http://www.harianbatampos.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=15135&PHPSESSID=cfc019e8fa66eb11bed9b7c7f6c0cdec



Dua Kali Interogasi Amrozi cs
Oleh redaksi
Rabu, 05-Oktober-2005, 08:25:3662 


Dugaan bahwa salah seorang pelaku bom Bali II berasal dari Jatim terus didalami 
polisi. Antara lain, dengan menginterogasi pelaku bom Bali 1 Amrozi cs yang 
kini mendekam di Lapas Kerobokan, Bali. 


DENPASAR - Amrozi maupun kakaknya, Ali Gufron alias Mukhlas, berasal dari 
Tenggulun, Lamongan, Jatim. Sedangkan Abdul Aziz alias Imam Samudera berasal 
dari Banten. Meski selama ini berada di tahanan, ada kemungkinan bahwa mereka 
juga mengetahui para pelaku. 

Beberapa sumber di kepolisian maupun di lembaga pemasyarakatan mengatakan, 
pengorekan keterangan Amrozi cs tersebut sebenarnya sudah dilakukan sejak hari 
kedua pasca ledakan yang menewaskan 22 orang pada Ahad, 2 Oktober 2005. Ketika 
itu, polisi telah mengidentifikasi potongan kepala dan tubuh yang diduga jasad 
pelaku serta ciri-ciri fisiknya. 

Munculnya dugaan bahwa salah seorang pelaku berasal dari Jatim berdasar 
keterangan beberapa saksi mata. Mereka melihat dua orang di Kafe Nyoman yang 
berbicara dengan logat Jawa Timuran. Gerak geriknya mencurigakan. Setelah itu, 
mereka berpencar. Tak lama kemudian, terjadilah ledakan. 

Untuk mengecek informasi tersebut, kemarin, beberapa anggota Satgas Bom Bali 
kembali mendatangi Lapas Kerobokan yang kini dijaga ketat oleh sedikitnya 15 
anggota kepolisian. Mereka naik Toyota Avanza warna silver. 

Wartawan JPNN dan beberapa wartawan lain yang kebetulan sedang memantau lapas 
memergoki mereka. 
Mereka sempat menyita ID Card dan KTP seorang kamerawan yang mengambil 
gambarnya. "Saya ini anggota, yang gambar saya tidak boleh muncul di media. 
Anda harus tahu itu. Ayo, gambarnya tadi cepat dihapus. Ini keperluan 
penyelidikan dan penyidikan, biar tidak menghambat dan menyusahkan saya," 
katanya dengan mimik serius. 

Lantas, apa hasil interogasi terhadap Amrozi cs itu? Sumber di kepolisian 
maupun di lapas mengatakan, sejauh ini belum banyak membuahkan hasil. Sebab, 
Amrozi cs mengaku tidak mengenali wajah dari potongan kepala tiga pria yang 
diduga pelaku bom bunuh diri itu. 

"Gambar potongan kepala itu sudah diperlihatkan kepada mereka (Amrozi cs). 
Tapi, mereka mengaku tidak mengenali. Ketika didesak, mereka tetap ngotot tidak 
tahu. Bahkan, ketika dikatakan kemungkinan salah seorang komplotan pelaku dari 
Jatim, mereka tetap menjawab tidak tahu," paparnya. Polisi juga berencana 
mengeler mereka untuk mengendus jejak-jejak komplotan bom bunuh diri yang 
meluluhlantakkan Kafe Menega, Kafe Nyoman, dan Restoran Raja. 

Sebab, melihat kronologi dan modus peledakan pada Sabtu malam itu, polisi 
meyakini bahwa sosok dua warga Malaysia, Azhari Husin dan Noordin Mohd Top, 
berada di belakangnya. Dengan demikian, sangat mungkin Amrozi cs mengenali 
komplotan tersebut. 

Barang Bukti Bertambah 
Dugaan tiga bom bunuh diri itu diotaki Azhari dan Noordin memang semakin jelas. 
Barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) kemarin semakin 
menunjukkan adanya persamaan dengan peristiwa lain yang didalangi dua warga 
Malaysia tersebut. 

Peristiwa bom itu ialah di Sari Club dan Paddy's Café pada 12 Oktober 2002 yang 
dilakukan Iqbal, bom Hotel JW Marriott, Jakarta, pada 5 Agustus 2003, yang 
dilakukan Asmar Latin Sani, dan bom di depan Kedubes Australia 9 September 2004 
lalu yang dilakukan Heri Golun. 

Menurut Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Soenarko dalam jumpa 
pers di Hotel Inna Beach, Kuta, kemarin, barang bukti tersebut sudah mendukung 
analisis tentang materi bahan bom. Di Kafe Menega yang kali pertama meledak, 
ditemukan gotri, baterai 9 volt, serpihan detonator, serpihan kabel warna biru, 
ungu, dan hijau, serta serpihan kain jenis jins dan tas warna hitam. 

Di Kafe Nyoman, ditemukan gotri, baterai 9 volt, serpihan detonator, kain 
sejenis jins dan serpihan kabel warna merah, putih, dan biru. Sementara di 
Restoran Raja ditemukan gotri, baterai 9 volt, detonator, serpihan kabel warna 
biru, dan sepatu sandal. 

Dengan ditemukannya detonator dan baterai, hampir bisa dipastikan bom meledak 
setelah dipicu. Namun, siapa yang melakukannya, polisi masih belum memperoleh 
kesimpulan. Bisa jadi, pembawa bom sendiri atau orang lain. Alatnya pun bisa 
remote control atau telepon genggam. 

"Beberapa jenis barang bukti tersebut kita analisis. Apakah ada keterkaitan 
dengan peristiwa pengeboman sebelumnya. Ini terkait record atau data," kata 
Soenarko. 

Soenarko belum berani memastikan apakah dengan barang bukti yang mirip dengan 
barang bukti pengeboman sebelumnya itu langsung bisa dikatakan bahwa pengeboman 
kali ini didalangi orang yang sama, yakni Azhari dan Noordin. 

Untuk mengungkap kasus tersebut, polisi juga sudah memeriksa 39 orang. Berarti, 
bertambah 21 saksi dari sebelumnya yang hanya 18 orang. "Sampai sekarang, kita 
hanya memintai keterangan saksi. Belum ada penangkapan terhadap orang yang 
dicurigai," katanya. 

Kapolda Bali Irjen Pol Made Mangku Pastika juga menolak informasi bahwa anak 
buahnya telah menangkap dua orang di perumahan di Jl Anggrek, Denpasar. ''Belum 
ada laporan,'' tegasnya di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, setelah mengantar 
kepulangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Jakarta. 

Menurut informasi, polisi memang telah mengobok-obok sejumlah rumah kos di Jl 
Anggrek, Denpasar. Bahkan, polisi telah dua kali mendatangi kawasan Jl Anggrek. 
Pertama Sabtu, sejam setelah bom Bali II meledak. Kedua, kemarin itu. 

Diperkirakan, para pelaku menyewa kos di kawasan tersebut. Mereka berangkat 
menuju lokasi ledakan dengan menumpang mobil Toyota Kijang dan Suzuki Karimun. 
Kini, polisi juga sedang mencari mobil yang dicurigai tersebut. 

Menurut I Gusti Ngurah Raden Suardana, warga setempat, rombongan polisi yang 
datang pertama sekitar 40 orang berpakaian preman dan 6 polisi berseragam. 
Mereka menggunakan mobil polisi. "Polisi ke sini mencari mobil Toyota Kijang 
dan Karimun yang diduga dipakai pelaku,'' tambahnya. 

Pertama, polisi mencari rumah nomor 32. Namun, tidak ada rumah bernomor 
tersebut. Akhirnya, polisi mendatangi rumah nomor 23. Tapi, rumah itu bukan 
kos-kosan. Tetapi, rumah yang dikontrakkan. Setahun terakhir, pengontrak rumah 
itu adalah orang dari Flores. 

Polisi kemudian menuju rumah nomor 19. Rumah itu memang kos-kosan. Namun, tidak 
ada yang mengindikasikan bahwa pelaku pernah ngekos di tempat tersebut. Mobil 
Kijang dan Karimun juga tak ada. Meski kesempatan pertama tak membuahkan hasil, 
polisi tetap mencurigai kawasan itu. Senin (3/10) malam, sekitar lima petugas 
datang lagi. Mereka mewaspadai sekelilingnya. 

Menurut informasi, selain mencari mobil Karimun dan Kijang, polisi juga mencari 
suami-istri yang ikut mengantar para pelaku bom bunuh diri. (jpnn) 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke