Kartosuwiryo bukanlah pahlawan, juga bukan pemberontak, tapi cuma sekelas dengan gerombolan perampok yang beroperasi antara Puncak dan Sukabumi. Jadi enggak ada hal2 yang luar biasa yang menarik untuk diungkapkan. Jualan buku Kartosuwiryo dengan cara akal2an dimana iklannya dimuat sebagai berita dimajalah secara gratis begini, harusnya ditolak oleh majalah tsb. Tapi kalo ada kerja sama dengan majalahnya sendiri, maka harusnya dicurigai bahwa hal ini merupakan upaya pengumpulan dana oleh organisasi gerakan2 terorist jihad Islam dan simpatisannya.
Kartosuwiryo hanyalah pecundang zaman revolusi sewaktu RI baru merdeka, oleh Sukarno hampir semua bekas2 pejuang diangkat menjadi pejabat2 negara, namun Kartosuwiryo yang memang tidak pernah terlibat dalam perjuangan tidak mendapatkan posisi yang di-idam2kannya sehingga dia merasa sakit hati kepada Bung Karno kemudian dia melarikan diri ke pesantren di Jawa Barat milik mertuanya dan dari sanalah dia mulai melakukan kegiatannya sebagai perampok membentuk gerombolan perampok bersenjata yang mengganggu keamanan perjalanan Jakarta, puncak, dan Sukabumi. Maksudnya memang mau membentuk gerakan pemberontakan, tapi apa daya, dia tidak punya pengalaman perang, tidak mengerti cara2 membentuk pasukan gerilya, sehingga ujud perjuangannya hanya berbentuk gerombolan perampok biasa. Kartosuwiryo sendiri bukanlah seorang yang religious, dia baru belajar mengenai Islam ber-sama2 Bung Karno sebagai murid HOS Cokroaminoto dan Haji Agus Salim. Bedanya dengan Bung Karno, Sukarno aktif dalam gerakan2 politik dan perjuangan bersenjata, sementara itu sebaliknya dengan Kartosuwiryo yang rajin belajar, rajin baca buku, selalu sibuk cari beasiswa sekolah ke Belanda. Kartosuwiryo pernah kulia di Fakultas Kedokteran di Surabaya tapi kemudian dia drop out. Akhirnya Kartosuwiryo berhasil mendapatkan beasiswa belajar ke Fakultas Hukum di Universitas Amsterdam di Belanda bersama Sutan Syahrir. Tapi dia tidak beruntung, Kartosuwiryo gagal sekolahnya dan pulang tanpa gelar, sebaliknya sutan Syahrir mendapat gelar MR bidang hukum pada 1931, setelah bergabung melalui perjuangan kemerdekaan, sewaktu Sukarno memproklamasikan kemerdekaan dan mengangkat teman2 seperjuangannya menjadi pejabat2 negeri baru ini, termasuk mengangkat Sutan Syahrir menjadi perdana menteri, namun Kartosuwiryo tidak mendapatkan porsi apa2. Kartosuwiryo sakit hati, dia lari ke pesantren mertuanya di Jawa Barat untuk mempelajari memperdalam agama Islam disini yang selanjutnya melakukan pemberontakan. Kabarnya, Sukarno pernah menawarkan dia jadi lurah disuatu wilayah di Jawa Barat, tapi dia menolaknya. Memang kemungkinan besar Kartosuwiryo ini bukanlah manusia yang cukup cerdas untuk berhasil di suatu bidang keahliannya, hidupnya cuma tercatat dengan lembaran kegagalan satu dan kegagalan lainnya. Kalo saja dia cerdas, mungkin dia bisa berhasil jadi pemberontak besar bahkan bisa mendirikan negara sendiri. Sayang pengalamannya tidak ada baik pengalaman politik maupun pengalaman dibidang ketentaraan. Kehidupannya yang hanya belajar, sekolah dan baca buku pun ternyata tidak membawa karir dan prestasi yang bisa dibanggakan. Dia kemungkinan besar frustasi, ada kabar yang menyatakan bahwa dirinya jadi terjerumus pemberontakan DII/TII ini bukanlah atas kemauan atau idenya sendiri. Banyak yang menceritakan bahwa Kartosuwiryo dipengaruhi mertuanya, bahwa mertuanyalah yang punya ambisi menjadi pemimpin negara dengan memperalat Kartosuwiryo yang pandai bahasa Belanda dan berpendidikan tinggi. Tapi semua itu bukan lagi menjadi berita penting, Kartosuwiryo hanyalah gerombolan perampok bersenjata yang menjadi buronan polisi dan pemerintah yang akhirnya tertangkap dan dihukum mati tanpa ada yang tertarik kepada riwayat hidupnya yang memang tidak ada yang terlalu menonjol selain perkawinannya dengan wanita yang merupakan anak pemimpin sebuah pesantren terkenal di Jawa Barat. > GELORA45 <SADAR@...> wrote: > buku Fadli Zon 'Hari Terakhir > Kartosoewirjo' yang akan > diluncurkan pada Rabu (5/9/2012) > di TIM, Cikini, Jakarta Pusat > Mengungkap Kematian Kartosoewirjo > Lewat 81 foto proses eksekusi > Kartosowirjo yang didapatkan Fadli, > terdapat keterangan di foto itu, > Kartosoewirjo dikuburkan di Pulau > Ubi di kawasan Pulau Seribu. > Makamnya itu ditandai oleh sebuah > pohon. Kartosuwiryo itu khan resmi sudah dihukum mati secara jelas, tegas dan ada berita lengkapnya disemua surat2 kabar di Indonesia waktu itu, lalu apanya yang mau diungkapkan lagi ??? Tulisan begini sengaja dimasukan jadi berita majalah se-mata2 sebagai iklan gratis karena tujuannya cuma mau jual bukunya saja dalam mengumpulkan dana. Kartosuwiryo itu bukanlah orang penting, bukan pemberontak yang terkenal tapi pecundang yang tidak perlu terlalu banyak diberitakan, dia bukan pahlawan, tapi termasuk pengkhianat tolol tidak mengerti pengorganisasian sebuah negara. Kartosuwiryo bukan elemen sejarah RI. Sukarno sendiri cuma menamakannya sebagai "krikil2 revolusi." Sukarno enggak pernah membahas atau menyebut langsung nama pemberontakan Kartosuwiryo ini sebagai ancaman besar bagi republik ini. Jadi Kartosuwiryo sudah jelas dihukum mati, tak ada yang perlu diungkapkan, dan buku Fadli Zon ini cuma berisi foto2 dan saat menjalankan protokol standard hukuman mati yang berlaku di Indonesia. Selain bertujuan menjual buku, juga ada tujuan terselubung lain, yaitu kembali menggugah semangat terorisme yang ditanam oleh Kartosuwiryo untuk menegakkan Syariah Islam di Indonesia dibawah pimpinan keturunan atau pengikut Kartosuwiro seperti si Fadli Zon ini. > Wal Suparmo <wal.suparmo@...> wrote: > Jaksa Militer dalam kasus Kartosuwirjo > adalah Mayor ANWAR BEY, yg juga harus > menyaksikan eksekusi matinya. Semasa anak2, saya pernah tinggal diwilayah Sukabumi dan Puncak, disanalah operasi gerombolan Kartosuwiryo waktu itu. Dizaman itu, Kartosuwiryo tidak pernah disebut sebagai pemberontak, dan memang, apa yang dilakukannya bukanlah pemberontakan melainkan hanya perampokan2 terhadap masyarakat di-kampung2 sekitarnya. Meskipun, ada kelompok2 tertentu yang menamakan Kartosuwiryo sebagai pemberontak DI/TII, tapi kalo kita lihat langsung praktek kegiatan Kartosuwiryo sama sekali tidak sama dengan pemberontakan karena bermodal beberapa bedil kerjanya cuma merampok wilayah2 sekitar situ saja, misalnya merampok haji yang kaya, merampok truk yang lewat puncak, kemudian barang2 rampokannya diangkut ke-hutan2. Beda dengan pemberontakan yang tidak mungkin akan hanya menetap disatu tempat saja yang sama di-situ2 juga, pemberontakan itu selalu pindah2 sambil merekrut masyarakat untuk dijadikan anggautanya. Oleh karena itu oleh masyarakat dan pemerintah RI waktu itu, bukan disebut pemberontakan Kartosuwiryo, justru lebih terkenal dengan sebutan GEROMBOLAN KARTOSUWIRYO yang memang ditakuti oleh penduduk disekitarnya. Inilah ciri2 yang membedakannya, karena kalo pemberontakan selalu mencari simpati penduduknya agar penduduk mensuppy makanan dalam mencapai perjuangan dari pemberontakan tsb. Bahwa gerakan mendirikan negara Syariah Islam di Indonesia yang paling menjadi perhatian Bung Karno itu justru Partai Islam terbesar di Indonesia yaitu MASYUMI. Tapi gerombolan Kartosuwiryo ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Masyumi, padahal Masyumi sudah dibubarkan jauh hari sebelum Kartosuwiryo sendiri tertangkap. Padahal kalo memang Kartosuwiryo waktu itu ada kaitannya dengan Masyumi, maka tidak mungkin gampang ditangkap karena Masyumi merupakan partai politik besar waktu itu. Ny. Muslim binti Muskitawati. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
