Ref: Bagaimana bisa dicapai target MDGs, kalau penguasa negara terdiri dari bandit koruptor?
http://www.mediaindonesia.com/read/2012/09/04/345438/293/14/Sistem-untuk-Capai-Target-MDGs-tidak-Jalan Sistem untuk Capai Target MDGs tidak Jalan Penulis : Cornelius Eko Susanto Selasa, 04 September 2012 00:20 WIB JAKARTA--MICOM: Sistem yang diterapkan untuk mencapai pemenuhan target pembangunan millennium (MDGs) tidak berjalan di lapangan. Macetnya sistem berimbas pada belum tercapainya target penurunan angka kematian ibu, penurunan penularan HIV/AIDS dan akses air bersih. Tidak berjalannya sistem diungkapkan oleh Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti dan Utusan Presiden Republik Indonesia untuk MDGs Nila Moeloek pada keterangan pers disela konferensi Asia Pacific Development Summit, di Jakarta, Senin (3/9). Wamenkes mengatakan terdapat anomali pada pelaksanaan di lapangan kendati sebetulnya konsepnya sudah bagus. Dia mencontohkan, pemerintah telah mengeluarkan program Jaminan Persalinan (Jampersal) gratis bagi orang miskin. Tujuannya agar angka kematian ibu bisa ditekan lantaran mayoritas kematian ibu hamil akibat persalinan tidak dilakukan dengan tenaga medis. Kendati Jampersal telah digulirkan, hasil riset Kemenkes menyebutkan 40% persalinan di negara kita saat ini masih dilakukan di rumah, bukan di sarana klinik bidan atau rumah sakit. Hal ini jelas beresiko. Pasalnya jika didapati kasus persalinan dengan penyulit, maka risiko kematian bagi ibu hamil bersangkutan sangat tinggi. "Kita tidak tahu ini fenomena apa. Apa karena masalah jarak atau apa? Padahal persalinan sudah digratiskan," tutur Ghufron. Data juga menunjukan tingkat kematian ibu yang tinggi tidak terjadi di wilayah terpencil dengan kontur geografis yang rumit. Angka kematian ibu tertinggi justru terjadi di Jawa Barat, Jawa Timur, Banten dan Jateng yang notabene memiliki fasilitas dan infrastruktur yang cukup baik dibanding daerah luar Pulau Jawa. Sementara itu Nila menyoroti soal kemitraan swasta dan pemerintah dalam mencapai yang belum tersinkronisasi. Dia mencontohkan soal CSR yang diterapkan oleh swasta. Menurut Nila, swasta cenderung memilih program CSR yang kesinambungannya tidak jelas. Misalnya, kata Nila, pengobatan gratis. Harusnya CSR swasta itu juga fokus pada hal-hal yang membawa dampak berkelanjutan bagi warga sekitar. Belum adanya sinergi antarswasta dan pemerintah diakui oleh Ghufron. Ia menyebutkan jumlah tempat tidur yang dimiliki rumah sakit pada saat ini sebenarnya sudah cukup bagi masyarakat. Sayangnya distribusi rumah sakit tidak merata. Investor, kata Wamenkes memilih terus membangun rumah sakit di kota. Padahal, kapasitas di kota sudah penuh. (Tlc/OL-9) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
