Ref. Apakah tidak cukup apabila oknom-oknom penguasa dan kaum elit menjadi kaya 
dan tampak kaya raya? hehehe

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/09/14/74301/indonesia_semakin_tampak_tidak_kaya/#.UFZfl1GKjBo

      Jumat, 14 Sep 2012 00:03 WIB
      Indonesia Semakin Tampak Tidak Kaya 
      Oleh : Hendy Yang. 
      Indonesia seakan tidak tahu ‘isi’ bangsanya sampai negara lain mengklaim 
hal tersebut. Coba tilik Malaysia! Berapa kekayaan bangsa merah putih ini 
diraupnya? Motif parang batik Jawa Tengah, Angklung Jawa Barat, Jali-jali 
Betawi, Rasa Sayange Ambon, dan Reog Ponorogo merupakan korban klaim Malaysia.
      Tak hanya budaya, Rendang Padang dan Soto Betawi dikautkannya pula. 
Bahkan, lebih parahnya, tanah berserta rakyat Indonesia di perbatasan 
Kalimantan telah resmi berbendera Malaysia. Bayangkan saja, bagaimana perhatian 
Indonesia sampai-sampai rakyat beserta tanahnya bisa berbendera bangsa lain! 
Hal ini tentu saja tidak terlepas pada perlakuan negara ini pada bangsanya di 
wilayah perbatasan. Apabila hal ini merupakan tontonan televisi, kata-kata 
hinaan ‘tolol’, ‘bodoh’, dan sejenisnya pasti sudah tersemat pada pemerintah 
ini.

      Sialnya, Malaysia tidak sendiri. Tempe, jengkol, dan kunyit resmi menjadi 
milik Jepang. Anyaman rotan dan Sate Bumbu terasi tercatat menjadi kekayaan 
Singapura. Tahu telah masuk dalam buku makanan khas Thailand. Miris! Indonesia 
seakan kewalahan dengan kekayaan bangsa sendiri.

      Tak hanya soal klaim, pasar luar negeri juga semakin gencar menguasai 
pasar tanah air. Contoh saja, durian. Konon, pusat durian dunia adalah Pulau 
Kalimantan-salah satu pulau tanah air kita. Pulau tersebut penuh dengan durian 
beragam bentuk, ukuran, aroma, dan rasa. Lihat sekarang! Thailand berganti 
merajai pasar dunia. Bahkan, mal-mal Indonesia juga penuh dengan aneka ragam 
durian Thailand. 

      Kini, tidak hanya durian! Jeruk, pisang, apel, mangga, rambutan, jambu, 
pepaya, bahkan aneka sayur mayur pun datang dari berbagai negara-terutama 
Thailand dan China. Indonesia, salah satu negara pertanian terbesar dunia, 
harus bertekuk lutut di tanah air sendiri menghadapi gempuran produk pertanian 
lain! Tentu saja, sikap acuh pemerintah Indonesia menjadi penyebab utama. 

      Thailand, contohnya. Pada 1950an, Bhumibol Adulyadep, Raja Thailand, 
mengagas "Proyek Raja" untuk membangun pusat penelitian dan pengembangan 
buah-buahan tropis. Di Chanthaburi, wilayah Thailand, berdirilah bangunan 
penelitian lengkap dengan kebun percobaan di tanah seluas 160.000 hektar. 

      Selanjutnya, sejumlah besar pakar buah Thailand diutus ke seluruh kawasan 
tropis dunia (termasuk Indonesia) untuk mendata berbagai buah tropis sambil 
mengumpulkan bibitnya. Mereka juga berkunjung ke Eropa dan AS untuk belajar 
teknik-teknik penanganan buah pasca panen hingga dapat dikirim ke seluruh 
dunia. Jadilah Chanthaburi menjadi pusat pengembangan buah tropis terbesar di 
dunia hingga Thailand menjadi penguasa pasar dunia buah-buahan tropis. 

      Pada 1988, ekspor buah tropis Indonesia merangkak ke besar 6,4 miliar 
sedangkan ekspor buah tropis Thailand meroket ke angka 620 miliar rupiah. 
Bayangkan, 620 miliar rupiah terbahak jaya melirik ke Indonesia dengan 6,4 
miliarnya!

      Tak hanya soal pangan, Dhanang Sasongko, pakar mainan edukatif, 
menyatakan bahwa pasar mainan China berkuasa di tanah Indonesia. Bayangkan, 
kurang kayu atau kurang pengukir Indonesiakah sehingga mainan China yang 
mayoritas hanya semacam mobil-mobilan mampu berjaya di Indonesia? Belum lagi 
kita mengintip negara asal pakaian, alat elektronik, dan sebagai di Indonesia. 
Seandainya para pahlawan masih hidup, mereka mungkin akan elus dada menyaksikan 
kondisi bangsa ini.

      Indonesia semakin miskin di tanah sendiri. Budaya, kekayaan lain, bahkan 
tanah serta rakyatnya semakin sedikit karena klaim bangsa lain. Pasar sendiri 
penuh dengan barang-barang dari negara lain. 

      Saya ingat, dahulu kala, tersiar sebuah iklan klip kartun. Klip tersebut 
mempertunjukkan Gatot Kaca bertanding dengan Superman di bumi Indonesia. Karena 
iklan Indonesia, kalahlah sang Mister Super dan harus tunduk menyingkir sambil 
mengakui kesaktian Ndoro Gatot. Setelah itu, ajakan mencintai produk Indonesia 
muncul.

      Ya, iklan tinggal iklan. Kenyataannya, Supermanlah selalu muncul sebagai 
sang pemenang. Supermanlah simbol dunia modern, bukan Gatot Kaca! 
Superman-superman lain terus bermunculan seperti Batman, Spiderman, Hulk, dan 
sebagainya. Semuanya berkostum ketat khas tonjol otot serta ‘kolor di luar’ ala 
Superman. Tak ada pahlawan dengan corak khas seperti Gatot Kaca, Ketut, dan 
sebagainya.

      Tak ada usaha pemerintah mendorong agar pembuatan film atau komik Gatot 
Kaca untuk mengalahkan Superman di pasaran. Upaya pemerintah pun tidak ada 
hingga ‘Gatot Kaca’ lain seperti pertanian, mainan, sayuran, tekstil, dan 
sebagainya harus berganti bendera maupun takluk di negara sendiri. Tidak ada 
jalan lain, pemerintah harus sigap mengembalikan kembali kejayaan Indonesia dan 
segala kekayaannya. Jayakanlah kembali kekayaan Indonesia dan segenap limpah 
ruahnya!***
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke