http://www.suarapembaruan.com/nasional/gereja-berperan-tuntaskan-buta-aksara-di-kalteng/24750
Gereja Berperan Tuntaskan Buta Aksara di Kalteng
Selasa, 18 September 2012 | 9:37

 Ilustrasi gereja [google] [PALANGKA RAYA] Pemberantasan buta aksara di 
Kalimantan Tengah (Kalteng) lebih banyak memanfaatkan peran dari lembaga 
masyarakat khususnya gereja. Meskipun tidak tamat sekolah dasar (SD), para 
orangtua di Kalteng, sering membaca Alkitab atau menyanyi lagu di gereja, 
sehingga otomatis bisa membaca dan menulis.

“Itu kelebihan penuntasan buta aksara di Kalteng. Meski di pedalaman, mereka 
belajar aksara secara otodidak lewat gereja,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan 
Kebudayaan Kalteng, Guntur Talajan di Palangka Raya, Senin (17/9).

Menurutnya, putus sekolah menjadi salah satu tantangan dalam penuntasan buta 
aksara di Provinsi Kalteng. Siswa yang putus sekolah tidak lagi terbiasa dengan 
aktivitas membaca dan menulis, sehingga bisa kesulitan memahami aksara dengan 
baik.

Disebutkan, buta aksara di Kalteng banyak dialami oleh siswa yang tidak lulus 
pendidikan formal. Dia mengakui siswa yang putus sekolah berpotensi menjadi 
buta aksara baru apabila tidak tertangani program pemberantasan buta aksara.

“Anggota atau peserta pendidikan aksara biasanya siswa yang tidak lulus 
pendidikan formal. Mereka ada yang lulus SD kemudian tidak melanjutkan ke SMP, 
karena cepat kawin, atau dari SMP tidak ke SMA karena mau kawin,” kata Guntur.

Dikatakan, angka putus sekolah di Provinsi Kalteng tahun 2012 sebenarnya sudah 
cukup menggembirakan. Prosentase buta aksara usia dewasa (15-59 tahun) di 
Kalteng saat ini hanya tinggal 2,5 persen atau 35.526. Angka itu sudah jauh di 
atas rata-rata nasional sebesar 5,03 persen. Karena itu, Provinsi Kalteng 
berada pada urutan ketujuh provinsi dengan angka buta aksara paling kecil di 
Indonesia.

Menurut Guntur, kondisi penyebaran penduduk yang tidak merata serta kondisi 
geografis yang cukup luas dan sulit adalah tantangan tersendiri dalam 
pemberantasan buta aksara. “Kalteng terdiri dari daerah pedesaan, pinggir atau 
hulu-hulu sungai, itu faktor geografis yang menyulitkan akses pendidikan,” 
ujarnya.

Dia menuturkan strategi pemberantasan buta aksara di Kalteng terintegrasi 
dengan program “Kalteng Harati” (bahasa Dayak) artinya “Kalteng Cerdas”. 
Penyandang buta aksara di Kalteng juga banyak berasal dari warga pendatang 
terutama dari Banjarmasin. Karena itu, pemerintah memanfaatkan peran Pusat 
Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang kebanyakan membina warga pendatang. 

Dalam seremoni Hari Aksara Internasional (HAI) 2012 di Palangka Raya, Minggu 
(16/9), PKBM Luthfillah dari Kalteng berhasil menjadi pemenang pertama PKBM 
berprestasi. [C-5]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke