliknya, Islam di Amerika makin tidak populer,
penganutnya banyak yang dideportasi karena menyalah gunakan izin tinggal
dengan bekerja dan menyalah gunakan welfare yang harusnya hanya untuk
warganegara saja.
>
> Umat Kristen makin fanatik, makin banyak dan makin nekad untuk
memerangi Islam dan hal inilah yang sekarang menjadi kesibukan
pemerintah, umat Islam di-mana2 terancam dan pemerintah Amerika meminta
agar umat Islam jangan menonjolkan, mempertontonkan dan
mempropaganadakan agamanya demi keselamatan jiwa mereka. Penembakan2
kaum fanatik makin banyak di-mana2. Mesjid pun ada yang dibakar,
meskipun pelakunya ditangkap tapi banyak yang berhasil lolos. Berbeda
dengan pembakar gereja di Indonesia dilindungi MUI, Dep.Agama Islam dan
oleh pemerintah tidak pernah satupun yang ditangkap.
>
> Jadi kalo gereja makin sepi tidak bisa disangkal karena para penganut
Kristen sekarang selain makin fanatik tapi juga makin banyak jumlahnya,
hal ini bisa terlihat dari pendukung2 konservativ di Amerika yang makin
membludak jumlahnya. Kaum Kristen di Amerika sekarang sudah bukan lagi
berdakwah di gereja2 melainkan di TV Cable dimana jangkauannya jauh
lebih luas dan lebih banyak umatnya daripada di gereja. Jadi gereja2
makin kosong bukan karena ditinggalkan pengikut2nya melainkan karena
tempat mereka beribadah sudah bukan lagi terbatas digereja melainkan di
TV Cable, di Internet, juga melalui video atau DVD yang dikirimkan
setiap minggunya. Akibatnya penghimpunan dana umat Kristen menjadi
berlipat ganda triplet atau quadrupet.
>
> Sebagian gereja2 yang tidak terpakai tidak dijual karena tidak mungkin
gereja2 tsb bisa dengan mudah diubah fungsinya jadi rumah tinggal. 
Membangun Gereja tidak mudah izinnya, oleh karena itu fungsi gereja
tetap berlangsung, hanya intensitasnya saja berkurang. Aga beberapa
gereja2 mewah seperti Gereja Crystal yang merupakan gereja paling
terkenal didunia, sekarang gereja ini dioperkan kepada Gereja katolik
karena biaya maintenancenya sangat mahal.
>
> Tapi tidak salah kalo ada gereja2 yang disewakan oleh umat Islam
khusus hari jum'at saja, karena membangun mesjid pun sama susah izinnya
dengan membangun gereja. System zonal untuk bangunan gereja, mesjid,
pertokoan dan rumah tinggal tidak bisa sembarangan semua ada UU-nya yang
sangat komplikated, oleh karena itulah umat Islam yang tidak banyak
jumlah umatnya di Amerika ini cenderung menyewa tempat beribadahknya
katimbang membelinya.
>
> Di Amerika, kehidupan dan kegiatan beragama bukan seperti di Indonesia
yang dibiayai oleh pemerintah, ada menteri agama yang digaji pemerintah,
justru sebaliknya, uang pajak rakyat tidak bisa dialokasikan untuk
kehidupan beragama karena agama merupakan urusan pribadi masing2 yang
tidak boleh didanai oleh pemerintah. Semua agama di Amerika dibiayai
oleh masing2 umatnya saja tidak seperti di Indonesia.
>
> Tapi bukan cuma umat Islam saja yang menyewa gereja untuk dijadikan
mesjid dihari Jum'at, tapi juga banyak sekte2 Kristen yang berbeda
menyewa ruangan2 pertemuan di hotel2 mewah untuk dijadikan gereja pada
saat itu. Gereja seperti inipun sering ber-pindah2, komunikasi mereka
biasanya lewat tv cable maupun telepon ataupun email maupun melalui
chatting di internet.
>
> Ny. Muslim binti Muskitawati.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke