Mang gila neh sby yg pimpin, smua jadi pada mahal Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message----- From: item abu <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 5 Sep 2012 04:40:17 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [proletar] Pemerintah Gagal Lindungi Sektor Pangan Tingginya harga makanan itu nunjukin orang Indonesia udah makmur. Ini logika dari seorang super dungu yg tinggal di Sidney yg jadi anjing buduk piaraan orang Islam. >________________________________ > From: Sunny <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Tuesday, September 4, 2012 10:00 PM >Subject: [proletar] Pemerintah Gagal Lindungi Sektor Pangan > > > >Ref: Tak Tak usah khawatir, sekalipun pemerintah gagal melindungi sektor >pangan, tetapi mereka [para penguasa negara] bersama konco kaum elit tidak >gagal melindungi dan menperbanyak harta mereka. > >http://www.shnews.co/detile-7284-pemerintah-gagal-lindungi-sektor-pangan-.html > >Pemerintah Gagal Lindungi Sektor Pangan >CR-27 | Selasa, 04 September 2012 - 15:37:42 WIB > >: 48 > >(SH/Septiawan) >Harga gula naik 18 persen. > >JAKARTA – Kenaikan harga sembako di dalam negeri mencatat lompatan kenaikan >yang menghawatirkan. > >Beberapa komoditas naik di atas 10 persen dalam satu tahun terakhir. Kenaikan >tertinggi terjadi pada gula pasir 18 persen; kedelai impor 10,24 persen; >daging sapi 10,33 persen, dan cabai merah keriting 10,92 persen. Pemerintah >dinilai gagal menjaga ketahanan pangan dalam negeri. > >Pengamat ekonomi pertanian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) >Latif Adam menilai pemerintah selama bertahun-tahun mengabaikan sektor >pertanian dan nasib petani. > >“Jika Jepang mengenakan bea masuk impor beras delapan kali lipat untuk >melindungi petani, dan India menolak draf kerja sama yang merugikan petani, >Indonesia seharusnya juga begitu,” ujarnya, Selasa (4/9). > >Sayangnya, peranti proteksi dengan menaikkan bea masuk impor bahan mentah >pertanian ini beberapa sudah tergerus bea masuk AFTA dan CAFTA. > >“Padahal, ini justru makin memiskinkan petani dengan kebijakan impor pangan >yang longgar dan masih ditambah lagi anggaran sektor pertanian yang minim,“ ia >menjelaskan. > >Namun, Latif mengakui selama dua tahun terakhir, khusus untuk beras, harga >pembelian pemerintah (HPP) ke petani cukup tinggi. > >Ketua DPP Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) >Nellys Sukidi mengatakan, tren kenaikan harga beras 2012 mengulang pada tahun >sebelumnya, dengan level kenaikan yang tidak jauh berbeda. Ia mengatakan perlu >memberi apresiasi kepada Bulog dan Kementerian Pertanian atas kesigapannya >dalam berkoordinasi menyerap produksi on farm. > >Peran Bulog di 2012 cukup banyak mengimbangi ekspansi para pedagang besar >beras. Dengan demikian, harga terkontrol dan eskalasi kenaikan harga tidak >melejit pesat. Selain itu, dari sisi on farm memang produksi ada terus-menerus >atau simultan. Bahkan, produksi panen gadu tahun ini lebih baik dibanding >tahun lalu. > >Gula Tak Wajar > >Namun, untuk gula, kenaikannya tak wajar sejak dua tahun lalu. Di sejumlah >daerah, kenaikan mencapai Rp 14.000 per kilogram (kg). Wakil Sekjen Gabungan >Perusahaan Perkebunan Indonesia Colosewoko mengatakan, harga gula di Indonesia >sangat kontraproduktif dengan kondisi pasar internasional yang mencatat >penurunan harga 18,42 persen mengacu pada harga di September 2011 yang sebesar >US$ 784. > >Padahal, kondisi perkebunan gula di dalam negeri justru membaik tahun ini >kendati harga sulit untuk diturunkan. Buffer stock tidak mungkin dilakukan >Bulog, kata dia, dengan membeli gula PTPN dengan harga ditekan murah, sebab >PTPN keberatan menjual dengan harga PSO. > >Untuk itu, perlu penugasan Bulog agar melakukan pembelian impor dengan kontrak >jangka panjang, agar tidak dipermainkan pasar internasional, dan tetap >mendapatkan harga riil yang stabil. > >Di dalam negeri, lanjut Colo, harga gula di pasar lelang tembus Rp 10.650 per >kg di PG Candi pada 31 Juli 2012 terpaut naik beberapa ratus rupiah dibanding >25 Juli 2012 di PG Kebon Agung Rp 10.165 per kg. > >Nellys Sukidi mengatakan, kondisi melejitnya harga gula di Indonesia >mengindikasikan salah urus kebijakan dan patut diwaspadai. Ini menunjukkan >tidak bertemunya keseimbangan pasar. Menurutnya, gula itu seharusnya ada >buffer stock di tangan pemerintah dalam hal ini Bulog, agar harga terkontrol. > >Hanya masalahnya dari produsennya, yakni PTPN, harga gula sudah terlalu tinggi >dan tidak mungkin PTPN menjual murah ke Bulog. ‘’Seharusnya ada kesepakatan, >kami boleh beri harga gula tinggi, tapi yang diuntungkan siapa. Sekarang, >konsumen dirugikan. Murah mahal bukan masalah nilainya, tapi harus dicapai >titik keseimbangannya, tutur Nellys. > >Wakil Ketua Kadin Bidang Perdagangan dan Distribusi Kadin Indonesia Natsir >Mansyur menjelaskan, kondisi pasar gula di dalam negeri sudah sangat tidak >wajar sejak dua tahun lalu. Di mana terjadi kenaikan harga yang melebihi 10 >persen. Jika tahun ini kembali terjadi rally sampai 18 persen, pemerintah >seharusnya segera membereskan ketidakwajaran pasar gula di dalam negeri ini. > >''Proteksi petani tebu dan pabrik gula memang harus. Tapi bukan begini >ceritanya, harga terus naik seenak perutnya sendiri. Tahun ini 18 persen naik, >tahun depan mau naik double digit. Ini sudah keterlaluan,” tutur Natsir. > >Karenanya, kata dia, pemerintah harus duduk dengan semua pemangku kepentingan >pergulaan untuk membahas persoalan ini. > >Semenatara itu, untuk daging sapi, kondisi kenaikan memang masih dianggap >perlu karena perbaikan di sisi on farm sedang dilakukan, dan sektor ini butuh >proteksi. Sementara untuk kedelai, pemerintah juga harus membereskan dari >mulai on farm hingga kartel impornya. > >Pengamat ekonomi dari Econit, Handrini Saparini, mengatakan, masalah pangan >ini adalah strategis. “Masalah neraca pangan seperti neraca beras, gula, dan >daging harus menjadi perhatian pula. Selama ini neraca masih simpang siur, >sehingga menimbulkan kebijakan yang timpang. Neraca beras, misalnya, hingga >tahun sekarang masih belum diputuskan Badan Ketahanan Pangan (BKP) dan >Kementerian Pertanian mengenai neraca beras. Begitu juga neraca gula. Jika >neraca yaitu ketersediaan dalam negeri dan angka kebutuhan nasional sudah >diketahui pasti, kebijakannya adalah perlu atau tidaknya impor dan berapa >jumlahnya akan bisa diputuskan,” ucapnya. > >Kedelai Naik > >Sementara itu, untuk harga kedelai, berdasarkan pantauan SH, di Pasar Kramat >Jati, Jakarta, harga naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.000 per kg. Namun, >stoknya minim. Sejumlah pedagang sembako di pasar tersebut mengaku kesulitan >mencari kedelai di agen. > >"Setahu saya harganya naik. Tapi saya sebulan terakhir sudah nggak jual >kedelai lagi, soalnya nyari barangnya juga susah di agen," ujar salah seorang >pedagang sembako, Bambang. Ia mengaku terakhir kali menjual sembako dengan >harga Rp 8.000 per kg. > >Namun, kini Bambang terpaksa tidak menjual kedelai karena ia sulit mencari >komoditas tersebut. "Lagi pula harganya naik. Saya takutnya harga belum >stabil, naik-turun. Untuk saat ini saya nggak mau ambil risiko dulu," >tuturnya. > >Pedagang sembako lainnya, Erni, mengakui saat ini harga kedelai mencapai Rp >10.000 per kg. "Saya sih nggak tahu kenapa. Tapi ya saya tinggal ngikutin >harga dari atasnya begitu. Kalau nggak ngikutin ya nggak untung," ucap Erni. > >Di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, salah satu pedagang sembako yang menjual >kedelai, Iskandar, mengatakan kenaikan harga kedelai mulai terjadi setelah >Lebaran. "Saat Ramadan, harga kedelai sekitar Rp 9.000 per kg, namun setelah >Lebaran hingga kini harga kedelai naik menjadi Rp 10.000 per kg," ucapnya. > >Menurut pakar ekonomi dari Universitas Indonesia, Sulastri Surono, kenaikan >komoditas yang mencapai 10 persen dalam setahun terakhir patut diwaspadai, >karena bisa masuk ke indikasi ketidakwajaran pasar. Khususnya jika komoditas >tersebut berbasis produksi dalam negeri. > >Kenaikan yang melebihi 10 persen mengindikasikan terjadinya proteksi terhadap >pasar domestik ataupun berlangsungnya dominasi pasar oleh kartel. Namun, jika >ini mengindikasikan proteksi pasar domestik, harus terukur apakah sektor yang >diproteksi ini mencetak kemajuan di on farm ataukah di industrinya. (Jenda >Munthe/Toar S Purukan) > >Sumber : Sinar Harapan > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
